Latest Post
01.39
Sang Pengembara
Written By tonitok on Kamis, 01 Maret 2012 | 01.39
Cerpen: Antoni
CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang, menyergapku dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke pelaminan.
Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis mendung menggantung.
"Ini pernikahan resmi kan, Ma?" tanyaku kepada ibu mertuaku, setelah semua tamu pulang.
"Resmi…!" Alis matanya agak menaik. "Ada naib dan petugas KUA. Sah
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?"
"Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…," jawabku. Aku memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham.
Kami pun kembali terdiam. Ibu mertuaku asyik memisah-misahkan jepitan rambut yang tadi dipakai istriku. Ada yang besar ada yang kecil, dipisahkan satu dengan lainnya. Lalu disimpan di kotak kecil-kecil. Sambil menyulut rokok, aku sandarkan punggung ke tiang kayu penyangga rumah limasan ini. Tidak ada penutup atap. Gentingnya terlihat dari bawah. Lonjoran-lonjoran bambu tampak jelas.
Aku tercenung sejenak. Teringat mendiang ibuku yang meninggal November tahun lalu. Seandainya masih hidup, tentu ia bahagia sekali menyaksikan pernikahanku. Wasiat terakhir untukku hanya satu: ia ingin melihatku bahagia.
Rambutku terasa sedikit naik. Angin bukit batu yang kering, bersirobok masuk dari pintu depan. "Aku mengalami kebahagiaan hanya pada saat berdoa saja, Bu…," gumamku dalam batin.
Pernikahan, terus terang, memang membuatku bahagia. Meski perhelatannya berlangsung sangat sederhana. Pernikahan memaksaku berhenti mengembara. Puluhan tahun aku melintasi jalanan sepi dan gelap, berteman rindu dan harapan. Kakiku melangkah tanpa kepastian. Akhirnya aku dihentikan oleh kekuatan yang tidak pernah aku pahami. Jodoh membuatku berhenti melangkah.
Sebagai pengembara, sungguh tak pernah aku mempelajari apa itu hakikat perkawinan, rumah tangga bahagia, keluarga sakinah dan sebangsanya. Jadilah aku manusia paling bodoh. Mengalami ketergagapan budaya dalam berumah tangga. Sebuah ritual tradisional yang dijalankan turun temurun oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Dan aku tidak mengenalinya sama sekali.
Dulu, aku merasa takut menghadapi pernikahan. Dalam bayanganku, semua keperluan rumah tangga harus dipersiapkan terlebih dahulu, seperti rumah, penghasilan tetap dan kendaraan. Sejak usia 18 tahun, sudah tiga kali aku membangun rumah, hanya untuk memahami elemen-elemen pernikahan itu. Rumah pertama, mungil tapi permanen, terpaksa aku jual karena pindah ke Surabaya. Dan calon istriku pergi jadi pramugari. Terbang, selamanya.
Rumah kedua, sebetulnya aku tidak begitu berminat membangunnya untuk tujuan berumah tangga, meski pacarku cintanya tak terbatas untukku. Kubangun di pinggir jalan besar, di sebuah desa yang tenang. Aku tinggal di situ setahun lamanya, sambil menyelesaikan buku keduaku tentang meditasi. Aku jual lagi. Pacarku ke Singapura bekerja di sana.
Setelah itu, aku tidak membangun rumah lagi. Tapi membelinya. Di daerah sentra pariwisata di Jogja. Sebuah rumah joglo tua dan angker. Kubuat galeri
kecil, lumayan juga. Lukisan-lukisan karyaku sempat dibeli turis Belanda dan Belgia. Akhirnya, karena jenuh dan ada peristiwa bom Bali, aku memutuskan
mengembara lagi. Rumah itu kujual secara tergesa-gesa.
Kini, aku punya istri yang setia tapi tidak punya rumah. Dulu aku punya rumah tapi hidup sendiri tanpa istri. He..he…he, ironis kan? Sementara ini istriku tinggal bersama mamanya. Ia memang anak yatim yang didera penderitaan hidup berkepanjangan.
Aku letakkan puntung rokok terakhirku ke asbak. Ibu mertuaku ternyata sudah sejak tadi beranjak dari duduknya. Lamunanku tentang peristiwa pernikahan ini, membuatku tidak memahami lingkungan sekitarku. Aku pun beranjak, mencari istriku di bilik sebelah, bersekat tripleks.
Istriku cantik sekali. Tercantik di dunia. Ia tampak sedang sibuk memberesi pakaian pengantinnya, bedaknya dan segala tetek bengek perlengkapan gaun pengantin. Bau parfum Drakkar Noir dari Calvin Klein masih tertinggal, di ujung hidungku. Tadi, seusai resepsi, kucium dia di tengkuknya. Jadi aroma parfumnya ikut juga. Memang, itu parfum cowok. Tapi mau bagaimana lagi? Adanya cuma itu. Aku membelinya di drugstore Bandara Juanda, Surabaya dua tahun lalu, sepulang dari Makassar.
Aku cium lagi tengkuknya. Ia tersenyum manja. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. "Mau ngopi lagi, Mas?" tanyanya. Aku menggeleng, kudekap dia dari belakang, kemudian kita saling menempelkan pipi dan mematut-matut di depan cermin. Sepasang pengantin baru yang menikah diam-diam. Aku lihat matanya berbinar-binar. Ia bahagia.
Makna kebahagiaan bagiku hanyalah setetes warna yang lebih bersinar di antara warna-warna lain yang kusam. Setiap orang yang mampu meraih segala sesuatu yang diidam-idamkan, tentu merasa bahagia. Begitu pula aku. Seringkali aku merasa lelah mengembara dan ingin hidup layak seperti pada umumnya orang dengan menikah, berkeluarga, dan beranak pinak seperti yang disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim.
Dua minggu menjelang pernikahan, secara khusus memang aku memohon kepada kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan paling purba, sebelum bumi dan tata surya ini tercipta. Di bawah pohon tua berumur ratusan tahun, di atas bukit kecil yang lembab, tepat tengah malam dan purnama penuh di angkasa, aku sampaikan permohonan keramatku itu. "Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh istri dan sebuah keluarga," begitu doaku. Kun fayakun, terjadilah segala sesuatunya secepat kilat.
Pernikahanku juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya sudah lama, dua tahun silam di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota. Belum ada getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja, di pinggir lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras. Biasa saja, semuanya berlangsung biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang mengalun, dia mengatakan kepadaku setengah berbisik: "Kalau mau sama aku, harus serius…," katanya.
Langsung saja aku melamarnya malam itu juga. Ia pun mencium punggung tangan kananku. Resmilah kita mengikat janji. Sepuluh hari setelah malam "bertabur bintang" itu, terjadilah pernikahanku ini. Tanpa surat undangan dan wedding taart.
Perjalanan pernikahanku memang terkesan begitu indah. Tak ada cacat,
semua berjalan baik dan tenang. Ombaknya kecil, landai, dan bisa pasang layar sesuka hati. Langit biru tampak bersahabat di ujung cakrawala dan matahari bersinar ramah.
Kunikmati pernikahanku. Sedikit unik. Biasanya jok sebelah kemudiku selalu kosong. Paling, terisi dokumen pribadi dan beberapa bungkus rokok. Kini ada wanita cantik dengan rambut tergerai, tawa yang renyah dan sangat suka memakai aksen…gitu loh. "Liya gitu loh….," katanya menegaskan bahwa Liya beda dengan Lia.
Aku jadi mudah tertawa dibuatnya. Segala kata jadi berbunga-bunga, dan kita selalu mengurung diri di kamar berdua. Bercanda, berantem kecil-kecilan, saling merajuk dan tentu saja, bercinta.
"Aku pengin punya anak 9," kataku.
"Dua saja….Capek," jawabnya sambil menepuki perutnya.
Lalu kita berpelukan lagi. Seolah tidak ada cakrawala untuk luapan kegembiraan dan kebahagiaanku. Tidak ada yang membatasi. Tidak ada garis lurus yang memisahkan. Tidak seperti langit dan bumi yang dibelah di cakrawala. Segalanya serba los, bebas dan tak terbatas. Luar biasa. Aku selalu merindukan setiap menitnya.
Tawa ceria dan segala canda itu ternyata tidak berumur lama. Begitu cepat perginya. Sama cepatnya dengan proses pernikahanku. Kebahagiaan, agaknya, tidak pernah berpihak kepadaku. Segala sesuatunya berbalik 180 derajat. Sirna seketika. Berubah serba hitam. Galau. Gelap. Bergemuruh. Menghentak-hentak dan menyambar-nyambar. Setiap kata jadi bersayap-sayap. Salah paham muncul silih berganti. Kecemburuan, kecurigaan, dan pembicaraan-pembicaraan yang penuh teka-teki pun berebut mengganggu.
Salah ucap sedikit, menjelma jadi bara api. Berkilat-kilat. Aku sampai tidak sempat berdoa karena pikiranku tersita sepenuhnya untuk istriku. Kelakuannya berubah-ubah, sulit dipahami.
"Aku ingin sendiri," katanya pelan, tapi kurasakan seperti halilintar.
Menggelegar.
"Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Suro…harus serba hati-hati," kataku
mengingatkan.
"Hasyaahhhh….." Mukanya jadi cemberut dan bibirnya jadi tambah lancip.
Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah, kuakui, dia tetap saja menggemaskan.
Sambil menjentikkan abu rokok ke asbak, ia pun berargumentasi tentang pernak-pernik kegalauan perasaannya. Dari soal sepele sampai besar. "Aku tuh sukanya mobil-mobilan dan korek api, bukan bunga…Sabunku juga bukan yang itu, shamponya yang ini….." Mimik mukanya agak berkerut-kerut, ketika aku bawakan setangkai red rose yang dikemas plastik cantik.
Aku berusaha menyelami segala sesuatunya dengan hati-hati. Termasuk soal rumah, yang berkali-kali dilihat masih kurang cocok di hati. Kadang jengkel juga. Namun pernikahan tidak boleh terganggu dengan perasaan-perasaan yang tidak berguna seperti itu. Pernah aku berpikir kenapa harus begitu tergesa-gesa menikah?
"Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama ini. Jadi aku
memutuskan untuk cepat menikah," katanya ketika itu.
Argumentasinya itu membuatku merasa menemukan wanita yang sudah matang. Masa lalu yang carut marut memang harus diakhiri ketika pernikahan terjadi. Ketika baju pengantin dikenakan dan akad nikah ditandatangani, maka masa lalu berakhirlah di situ. Pernikahan adalah sebuah lembaran baru yang serba bersih, sehingga kita bisa menuliskan apa pun di sana sesuka hati, tanpa harus dihantui lembaran-lembaran hitam masa lalu. Kisahnya harus dibuat sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Ditata seperti mengatur sebuah taman bunga. Agar segalanya serba semerbak dan mewangi. Sampai akhirnya lembaran pamungkasnya ditutup sendiri oleh Sang Khaliq. Pemilik hak atas seluruh hukum kehidupan. Ah, lumayan juga teoriku ini.
"Hanya kematian yang bisa memisahkan sepasang pengantin," kataku kepadanya. Ia tercenung beberapa jurus. Matanya yang indah terdiam beberapa saat. Lalu bola matanya berubah jadi abu-abu. Ia pun meledak-ledak lagi. Ada bau parfum yang berbeda dari tubuhnya, ketika ia berdiri sambil bersungut-sungut. Aku terhenyak. Berangkat kantor tadi pagi, memang ia sudah terlihat kusut. Tapi aku tidak memikirkannya terlalu dalam. Sewaktu turun mobil, ia hampir lupa mencium tanganku.
"Aku suamimu bukan?" tanyaku pelan, sambil kusodorkan tangan kananku.
Ia pun menciumnya. "Nanti dijemput jam berapa?" tanyaku lagi.
"Jam empat sore. Mundur satu jam," jawabnya, sambil bergegas turun.
Prahara itu pun dimulai. Bau parfum yang berbeda sepulang kantor, menjadi puncak dari seluruh masalah yang bertumpuk. Padahal sepulang kantor tadi kami sempat melihat sekali lagi rumah yang akan kami tempati.
"Besok aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar jemput lagi," ujarnya sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku. Tampak jengkel.
Aku berharap keadaan itu hanya sementara saja. Seperti permasalahan-permasalahan kecil yang terjadi di hari-hari kemarin. Ternyata tidak. Besok-besoknya lagi, tetap sama. Terus-menerus begitu. Sehari dua hari. Seminggu dua minggu. Seluruh saluran komunikasi ditutup. Ia pun ganti nomor hand phone. Aku takut membayangkan kenyataan yang bisa membuatku bersedih.
"Ini hanya sementara…," katanya ketika aku nekat menemuinya, di siang yang terik. "Sementara…," itulah kata-kata yang aku jadikan pegangan. Meski berat dan dipenuhi ribuan teka-teki, aku berusaha meyakini janjinya itu.
Kehidupanku pun limbung. Aku kembali melangkah tanpa kepastian, tak ada teman selain rindu dan harapan. Keinginanku untuk menjalani kehidupan masa lalu kembali menggelegak lagi. Mengembara. Ya, mengembara. Akulah, pengembara itu!
Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan orang-orang yang hidup
sederhana di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di pinggir-pinggir pantai. Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku dengan tangan terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak mengkhianati. Aku merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di belakangku, mengikutiku berdoa.
"Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?" gumamku ketika aku datang lagi ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu.
Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete mengalun dari hand phoneku. Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku tidak mendengarnya. Ada SMS masuk, dadaku berdebar.
"Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen tho sama Jelek. Ke sini tak buatin kopi…..!" begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku.
Ah, ternyata itu SMS yang pending sejak empat minggu lalu. ***
CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang, menyergapku dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke pelaminan.
Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu, persis mendung menggantung.
"Ini pernikahan resmi kan, Ma?" tanyaku kepada ibu mertuaku, setelah semua tamu pulang.
"Resmi…!" Alis matanya agak menaik. "Ada naib dan petugas KUA. Sah
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?"
"Ya alhamdulillah, merasa bahagia saja…," jawabku. Aku memang seorang muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham.
Kami pun kembali terdiam. Ibu mertuaku asyik memisah-misahkan jepitan rambut yang tadi dipakai istriku. Ada yang besar ada yang kecil, dipisahkan satu dengan lainnya. Lalu disimpan di kotak kecil-kecil. Sambil menyulut rokok, aku sandarkan punggung ke tiang kayu penyangga rumah limasan ini. Tidak ada penutup atap. Gentingnya terlihat dari bawah. Lonjoran-lonjoran bambu tampak jelas.
Aku tercenung sejenak. Teringat mendiang ibuku yang meninggal November tahun lalu. Seandainya masih hidup, tentu ia bahagia sekali menyaksikan pernikahanku. Wasiat terakhir untukku hanya satu: ia ingin melihatku bahagia.
Rambutku terasa sedikit naik. Angin bukit batu yang kering, bersirobok masuk dari pintu depan. "Aku mengalami kebahagiaan hanya pada saat berdoa saja, Bu…," gumamku dalam batin.
Pernikahan, terus terang, memang membuatku bahagia. Meski perhelatannya berlangsung sangat sederhana. Pernikahan memaksaku berhenti mengembara. Puluhan tahun aku melintasi jalanan sepi dan gelap, berteman rindu dan harapan. Kakiku melangkah tanpa kepastian. Akhirnya aku dihentikan oleh kekuatan yang tidak pernah aku pahami. Jodoh membuatku berhenti melangkah.
Sebagai pengembara, sungguh tak pernah aku mempelajari apa itu hakikat perkawinan, rumah tangga bahagia, keluarga sakinah dan sebangsanya. Jadilah aku manusia paling bodoh. Mengalami ketergagapan budaya dalam berumah tangga. Sebuah ritual tradisional yang dijalankan turun temurun oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Dan aku tidak mengenalinya sama sekali.
Dulu, aku merasa takut menghadapi pernikahan. Dalam bayanganku, semua keperluan rumah tangga harus dipersiapkan terlebih dahulu, seperti rumah, penghasilan tetap dan kendaraan. Sejak usia 18 tahun, sudah tiga kali aku membangun rumah, hanya untuk memahami elemen-elemen pernikahan itu. Rumah pertama, mungil tapi permanen, terpaksa aku jual karena pindah ke Surabaya. Dan calon istriku pergi jadi pramugari. Terbang, selamanya.
Rumah kedua, sebetulnya aku tidak begitu berminat membangunnya untuk tujuan berumah tangga, meski pacarku cintanya tak terbatas untukku. Kubangun di pinggir jalan besar, di sebuah desa yang tenang. Aku tinggal di situ setahun lamanya, sambil menyelesaikan buku keduaku tentang meditasi. Aku jual lagi. Pacarku ke Singapura bekerja di sana.
Setelah itu, aku tidak membangun rumah lagi. Tapi membelinya. Di daerah sentra pariwisata di Jogja. Sebuah rumah joglo tua dan angker. Kubuat galeri
kecil, lumayan juga. Lukisan-lukisan karyaku sempat dibeli turis Belanda dan Belgia. Akhirnya, karena jenuh dan ada peristiwa bom Bali, aku memutuskan
mengembara lagi. Rumah itu kujual secara tergesa-gesa.
Kini, aku punya istri yang setia tapi tidak punya rumah. Dulu aku punya rumah tapi hidup sendiri tanpa istri. He..he…he, ironis kan? Sementara ini istriku tinggal bersama mamanya. Ia memang anak yatim yang didera penderitaan hidup berkepanjangan.
Aku letakkan puntung rokok terakhirku ke asbak. Ibu mertuaku ternyata sudah sejak tadi beranjak dari duduknya. Lamunanku tentang peristiwa pernikahan ini, membuatku tidak memahami lingkungan sekitarku. Aku pun beranjak, mencari istriku di bilik sebelah, bersekat tripleks.
Istriku cantik sekali. Tercantik di dunia. Ia tampak sedang sibuk memberesi pakaian pengantinnya, bedaknya dan segala tetek bengek perlengkapan gaun pengantin. Bau parfum Drakkar Noir dari Calvin Klein masih tertinggal, di ujung hidungku. Tadi, seusai resepsi, kucium dia di tengkuknya. Jadi aroma parfumnya ikut juga. Memang, itu parfum cowok. Tapi mau bagaimana lagi? Adanya cuma itu. Aku membelinya di drugstore Bandara Juanda, Surabaya dua tahun lalu, sepulang dari Makassar.
Aku cium lagi tengkuknya. Ia tersenyum manja. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. "Mau ngopi lagi, Mas?" tanyanya. Aku menggeleng, kudekap dia dari belakang, kemudian kita saling menempelkan pipi dan mematut-matut di depan cermin. Sepasang pengantin baru yang menikah diam-diam. Aku lihat matanya berbinar-binar. Ia bahagia.
Makna kebahagiaan bagiku hanyalah setetes warna yang lebih bersinar di antara warna-warna lain yang kusam. Setiap orang yang mampu meraih segala sesuatu yang diidam-idamkan, tentu merasa bahagia. Begitu pula aku. Seringkali aku merasa lelah mengembara dan ingin hidup layak seperti pada umumnya orang dengan menikah, berkeluarga, dan beranak pinak seperti yang disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim.
Dua minggu menjelang pernikahan, secara khusus memang aku memohon kepada kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan paling purba, sebelum bumi dan tata surya ini tercipta. Di bawah pohon tua berumur ratusan tahun, di atas bukit kecil yang lembab, tepat tengah malam dan purnama penuh di angkasa, aku sampaikan permohonan keramatku itu. "Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh istri dan sebuah keluarga," begitu doaku. Kun fayakun, terjadilah segala sesuatunya secepat kilat.
Pernikahanku juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya sudah lama, dua tahun silam di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota. Belum ada getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja, di pinggir lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras. Biasa saja, semuanya berlangsung biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang mengalun, dia mengatakan kepadaku setengah berbisik: "Kalau mau sama aku, harus serius…," katanya.
Langsung saja aku melamarnya malam itu juga. Ia pun mencium punggung tangan kananku. Resmilah kita mengikat janji. Sepuluh hari setelah malam "bertabur bintang" itu, terjadilah pernikahanku ini. Tanpa surat undangan dan wedding taart.
Perjalanan pernikahanku memang terkesan begitu indah. Tak ada cacat,
semua berjalan baik dan tenang. Ombaknya kecil, landai, dan bisa pasang layar sesuka hati. Langit biru tampak bersahabat di ujung cakrawala dan matahari bersinar ramah.
Kunikmati pernikahanku. Sedikit unik. Biasanya jok sebelah kemudiku selalu kosong. Paling, terisi dokumen pribadi dan beberapa bungkus rokok. Kini ada wanita cantik dengan rambut tergerai, tawa yang renyah dan sangat suka memakai aksen…gitu loh. "Liya gitu loh….," katanya menegaskan bahwa Liya beda dengan Lia.
Aku jadi mudah tertawa dibuatnya. Segala kata jadi berbunga-bunga, dan kita selalu mengurung diri di kamar berdua. Bercanda, berantem kecil-kecilan, saling merajuk dan tentu saja, bercinta.
"Aku pengin punya anak 9," kataku.
"Dua saja….Capek," jawabnya sambil menepuki perutnya.
Lalu kita berpelukan lagi. Seolah tidak ada cakrawala untuk luapan kegembiraan dan kebahagiaanku. Tidak ada yang membatasi. Tidak ada garis lurus yang memisahkan. Tidak seperti langit dan bumi yang dibelah di cakrawala. Segalanya serba los, bebas dan tak terbatas. Luar biasa. Aku selalu merindukan setiap menitnya.
Tawa ceria dan segala canda itu ternyata tidak berumur lama. Begitu cepat perginya. Sama cepatnya dengan proses pernikahanku. Kebahagiaan, agaknya, tidak pernah berpihak kepadaku. Segala sesuatunya berbalik 180 derajat. Sirna seketika. Berubah serba hitam. Galau. Gelap. Bergemuruh. Menghentak-hentak dan menyambar-nyambar. Setiap kata jadi bersayap-sayap. Salah paham muncul silih berganti. Kecemburuan, kecurigaan, dan pembicaraan-pembicaraan yang penuh teka-teki pun berebut mengganggu.
Salah ucap sedikit, menjelma jadi bara api. Berkilat-kilat. Aku sampai tidak sempat berdoa karena pikiranku tersita sepenuhnya untuk istriku. Kelakuannya berubah-ubah, sulit dipahami.
"Aku ingin sendiri," katanya pelan, tapi kurasakan seperti halilintar.
Menggelegar.
"Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Suro…harus serba hati-hati," kataku
mengingatkan.
"Hasyaahhhh….." Mukanya jadi cemberut dan bibirnya jadi tambah lancip.
Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah, kuakui, dia tetap saja menggemaskan.
Sambil menjentikkan abu rokok ke asbak, ia pun berargumentasi tentang pernak-pernik kegalauan perasaannya. Dari soal sepele sampai besar. "Aku tuh sukanya mobil-mobilan dan korek api, bukan bunga…Sabunku juga bukan yang itu, shamponya yang ini….." Mimik mukanya agak berkerut-kerut, ketika aku bawakan setangkai red rose yang dikemas plastik cantik.
Aku berusaha menyelami segala sesuatunya dengan hati-hati. Termasuk soal rumah, yang berkali-kali dilihat masih kurang cocok di hati. Kadang jengkel juga. Namun pernikahan tidak boleh terganggu dengan perasaan-perasaan yang tidak berguna seperti itu. Pernah aku berpikir kenapa harus begitu tergesa-gesa menikah?
"Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama ini. Jadi aku
memutuskan untuk cepat menikah," katanya ketika itu.
Argumentasinya itu membuatku merasa menemukan wanita yang sudah matang. Masa lalu yang carut marut memang harus diakhiri ketika pernikahan terjadi. Ketika baju pengantin dikenakan dan akad nikah ditandatangani, maka masa lalu berakhirlah di situ. Pernikahan adalah sebuah lembaran baru yang serba bersih, sehingga kita bisa menuliskan apa pun di sana sesuka hati, tanpa harus dihantui lembaran-lembaran hitam masa lalu. Kisahnya harus dibuat sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Ditata seperti mengatur sebuah taman bunga. Agar segalanya serba semerbak dan mewangi. Sampai akhirnya lembaran pamungkasnya ditutup sendiri oleh Sang Khaliq. Pemilik hak atas seluruh hukum kehidupan. Ah, lumayan juga teoriku ini.
"Hanya kematian yang bisa memisahkan sepasang pengantin," kataku kepadanya. Ia tercenung beberapa jurus. Matanya yang indah terdiam beberapa saat. Lalu bola matanya berubah jadi abu-abu. Ia pun meledak-ledak lagi. Ada bau parfum yang berbeda dari tubuhnya, ketika ia berdiri sambil bersungut-sungut. Aku terhenyak. Berangkat kantor tadi pagi, memang ia sudah terlihat kusut. Tapi aku tidak memikirkannya terlalu dalam. Sewaktu turun mobil, ia hampir lupa mencium tanganku.
"Aku suamimu bukan?" tanyaku pelan, sambil kusodorkan tangan kananku.
Ia pun menciumnya. "Nanti dijemput jam berapa?" tanyaku lagi.
"Jam empat sore. Mundur satu jam," jawabnya, sambil bergegas turun.
Prahara itu pun dimulai. Bau parfum yang berbeda sepulang kantor, menjadi puncak dari seluruh masalah yang bertumpuk. Padahal sepulang kantor tadi kami sempat melihat sekali lagi rumah yang akan kami tempati.
"Besok aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar jemput lagi," ujarnya sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku. Tampak jengkel.
Aku berharap keadaan itu hanya sementara saja. Seperti permasalahan-permasalahan kecil yang terjadi di hari-hari kemarin. Ternyata tidak. Besok-besoknya lagi, tetap sama. Terus-menerus begitu. Sehari dua hari. Seminggu dua minggu. Seluruh saluran komunikasi ditutup. Ia pun ganti nomor hand phone. Aku takut membayangkan kenyataan yang bisa membuatku bersedih.
"Ini hanya sementara…," katanya ketika aku nekat menemuinya, di siang yang terik. "Sementara…," itulah kata-kata yang aku jadikan pegangan. Meski berat dan dipenuhi ribuan teka-teki, aku berusaha meyakini janjinya itu.
Kehidupanku pun limbung. Aku kembali melangkah tanpa kepastian, tak ada teman selain rindu dan harapan. Keinginanku untuk menjalani kehidupan masa lalu kembali menggelegak lagi. Mengembara. Ya, mengembara. Akulah, pengembara itu!
Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan orang-orang yang hidup
sederhana di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di pinggir-pinggir pantai. Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku dengan tangan terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak mengkhianati. Aku merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di belakangku, mengikutiku berdoa.
"Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak mengizinkan aku memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi pewaris?" gumamku ketika aku datang lagi ke pohon besar di atas bukit yang lembab itu.
Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete mengalun dari hand phoneku. Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku tidak mendengarnya. Ada SMS masuk, dadaku berdebar.
"Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen tho sama Jelek. Ke sini tak buatin kopi…..!" begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku.
Ah, ternyata itu SMS yang pending sejak empat minggu lalu. ***
01.34
Mimpi Terindah Sebelum Mati
Cerpen Maya Wulan
RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.
Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.
NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.
Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?
Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini."
Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.
Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.
Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.
Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.
Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"
"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."
"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"
Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.
"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.
"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"
Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.
AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.
Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.
Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?
Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.
Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.
Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. ***
RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.
Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.
NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.
Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?
Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini."
Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.
Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.
Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.
Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.
Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"
"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."
"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"
Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.
"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.
"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"
Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.
AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.
Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.
Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?
Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.
Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.
Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. ***
01.28
Kupu-Kupu Tidur
Cerpen Wawan Setiawan
Kupu-kupu itu bersayap kuning, terbang ke sana kemari di tanah samping. Coba lihat, ia sedang mencari sesuatu, di balik daun bunga sepatu. O, ternyata benar, ia sedang menitipkan telurnya. Nanti telur-telur itu jadi ulat. Ulat-ulat itu merayap dari daun ke daun. Memangsa daun-daun itu, nyaem nyaem nyaem, ia besar, gemuk, lalu masuk ke kepompong. Nah sudah. Coba lihat, dari satu ujung lubang kepompong, lepaslah seekor kupu-kupu, warnanya kuning, seperti induknya.
Aku mengimajikan proses itu. Sebuah proses alami. Alam telah menyediakan segala sesuatunya, agar semuanya dapat berproses, tentu secara alami pula. Kupu-kupu kuning tadi telah pergi, ke halaman rumah tetangga. Di samping rumah ada sirsak, pisang, mangga, dan pepaya. Ada juga bluntas dan gambas. Di bawah pohon dan perdu itu, sedikit menghampar rumput hijau, halus, enak di kaki. Di halaman depan, sama, ada rumput hijau. Di atasnya, ada pepaya, alamanda, cemara pipih, dan melati. Tanaman itu mengisi hari-hariku, ya di tengah-tengah alam semesta yang besar dan "tenang" ini, aku ditimpa keraguan, kebimbangan.
"Hesti, aku sudah mempertaruhkan hidupku, tapi jalan hidup ternyata lain. Aku tak sanggup lagi mampir di rumah kita, yang konon bertabur bintang berjuta. Berbulan bundar, persis harapanku. Tapi bulan dan bintang di rumah kita adalah milikmu. Aku ditakdirkan tidak memilikinya."
Itu ucapan Sapto. Lelaki itu kemudian tak lagi kembali. Sapto telah pergi, lenyap ditelan kebiruan gunung. Sapto mengembara dari gunung ke gunung yang konon wilayah warisan nenek moyangnya.
"Ya, Sapto, bila itu jalan hidupmu, pilihanmu, setialah pada janjimu, pada dirimu. Aku tak kuasa. Jalan hidup kita memang beda. Memang telah kuserahkan diriku padamu, tapi tampaknya tak dapat penuh. Kuserahkan diriku hanya separuh, dan kau menerimanya juga dengan separuh dirimu. Kita sama-sama mengerti. Dan akhirnya memaklumi. Di tengah alam semesta yang besar ini, aku akhirnya sendiri. Bapak ibuku sudah pergi. Adik satu-satuku sudah dibawa suami. Di rumah ini, bagai seorang paranormal, aku merajut masa depan yang gambar-gambarnya samar-samar."
Tak kusadari air mata menetes, tak banyak, hanya satu dua. Tapi itu sudah cukup. Keterharuanku pada jalan hidupku membuatku mengerti, bahwa setiap orang akan digiring kepada jalan hidupnya masing-masing. Ada yang ikhlas menerima, ada yang memberontakinya.
Lelaki itu dulu kutemui di bangsal sebuah gedung teater. Saat itu ada latihan drama. Saat itu aku baru lulus sarjana akuntansi. Meskipun aku suka hitung-menghitung, aku juga suka nonton drama. Bahkan latihan sebelum main, kutonton juga. Itu seperti kita kalau makan kue Hari Raya yang akan dipanaskan dalam van. Rasanya sudah enak, dan memang sudah bisa dinikmati. Dalam kisah drama yang kutonton, ada bagian peristiwa yang menampilkan sisi kehidupan seorang paranormal. Dikisahkan, paranormal pamit pada istrinya untuk bertapa di sebuah lereng gunung di selatan kota. Tapi pertapanya gagal karena tergoda seorang wanita. Sang pertapa kemudian kembali lagi menjadi orang biasa. Entah dari mana Sapto tahu ada latihan drama di Gedung Pemuda pusat kota itu. Sapto sendiri hanya tamat SMA. Ia memilih belajar sendiri dari hal-hal yang dia sukai, dan sangat antusias dengan astronomi, astrologi, serta ekonomi makro. Selain itu, ia menggandrungi puisi dan pijat refleksi. Mungkin background inilah yang mendorongnya datang ke Gedung Pemuda.
Waktu itu, entah bagaimana, aku dan Sapto terlibat diskusi perihal paranormal yang tergoda tadi. Dari diskusi itulah, perkenalan berlanjut. Sapto ternyata orang yang sangat menyayangi tubuhnya. Setelah pernikahan, ia pelit berhubungan seks. Alasannya, tubuh adalah kuil Tuhan, rumah ruh berdomisili. Dan jika ruh menempati sebuah tubuh, itu merupakan perjuangan yang sangat berat, sungguh berat. Sang ruh harus bernego dulu dengan para malaikat pengurus kelahiran. Karena begitu banyak ruh yang ingin atau harus lahir di bumi, maka negosiasi sungguh alot. Dihitung dulu talenta, kemungkinan-kemungkinan prestasi, fleksibilitas dengan cuaca tempat tubuh dilahirkan, atau komplikasi-komplikasi yang mungkin muncul dengan keluarga inti, keluarga besar, suku, dan masyarakat luas. Melihat kesulitan negosiasi, dan kecermatan seleksi di dunia sana, Sapto sangat bersyukur telah bisa lahir ke bumi. Karena itu, sekali lagi, Sapto sangat menghormati tubuh. Tubuh tak boleh semena-mena dikorbankan demi sensasi seks yang tak kunjung habis.
Hernowo? Ya, dialah itu, Hernowo. Lelaki itu adalah suami keduaku. Aku bertemu dengannya, lagi-lagi, ketika ada acara latihan drama. Waktu itu pagi nan dingin, di pinggirian kota, sebuah kelompok teater sedang berlatih pernapasan. Aku diajak seorang teman, aku ikut namun sekadar menonton; sambil baca-baca koran pagi, kudengar mereka teriak-teriak. Mereka disadarkan oleh Hernowo: baik ketika udara masuk atau keluar, yang bergerak hanyalah Tuhan. Dengan sugesti itu, mereka tak hanya diingatkan oleh pentingnya udara, namun juga oleh pentingnya "Tuhan".
Hernowo adalah seorang suami yang nafsu seksnya kuat. Mungkin dampak dari latihan pernapasan digabung dengan bawaan dari sono-nya. Tak seperti Sapto yang kikir seks, Hernowo boros. Sehingga sering aku dibikin kewalahan.
"Hesti, kecerdasanku adalah maksimal. Namun tampaknya aku kewalahan meladenimu diskusi. Semangat hidupku terlalu besar, sayang kurang diimbangi daya intelektual." Demikian pengakuan Hernowo suatu malam, setelah melakukan hubungan suami istri entah yang ke berapa ribu kali.
"Tapi kau pelaku yang baik, man of action. Kamu mampu menghimpun orang-orang, menggerakkan mereka, meski gerakan mereka di atas panggung. Aku lega dipertemukan Tuhan bersuamikan dirimu." Demikian hiburku pada malam yang lain sambil melap-lap tubuhnya yang penuh keringat. Kusuapi dia dengan STMJ khas diriku seperti yang diminatinya.
Sebenarnya aku sudah mulai bisa tinggal di dalam hatinya. Dia juga sangat kerasan hidup di hatiku. Tapi sayang seribu sayang, melalui cerita seorang teman, dan juga aku pernah tahu sendiri, Hernowo masih punya waktu berpacaran dengan salah satu anak buah teaternya. Kerinduanku pada keindahan romantisme perkawinan pupus sudah. Mungkin karena dia menganggapku janda yang kesetiaannya sudah terkoyak.
"Sudahlah, sudah. Kau bisa bayangkan sendiri, di sudut kamarmu yang remang-remang, bahwa akhirnya aku bercerai dengan Hernowo. Hernowo itu terlalu alamiah. Termasuk dalam hal bercinta. Tak apalah. Biarlah semua mengalir, Pantha Rei. Aku mengalir. Sapto mengalir. Hernowo juga mengalir."
Kembali mataku menangkap kepak kupu-kupu kuning itu dengan kesepianku yang lengkap. Aku tak mau lagi jadi ulat. Aku ingin jadi kupu-kupu. Ulat merayap dari daun ke daun. Kupu-kupu itu terbang dari bunga ke bunga, taman ke taman. Aku ingin terbang. Dan ini yang penting, aku tak ingin memakai dua sayap yang di situ ada Sapto dan Hernowo. Dulu aku terbang dengan sayap Ibu dan Bapakku. Kemudian aku terbang dengan sayap Sapto dan Hernowo. Aku ingin menciptakan sayap sendiri, sayap khas Hesti. Mungkin bahan bakunya dari Ibu, Bapak, Sapto, dan Hernowo, atau yang lain.
Dalam kesepianku, kini, aku menekuri diriku yang sibuk merajut sayap. Tak apa, mumpung angkasa masih menyediakanku ruang. Diriku belum sama sekali hampa. Lingkunganku masih tertawa dan terbuka. Kotaku, meski tetap angkuh, toh masih mau menyapa.
Kulihat diriku menekuri diriku. Di sela-sela berbagai daunan berembun, bagai peri, aku mulai melesat dari daun ke daun. Dan kulihat dari pohon ke pohon. Sedang di atas angkasa membuka mulutnya yang tak bertepi, dibanjiri sinar mentari.
Kupu-kupu itu bersayap kuning, terbang ke sana kemari di tanah samping. Coba lihat, ia sedang mencari sesuatu, di balik daun bunga sepatu. O, ternyata benar, ia sedang menitipkan telurnya. Nanti telur-telur itu jadi ulat. Ulat-ulat itu merayap dari daun ke daun. Memangsa daun-daun itu, nyaem nyaem nyaem, ia besar, gemuk, lalu masuk ke kepompong. Nah sudah. Coba lihat, dari satu ujung lubang kepompong, lepaslah seekor kupu-kupu, warnanya kuning, seperti induknya.
Aku mengimajikan proses itu. Sebuah proses alami. Alam telah menyediakan segala sesuatunya, agar semuanya dapat berproses, tentu secara alami pula. Kupu-kupu kuning tadi telah pergi, ke halaman rumah tetangga. Di samping rumah ada sirsak, pisang, mangga, dan pepaya. Ada juga bluntas dan gambas. Di bawah pohon dan perdu itu, sedikit menghampar rumput hijau, halus, enak di kaki. Di halaman depan, sama, ada rumput hijau. Di atasnya, ada pepaya, alamanda, cemara pipih, dan melati. Tanaman itu mengisi hari-hariku, ya di tengah-tengah alam semesta yang besar dan "tenang" ini, aku ditimpa keraguan, kebimbangan.
"Hesti, aku sudah mempertaruhkan hidupku, tapi jalan hidup ternyata lain. Aku tak sanggup lagi mampir di rumah kita, yang konon bertabur bintang berjuta. Berbulan bundar, persis harapanku. Tapi bulan dan bintang di rumah kita adalah milikmu. Aku ditakdirkan tidak memilikinya."
Itu ucapan Sapto. Lelaki itu kemudian tak lagi kembali. Sapto telah pergi, lenyap ditelan kebiruan gunung. Sapto mengembara dari gunung ke gunung yang konon wilayah warisan nenek moyangnya.
"Ya, Sapto, bila itu jalan hidupmu, pilihanmu, setialah pada janjimu, pada dirimu. Aku tak kuasa. Jalan hidup kita memang beda. Memang telah kuserahkan diriku padamu, tapi tampaknya tak dapat penuh. Kuserahkan diriku hanya separuh, dan kau menerimanya juga dengan separuh dirimu. Kita sama-sama mengerti. Dan akhirnya memaklumi. Di tengah alam semesta yang besar ini, aku akhirnya sendiri. Bapak ibuku sudah pergi. Adik satu-satuku sudah dibawa suami. Di rumah ini, bagai seorang paranormal, aku merajut masa depan yang gambar-gambarnya samar-samar."
Tak kusadari air mata menetes, tak banyak, hanya satu dua. Tapi itu sudah cukup. Keterharuanku pada jalan hidupku membuatku mengerti, bahwa setiap orang akan digiring kepada jalan hidupnya masing-masing. Ada yang ikhlas menerima, ada yang memberontakinya.
Lelaki itu dulu kutemui di bangsal sebuah gedung teater. Saat itu ada latihan drama. Saat itu aku baru lulus sarjana akuntansi. Meskipun aku suka hitung-menghitung, aku juga suka nonton drama. Bahkan latihan sebelum main, kutonton juga. Itu seperti kita kalau makan kue Hari Raya yang akan dipanaskan dalam van. Rasanya sudah enak, dan memang sudah bisa dinikmati. Dalam kisah drama yang kutonton, ada bagian peristiwa yang menampilkan sisi kehidupan seorang paranormal. Dikisahkan, paranormal pamit pada istrinya untuk bertapa di sebuah lereng gunung di selatan kota. Tapi pertapanya gagal karena tergoda seorang wanita. Sang pertapa kemudian kembali lagi menjadi orang biasa. Entah dari mana Sapto tahu ada latihan drama di Gedung Pemuda pusat kota itu. Sapto sendiri hanya tamat SMA. Ia memilih belajar sendiri dari hal-hal yang dia sukai, dan sangat antusias dengan astronomi, astrologi, serta ekonomi makro. Selain itu, ia menggandrungi puisi dan pijat refleksi. Mungkin background inilah yang mendorongnya datang ke Gedung Pemuda.
Waktu itu, entah bagaimana, aku dan Sapto terlibat diskusi perihal paranormal yang tergoda tadi. Dari diskusi itulah, perkenalan berlanjut. Sapto ternyata orang yang sangat menyayangi tubuhnya. Setelah pernikahan, ia pelit berhubungan seks. Alasannya, tubuh adalah kuil Tuhan, rumah ruh berdomisili. Dan jika ruh menempati sebuah tubuh, itu merupakan perjuangan yang sangat berat, sungguh berat. Sang ruh harus bernego dulu dengan para malaikat pengurus kelahiran. Karena begitu banyak ruh yang ingin atau harus lahir di bumi, maka negosiasi sungguh alot. Dihitung dulu talenta, kemungkinan-kemungkinan prestasi, fleksibilitas dengan cuaca tempat tubuh dilahirkan, atau komplikasi-komplikasi yang mungkin muncul dengan keluarga inti, keluarga besar, suku, dan masyarakat luas. Melihat kesulitan negosiasi, dan kecermatan seleksi di dunia sana, Sapto sangat bersyukur telah bisa lahir ke bumi. Karena itu, sekali lagi, Sapto sangat menghormati tubuh. Tubuh tak boleh semena-mena dikorbankan demi sensasi seks yang tak kunjung habis.
Hernowo? Ya, dialah itu, Hernowo. Lelaki itu adalah suami keduaku. Aku bertemu dengannya, lagi-lagi, ketika ada acara latihan drama. Waktu itu pagi nan dingin, di pinggirian kota, sebuah kelompok teater sedang berlatih pernapasan. Aku diajak seorang teman, aku ikut namun sekadar menonton; sambil baca-baca koran pagi, kudengar mereka teriak-teriak. Mereka disadarkan oleh Hernowo: baik ketika udara masuk atau keluar, yang bergerak hanyalah Tuhan. Dengan sugesti itu, mereka tak hanya diingatkan oleh pentingnya udara, namun juga oleh pentingnya "Tuhan".
Hernowo adalah seorang suami yang nafsu seksnya kuat. Mungkin dampak dari latihan pernapasan digabung dengan bawaan dari sono-nya. Tak seperti Sapto yang kikir seks, Hernowo boros. Sehingga sering aku dibikin kewalahan.
"Hesti, kecerdasanku adalah maksimal. Namun tampaknya aku kewalahan meladenimu diskusi. Semangat hidupku terlalu besar, sayang kurang diimbangi daya intelektual." Demikian pengakuan Hernowo suatu malam, setelah melakukan hubungan suami istri entah yang ke berapa ribu kali.
"Tapi kau pelaku yang baik, man of action. Kamu mampu menghimpun orang-orang, menggerakkan mereka, meski gerakan mereka di atas panggung. Aku lega dipertemukan Tuhan bersuamikan dirimu." Demikian hiburku pada malam yang lain sambil melap-lap tubuhnya yang penuh keringat. Kusuapi dia dengan STMJ khas diriku seperti yang diminatinya.
Sebenarnya aku sudah mulai bisa tinggal di dalam hatinya. Dia juga sangat kerasan hidup di hatiku. Tapi sayang seribu sayang, melalui cerita seorang teman, dan juga aku pernah tahu sendiri, Hernowo masih punya waktu berpacaran dengan salah satu anak buah teaternya. Kerinduanku pada keindahan romantisme perkawinan pupus sudah. Mungkin karena dia menganggapku janda yang kesetiaannya sudah terkoyak.
"Sudahlah, sudah. Kau bisa bayangkan sendiri, di sudut kamarmu yang remang-remang, bahwa akhirnya aku bercerai dengan Hernowo. Hernowo itu terlalu alamiah. Termasuk dalam hal bercinta. Tak apalah. Biarlah semua mengalir, Pantha Rei. Aku mengalir. Sapto mengalir. Hernowo juga mengalir."
Kembali mataku menangkap kepak kupu-kupu kuning itu dengan kesepianku yang lengkap. Aku tak mau lagi jadi ulat. Aku ingin jadi kupu-kupu. Ulat merayap dari daun ke daun. Kupu-kupu itu terbang dari bunga ke bunga, taman ke taman. Aku ingin terbang. Dan ini yang penting, aku tak ingin memakai dua sayap yang di situ ada Sapto dan Hernowo. Dulu aku terbang dengan sayap Ibu dan Bapakku. Kemudian aku terbang dengan sayap Sapto dan Hernowo. Aku ingin menciptakan sayap sendiri, sayap khas Hesti. Mungkin bahan bakunya dari Ibu, Bapak, Sapto, dan Hernowo, atau yang lain.
Dalam kesepianku, kini, aku menekuri diriku yang sibuk merajut sayap. Tak apa, mumpung angkasa masih menyediakanku ruang. Diriku belum sama sekali hampa. Lingkunganku masih tertawa dan terbuka. Kotaku, meski tetap angkuh, toh masih mau menyapa.
Kulihat diriku menekuri diriku. Di sela-sela berbagai daunan berembun, bagai peri, aku mulai melesat dari daun ke daun. Dan kulihat dari pohon ke pohon. Sedang di atas angkasa membuka mulutnya yang tak bertepi, dibanjiri sinar mentari.
01.25
Di salah satu bangku kayu panjang, bersisihan dengan remaja yang sedang bermesraan, Reyna duduk menghadap ke jalan. Hanya duduk. Mengamati kendaraan atau orang-orang yang melintas. Menunggu senja rebah di hamparan kota.
Tiba-tiba laki-laki itu sudah berada di depannya sambil mengulurkan tangan. "Apa kabar?" katanya memperlihatkan giginya yang kekuningan. Asap rokok telah menindas warna putihnya.
"Kamu di sini?" Reyna tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Segala rasa berpendaran dalam hatinya. Senang, sendu, haru, pilu, yang kesemuanya membuat Reyna ingin menjatuhkan dirinya dalam peluk lelaki itu.
Begitu juga Mozes, lelaki tua yang berdiri di depan Reyna. Dadanya bergemuruh hebat mendapati perempuan itu di depan matanya. Ingin ia memeluk, menciumi perempuan itu seperti dulu, tetapi tak juga dilakukannya.
Hingga Reyna kembali menguasai perasaannya, lalu menggeser duduknya memberi tempat Mozes di sebelahnya.
"Kaget?" tanya Mozes, duduk di sebelah Reyna.
Reyna tertawa kecil.
"Gimana?" tanya Reyna tak jelas arahnya. "Lama sekali nggak ketemu."
"Iya. Berapa tahun ya? Dua lima, tiga puluh?"
"Tiga puluh tahun!" jawab Reyna pasti.
"Ouw! Tiga puluh tahun. Dan kamu masih semanis dulu."
"Terima kasih," Reyna tersenyum geli. Masih ’semanis dulu’. Bukankah itu lucu? Kalaupun masih tampak cantik atau manis itu pasti tinggal sisanya saja. Kecantikan yang telah terbalut keriput di seluruh tubuhnya. Tapi kalimat itu tak urung membuat Reyna tersipu. Merasa bangga, tersanjung karenanya.
"Kapan datang?" tanya Reyna. Mulai berani lagi menatap mata lelaki di sebelahnya.
"Belum seminggu," jawab Mozes.
"Mencariku?" Reyna tersenyum. Sisa genitnya di masa muda.
Mozes tertawa berderai-derai. Lalu katanya pelan, "Aku turut berduka atas meninggalnya suamimu," tawanya menghilang.
Reyna tak menjawab sepatah pun. Bahkan ucapan terima kasih tidak juga meluncur dari bibirnya. Ia menerawang ke kejauhan. Detik berikutnya mata Reyna tampak berlinangan. Goresan luka di sudut hatinya kembali terkoyak. Rasa perih perlahan datang. Luka lama itu ternyata tak pernah mampu disembuhkannya. Semula ia menduga luka itu telah pulih, tetapi sore ini, ketika Mozes tiba-tiba muncul di hadapannya ia sadar luka itu masih ada. Tertoreh dalam di sudut perasaannya.
Reyna dan Mozes. Mozes pekerja film yang bukan saja terampil, tetapi juga cerdas dan kritis. Reyna pengelola media sebuah perusahaan terkemuka. Mereka bertemu karena Reyna harus membuat sebuah film sebagai media pencitraan perusahaannya. Reyna yang istri dan ibu seorang anak, dan Mozes yang duda. Dua orang muda yang masih segar, bersemangat, dan menawan. Dua orang yang kemudian saling jatuh cinta.
Reyna hampir saja meninggalkan Braham ketika itu. Ibu muda Reyna merasa menemukan sampan kecil untuk berlabuh. Meninggalkan malam-malamnya yang kelam bersama Braham. Pergi mengikuti aliran sungai kecil yang akan mengantarnya ke dermaga damai tanpa ketakutan, tanpa kesakitan. Berdua Mozes.
Tetapi sampan kecil itu ternyata begitu ringkih. Ia tak mampu menyangga beban berdua. Ia hanya ingin sesekali singgah, bermesra dan bercinta tanpa harus mengangkutnya. Mozes tak menginginkan ikatan apa pun antara dirinya dan Reyna. Ia ingin tetap bebas pergi ke mana pun ia ingin dan kembali kapan ia rindu. Kebebasan yang tak bisa Reyna terima. Maka sebelum perjalanan dimulai, ia memutuskan undur diri. Perempuan itu menyadari, bukan laki-laki seperti Mozes yang ia ingini untuk membebaskan dari derita malam-malamnya. Mozes berbeda dengan dirinya yang membutuhkan teman seperjalanan, ia hanya mencari ruang untuk membuang kepedihan dan mencari hiburan. Tak lebih.
"Berapa lama kamu akan tinggal?" tanya Reyna setelah gejolak perasaannya mereda.
"Entah. Mungkin sebulan, dua bulan, atau mungkin sepanjang sisa umurku," jawab Mozes, tanpa senyum, tanpa memandang Reyna. "Banyak hal yang memberati pikiran dan tak bisa kuceritakan pada siapa pun selama ini."
"Itu sebabnya kamu kemari?"
"Jakarta semakin sesak dan panas. Sementara Jogja masih tetap nyaman buat berkarya. Jadi kuputuskan kembali," lanjut Mozes tanpa mengacuhkan pertanyaan Reyna. "Begitu kembali seseorang bilang padaku, kamu sering di sini sore hari."
"Maka kamu mencariku. Berharap mengulang lagi hubungan dulu."
Mozes menggeleng.
"Atau membangun hubungan baru."
Mozes menggeleng lagi, "Tidak juga. Aku tidak butuh hubungan seperti itu. Aku hanya butuh teman ngobrol…"
"Teman bermesra, teman bercinta yang bisa kamu datangi dan kamu tinggal pergi. Tanpa tuntutan, tanpa ikatan!" potong Reyna. "Itu hubungan yang sejak dulu kamu inginkan bersamaku kan? Seperti sudah kubilang dulu, aku tidak bisa. Aku sudah memilih."
Kebekuan kembali merejam perasaan kedua orang tua itu. Langit perlahan kehilangan warna jingga. Satu per satu lampu di sekeliling mulai menyala. Ada rangkaian lampu-lampu kecil berbentuk bunga di samping tikungan yang menyala bergantian, hijau, kuning, merah. Ada lampu besar dengan tiang sangat tinggi yang menyorot ke taman, ada pula lampu berwarna temaram yang semakin menggumpalkan kesenduan.
Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Terlalu banyak hal terjadi pada mereka dan sekian lama masing-masing memendam untuk diri sendiri. Mestinya pertemuan sore itu adalah untuk berbagi cerita bukan justru bertengkar kemudian saling diam. Atau mungkin karena perpisahan yang terlalu panjang, keduanya tak tahu apa yang harus diceritakan terlebih dahulu.
Mungkin memang begitu, karena senyatanya Reyna ingin berkata, beberapa tahun setelah perpisahan mereka ia masih juga mencari kabar tentang Mozes. Hingga suatu hari, satu setengah tahun setelah mereka tidak bersama seorang teman mengabarkan bahwa Mozes pulang ke Jakarta. Tak lama setelah itu, ia mendengar Mozes tengah melanglang buana. Buana yang mana, entah. Reyna merasa tidak perlu lagi mencari tahu keberadaan laki-laki itu. Meski tak jarang bayangan Mozes tiba-tiba membangunkan tidurnya atau menyergap ingatannya begitu Braham mulai menjamah tubuhnya dan membuat Reyna kesakitan tak terkira.
Terdengar Mozes menghela napas. Panjang. Perlahan gumpalan kemarahan yang menyesaki dada Reyna mereda. Namun hasrat untuk terus ngobrol telah tak ada. Maka sisa pertemuan itu pun berlalu begitu saja. Kebekuan masih mengental di antara keduanya. Hingga Reyna minta diri, dan beranjak pergi.
Hari-hari setelah kejadian itu, Reyna tak pernah tampak di depan Vredeburg lagi. Tetapi Mozes masih sering terlihat di salah satu bangku kayu di sana. Sendiri di tengah orang-orang muda yang tengah bercanda dan bercinta. Menghisap rokok kreteknya. Sesekali mengibaskan rambut putihnya yang panjang, tersapu angin menutup wajah tirusnya.
Begitu perasaan Reyna membaik dan siap bertemu Mozes lagi, ia kembali pada rutinitasnya, menunggu senja jatuh di Vredeburg. Namun ia harus menelan kecewa karena Mozes tak dijumpainya. Bahkan telepon genggamnya tak bisa dihubungi.
Suatu sore, di tengah keputusasaan Reyna, seorang teman mendatangi dan mengulurkan sebuah surat kepadanya. Surat dari Mozes!
"Hari-hari itu dia mencoba menghubungimu, tetapi HP-mu tak pernah aktif," kata laki-laki itu. "Ginjalnya tak berfungsi, serangan jantungnya kambuh, tekanan darahnya tidak stabil…"
Reyna tak bisa mendengar lagi penjelasan laki-laki itu. Bahkan ketika si teman menyerahkan satu dos buku dan tas berisi kamera warisan kekayaan Mozes untuknya, Reyna belum kembali pada kesadarannya.
Senja beranjak renta. Seperti Reyna merasai dirinya. Sepasang remaja di sebelahnya telah pergi. Begitu juga sekumpulan anak muda yang nongkrong di atas motor mereka, mulai menghidupkan mesin kendaraannya. Sisa adzan sayup terdengar dari Masjid Besar. Sebaris kalimat di surat terakhir Mozes meluncur dalam gumaman.
…maghrib begitu deras, ada yang terhempas, tapi ada goresan yang tak akan terkelupas.*
Langit Menggelap di Vredeburg
Cerpen Sulialine Adelia
Beginilah menjelang senja di jantung kota. Sekelompok remaja nongkrong di atas motor model terbaru mereka sambil ngobrol dan tertawa-tawa. Ada juga remaja atau mereka yang beranjak dewasa duduk berdua-dua, di bangku semen, di atas sadel motor, atau di trotoar. Anak-anak kecil berlarian sambil disuapi orang tuanya. Pengamen yang beristirahat setelah seharian bekerja. Dan orang gila yang tidur di sisi pagar.
Di salah satu bangku kayu panjang, bersisihan dengan remaja yang sedang bermesraan, Reyna duduk menghadap ke jalan. Hanya duduk. Mengamati kendaraan atau orang-orang yang melintas. Menunggu senja rebah di hamparan kota.
Tiba-tiba laki-laki itu sudah berada di depannya sambil mengulurkan tangan. "Apa kabar?" katanya memperlihatkan giginya yang kekuningan. Asap rokok telah menindas warna putihnya.
"Kamu di sini?" Reyna tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Segala rasa berpendaran dalam hatinya. Senang, sendu, haru, pilu, yang kesemuanya membuat Reyna ingin menjatuhkan dirinya dalam peluk lelaki itu.
Begitu juga Mozes, lelaki tua yang berdiri di depan Reyna. Dadanya bergemuruh hebat mendapati perempuan itu di depan matanya. Ingin ia memeluk, menciumi perempuan itu seperti dulu, tetapi tak juga dilakukannya.
Hingga Reyna kembali menguasai perasaannya, lalu menggeser duduknya memberi tempat Mozes di sebelahnya.
"Kaget?" tanya Mozes, duduk di sebelah Reyna.
Reyna tertawa kecil.
"Gimana?" tanya Reyna tak jelas arahnya. "Lama sekali nggak ketemu."
"Iya. Berapa tahun ya? Dua lima, tiga puluh?"
"Tiga puluh tahun!" jawab Reyna pasti.
"Ouw! Tiga puluh tahun. Dan kamu masih semanis dulu."
"Terima kasih," Reyna tersenyum geli. Masih ’semanis dulu’. Bukankah itu lucu? Kalaupun masih tampak cantik atau manis itu pasti tinggal sisanya saja. Kecantikan yang telah terbalut keriput di seluruh tubuhnya. Tapi kalimat itu tak urung membuat Reyna tersipu. Merasa bangga, tersanjung karenanya.
"Kapan datang?" tanya Reyna. Mulai berani lagi menatap mata lelaki di sebelahnya.
"Belum seminggu," jawab Mozes.
"Mencariku?" Reyna tersenyum. Sisa genitnya di masa muda.
Mozes tertawa berderai-derai. Lalu katanya pelan, "Aku turut berduka atas meninggalnya suamimu," tawanya menghilang.
Reyna tak menjawab sepatah pun. Bahkan ucapan terima kasih tidak juga meluncur dari bibirnya. Ia menerawang ke kejauhan. Detik berikutnya mata Reyna tampak berlinangan. Goresan luka di sudut hatinya kembali terkoyak. Rasa perih perlahan datang. Luka lama itu ternyata tak pernah mampu disembuhkannya. Semula ia menduga luka itu telah pulih, tetapi sore ini, ketika Mozes tiba-tiba muncul di hadapannya ia sadar luka itu masih ada. Tertoreh dalam di sudut perasaannya.
Reyna dan Mozes. Mozes pekerja film yang bukan saja terampil, tetapi juga cerdas dan kritis. Reyna pengelola media sebuah perusahaan terkemuka. Mereka bertemu karena Reyna harus membuat sebuah film sebagai media pencitraan perusahaannya. Reyna yang istri dan ibu seorang anak, dan Mozes yang duda. Dua orang muda yang masih segar, bersemangat, dan menawan. Dua orang yang kemudian saling jatuh cinta.
Reyna hampir saja meninggalkan Braham ketika itu. Ibu muda Reyna merasa menemukan sampan kecil untuk berlabuh. Meninggalkan malam-malamnya yang kelam bersama Braham. Pergi mengikuti aliran sungai kecil yang akan mengantarnya ke dermaga damai tanpa ketakutan, tanpa kesakitan. Berdua Mozes.
Tetapi sampan kecil itu ternyata begitu ringkih. Ia tak mampu menyangga beban berdua. Ia hanya ingin sesekali singgah, bermesra dan bercinta tanpa harus mengangkutnya. Mozes tak menginginkan ikatan apa pun antara dirinya dan Reyna. Ia ingin tetap bebas pergi ke mana pun ia ingin dan kembali kapan ia rindu. Kebebasan yang tak bisa Reyna terima. Maka sebelum perjalanan dimulai, ia memutuskan undur diri. Perempuan itu menyadari, bukan laki-laki seperti Mozes yang ia ingini untuk membebaskan dari derita malam-malamnya. Mozes berbeda dengan dirinya yang membutuhkan teman seperjalanan, ia hanya mencari ruang untuk membuang kepedihan dan mencari hiburan. Tak lebih.
"Berapa lama kamu akan tinggal?" tanya Reyna setelah gejolak perasaannya mereda.
"Entah. Mungkin sebulan, dua bulan, atau mungkin sepanjang sisa umurku," jawab Mozes, tanpa senyum, tanpa memandang Reyna. "Banyak hal yang memberati pikiran dan tak bisa kuceritakan pada siapa pun selama ini."
"Itu sebabnya kamu kemari?"
"Jakarta semakin sesak dan panas. Sementara Jogja masih tetap nyaman buat berkarya. Jadi kuputuskan kembali," lanjut Mozes tanpa mengacuhkan pertanyaan Reyna. "Begitu kembali seseorang bilang padaku, kamu sering di sini sore hari."
"Maka kamu mencariku. Berharap mengulang lagi hubungan dulu."
Mozes menggeleng.
"Atau membangun hubungan baru."
Mozes menggeleng lagi, "Tidak juga. Aku tidak butuh hubungan seperti itu. Aku hanya butuh teman ngobrol…"
"Teman bermesra, teman bercinta yang bisa kamu datangi dan kamu tinggal pergi. Tanpa tuntutan, tanpa ikatan!" potong Reyna. "Itu hubungan yang sejak dulu kamu inginkan bersamaku kan? Seperti sudah kubilang dulu, aku tidak bisa. Aku sudah memilih."
Kebekuan kembali merejam perasaan kedua orang tua itu. Langit perlahan kehilangan warna jingga. Satu per satu lampu di sekeliling mulai menyala. Ada rangkaian lampu-lampu kecil berbentuk bunga di samping tikungan yang menyala bergantian, hijau, kuning, merah. Ada lampu besar dengan tiang sangat tinggi yang menyorot ke taman, ada pula lampu berwarna temaram yang semakin menggumpalkan kesenduan.
Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Terlalu banyak hal terjadi pada mereka dan sekian lama masing-masing memendam untuk diri sendiri. Mestinya pertemuan sore itu adalah untuk berbagi cerita bukan justru bertengkar kemudian saling diam. Atau mungkin karena perpisahan yang terlalu panjang, keduanya tak tahu apa yang harus diceritakan terlebih dahulu.
Mungkin memang begitu, karena senyatanya Reyna ingin berkata, beberapa tahun setelah perpisahan mereka ia masih juga mencari kabar tentang Mozes. Hingga suatu hari, satu setengah tahun setelah mereka tidak bersama seorang teman mengabarkan bahwa Mozes pulang ke Jakarta. Tak lama setelah itu, ia mendengar Mozes tengah melanglang buana. Buana yang mana, entah. Reyna merasa tidak perlu lagi mencari tahu keberadaan laki-laki itu. Meski tak jarang bayangan Mozes tiba-tiba membangunkan tidurnya atau menyergap ingatannya begitu Braham mulai menjamah tubuhnya dan membuat Reyna kesakitan tak terkira.
Terdengar Mozes menghela napas. Panjang. Perlahan gumpalan kemarahan yang menyesaki dada Reyna mereda. Namun hasrat untuk terus ngobrol telah tak ada. Maka sisa pertemuan itu pun berlalu begitu saja. Kebekuan masih mengental di antara keduanya. Hingga Reyna minta diri, dan beranjak pergi.
Hari-hari setelah kejadian itu, Reyna tak pernah tampak di depan Vredeburg lagi. Tetapi Mozes masih sering terlihat di salah satu bangku kayu di sana. Sendiri di tengah orang-orang muda yang tengah bercanda dan bercinta. Menghisap rokok kreteknya. Sesekali mengibaskan rambut putihnya yang panjang, tersapu angin menutup wajah tirusnya.
Begitu perasaan Reyna membaik dan siap bertemu Mozes lagi, ia kembali pada rutinitasnya, menunggu senja jatuh di Vredeburg. Namun ia harus menelan kecewa karena Mozes tak dijumpainya. Bahkan telepon genggamnya tak bisa dihubungi.
Suatu sore, di tengah keputusasaan Reyna, seorang teman mendatangi dan mengulurkan sebuah surat kepadanya. Surat dari Mozes!
"Hari-hari itu dia mencoba menghubungimu, tetapi HP-mu tak pernah aktif," kata laki-laki itu. "Ginjalnya tak berfungsi, serangan jantungnya kambuh, tekanan darahnya tidak stabil…"
Reyna tak bisa mendengar lagi penjelasan laki-laki itu. Bahkan ketika si teman menyerahkan satu dos buku dan tas berisi kamera warisan kekayaan Mozes untuknya, Reyna belum kembali pada kesadarannya.
Senja beranjak renta. Seperti Reyna merasai dirinya. Sepasang remaja di sebelahnya telah pergi. Begitu juga sekumpulan anak muda yang nongkrong di atas motor mereka, mulai menghidupkan mesin kendaraannya. Sisa adzan sayup terdengar dari Masjid Besar. Sebaris kalimat di surat terakhir Mozes meluncur dalam gumaman.
…maghrib begitu deras, ada yang terhempas, tapi ada goresan yang tak akan terkelupas.*
08.07
Tandjung ririh, kaya pengrawit cilik
Written By Harian Semarang on Sabtu, 05 November 2011 | 08.07
DI zaman sekarang sepertinya tidak banyak warga yang mencintai karawitan. Apalagi anak muda. Kebanyakan dari mereka lebih menyukai musik modern alias musik dari barat. Tapi tidak bagi siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri Gisikdrono 03, Semarang Barat. Di bawah nama grup karawitan Tandjung Ririh inilah mereka sengkuyung, gojeg sekaligus hikmat dalam memainkan tetabuhan gamelan.
Mereka dikenalkan betapa pentingnya mencintai kebudayaan Jawa sejak pendidikan dasar. Tak heran jika di tengah gegap gempita modernisasi, sebenarnya SD Negeri Gisikdrono 03 tersebut justru kaya waranggana dan wiraswara cilik.
Belajar kesenian daerah bernama karawitan, tentu bukan perkara mudah. Namun juga bukan hal yang tidak mungkin, jika anak-anak terlihat pandai bermain musik gamelan. Tentu ini butuh kerja keras dalam upaya melestarikan budaya Jawa yang konon adiluhung itu. Di sanggar minimalis bentukan guru inilah, terlihat puluhan siswa dari berbagai kelas. Mereka tampak sumringah berlatih kesenian karawitan tanpa lelah.
“Kami berlatih seminggu dua kali, yakni Kamis dan Jum’at Sore,” ujar Kepala Sekolah SD Negeri Gisikdrono 03 Sutari selaku pembina karawitan Tandjung Ririh, didampingi sang pelatih, Mariyanto, kemarin.
Rutinitas ini tergolong langka dan unik. Pasalnya, seni karawitan selama ini lebih dikenal dan dimainkan oleh kalangan orang dewasa atau orang tua. Bahkan cenderung dijauhi oleh anak muda. Namun di SD Gisikdrono 03 nyaris semua siswa mahir memainkan dan menabuh alat musik dari bahan logam dan kayu tersebut. Mereka sangat antusias dan sangat menikmati permainan musik khas Jawa ini.
“Kami berusaha mengenalkan dari awal, dan benar-benar dari nol. Mulai mengenalkan not angka dan cara membacanya,” terang Mariyanto.
Lebih lanjut dijelaskannya, setelah not angka terpampang di partitur, kemudian mereka berlatih membacanya.“Tidak hanya itu, sebelumnya kami mengenalkan nama masing-masing alat dan bagaimana cara membunyikannya. Meski kadang merasa keculitan membaca not karena tingkat kesulitan setiap hari bertahap dan semakin meningkat. Namun mereka tetap berlatih memelajari budaya bangsa yang sangat indah ini,” tambahnya.
Jangan Sampai Luntur
Pihak sekolah sengaja mengenalkan seni karawitan ini dari awal. Hal ini sebagai upaya untuk melestarikan budaya bangsa yang mulai luntur peminatnya terlebih di kalangan anak muda. Dikatakan Mariyanto, sejak dari awal berdirinya grup karawitan Tandjung Ririh pada 2000, ia baru mempunyai alat gamelan lengkap sejak 2008.
“Seni karawitan memang diperlukan alat musik yang cukup banyak. Di antaranya bonang barung, bonang panerus, kenong, kempul, kethuk, saron, gambang, gender, gong, rebab, gender, siter, demung, peking, kendang dan suling,” katanya.
Semua alat tersebut harus dimainkan secara harmonis, indah dan rancak. Kata Mariyanto, para penabuh gamelan dalam seni karawitan biasa disebut pengrawit, sedangkan penyanyi perempuan disebut waranggana dan yang laki-laki disebut wiraswara. Karena pesertanya masih anak-anak, maka dapat disebut, pengrawit cilik dan waranggana cilik.
Cengkok Jawa Sulit
Dalam proses penggarapan, Mariyanto mengaku, dalam menata komposisi grup yang terdiri 21 personel itu paling sulit adalah menata vokal. Cengkok lagu Jawa mempunyi tingkat kesulitan yang tinggi daripada lagu-lagu pop sekarang. Tekhnik vokal dari cengkok lagu Jawa butuh proses panjang mengolahnya. “Apalagi di sekolah ini masa aktif siswa hanya 3 tahun, yakni sejak kelas 3 hingga kelas 5 saja. Kelas 6 sudah inten jelang ujian. Begitu personel keluar, kita mencari bibit lagi,” katanya.
Namun yang lebih cepat, kata dia, adalah pengenalan alat terlebih dahulu. “Siswa dikenalkan masing-masing alat berikut cara memukulnya. Kemudian mengenalkan nada slendro maupun pelog. Jika slendro tidak ada angka 7 dan 4. Namun jika pelog sebaliknya ada angka 7 dan angka 4,” jelas pria alumni IKIP PGRI ini.
Sutari menimpali, lahirnya grup karawitan Tandjung Ririh ini merupakan angin segar untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan Jawa. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan membentuk karakter bangsa timur yang sopan dan menghindarkan anak-anak dari pengaruh buruk teknologi modern.
"Semarang terkenal kota yang panas dan kota berkembang. Di mana modernisasi terus melaju bersama peradaban. Maka sebagai benteng kepada generasi muda adalah mengajarkan seni karawitan ini yang sertamerta memelajari tata cara dan karakter bangsa dalam kehidupan sehari-hari yang lembut," terang Sutari.
Karena itu, keberadaan anak-anak ini harus terus dibina agar budaya bangsa tidak punah. Apalagi, siswa-siswi SD ini juga sering tampil pada pertunjukan ketoprak di hari-hari penting nasional di lingkungan sekolah mereka maupun beberapa undangan pentas partisipan. Tentu ini merupakan potensi yang luar biasa bagi Kota Semarang, meski kata dia belum pernah mendapat anggaran dalam pelaksanaan pendidikan kebudayaan ini. (abdul mughis/rif)
Mereka dikenalkan betapa pentingnya mencintai kebudayaan Jawa sejak pendidikan dasar. Tak heran jika di tengah gegap gempita modernisasi, sebenarnya SD Negeri Gisikdrono 03 tersebut justru kaya waranggana dan wiraswara cilik.
Belajar kesenian daerah bernama karawitan, tentu bukan perkara mudah. Namun juga bukan hal yang tidak mungkin, jika anak-anak terlihat pandai bermain musik gamelan. Tentu ini butuh kerja keras dalam upaya melestarikan budaya Jawa yang konon adiluhung itu. Di sanggar minimalis bentukan guru inilah, terlihat puluhan siswa dari berbagai kelas. Mereka tampak sumringah berlatih kesenian karawitan tanpa lelah.
“Kami berlatih seminggu dua kali, yakni Kamis dan Jum’at Sore,” ujar Kepala Sekolah SD Negeri Gisikdrono 03 Sutari selaku pembina karawitan Tandjung Ririh, didampingi sang pelatih, Mariyanto, kemarin.
Rutinitas ini tergolong langka dan unik. Pasalnya, seni karawitan selama ini lebih dikenal dan dimainkan oleh kalangan orang dewasa atau orang tua. Bahkan cenderung dijauhi oleh anak muda. Namun di SD Gisikdrono 03 nyaris semua siswa mahir memainkan dan menabuh alat musik dari bahan logam dan kayu tersebut. Mereka sangat antusias dan sangat menikmati permainan musik khas Jawa ini.
“Kami berusaha mengenalkan dari awal, dan benar-benar dari nol. Mulai mengenalkan not angka dan cara membacanya,” terang Mariyanto.
Lebih lanjut dijelaskannya, setelah not angka terpampang di partitur, kemudian mereka berlatih membacanya.“Tidak hanya itu, sebelumnya kami mengenalkan nama masing-masing alat dan bagaimana cara membunyikannya. Meski kadang merasa keculitan membaca not karena tingkat kesulitan setiap hari bertahap dan semakin meningkat. Namun mereka tetap berlatih memelajari budaya bangsa yang sangat indah ini,” tambahnya.
Jangan Sampai Luntur
Pihak sekolah sengaja mengenalkan seni karawitan ini dari awal. Hal ini sebagai upaya untuk melestarikan budaya bangsa yang mulai luntur peminatnya terlebih di kalangan anak muda. Dikatakan Mariyanto, sejak dari awal berdirinya grup karawitan Tandjung Ririh pada 2000, ia baru mempunyai alat gamelan lengkap sejak 2008.
“Seni karawitan memang diperlukan alat musik yang cukup banyak. Di antaranya bonang barung, bonang panerus, kenong, kempul, kethuk, saron, gambang, gender, gong, rebab, gender, siter, demung, peking, kendang dan suling,” katanya.
Semua alat tersebut harus dimainkan secara harmonis, indah dan rancak. Kata Mariyanto, para penabuh gamelan dalam seni karawitan biasa disebut pengrawit, sedangkan penyanyi perempuan disebut waranggana dan yang laki-laki disebut wiraswara. Karena pesertanya masih anak-anak, maka dapat disebut, pengrawit cilik dan waranggana cilik.
Cengkok Jawa Sulit
Dalam proses penggarapan, Mariyanto mengaku, dalam menata komposisi grup yang terdiri 21 personel itu paling sulit adalah menata vokal. Cengkok lagu Jawa mempunyi tingkat kesulitan yang tinggi daripada lagu-lagu pop sekarang. Tekhnik vokal dari cengkok lagu Jawa butuh proses panjang mengolahnya. “Apalagi di sekolah ini masa aktif siswa hanya 3 tahun, yakni sejak kelas 3 hingga kelas 5 saja. Kelas 6 sudah inten jelang ujian. Begitu personel keluar, kita mencari bibit lagi,” katanya.
Namun yang lebih cepat, kata dia, adalah pengenalan alat terlebih dahulu. “Siswa dikenalkan masing-masing alat berikut cara memukulnya. Kemudian mengenalkan nada slendro maupun pelog. Jika slendro tidak ada angka 7 dan 4. Namun jika pelog sebaliknya ada angka 7 dan angka 4,” jelas pria alumni IKIP PGRI ini.
Sutari menimpali, lahirnya grup karawitan Tandjung Ririh ini merupakan angin segar untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan Jawa. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan membentuk karakter bangsa timur yang sopan dan menghindarkan anak-anak dari pengaruh buruk teknologi modern.
"Semarang terkenal kota yang panas dan kota berkembang. Di mana modernisasi terus melaju bersama peradaban. Maka sebagai benteng kepada generasi muda adalah mengajarkan seni karawitan ini yang sertamerta memelajari tata cara dan karakter bangsa dalam kehidupan sehari-hari yang lembut," terang Sutari.
Karena itu, keberadaan anak-anak ini harus terus dibina agar budaya bangsa tidak punah. Apalagi, siswa-siswi SD ini juga sering tampil pada pertunjukan ketoprak di hari-hari penting nasional di lingkungan sekolah mereka maupun beberapa undangan pentas partisipan. Tentu ini merupakan potensi yang luar biasa bagi Kota Semarang, meski kata dia belum pernah mendapat anggaran dalam pelaksanaan pendidikan kebudayaan ini. (abdul mughis/rif)
08.03
Kisah cinta seorang wartawan
Judul : Belahan Jiwa
Penulis : Rosihan Anwar
Penerbit : Kompas
Terbit : I, April 2011
Tebal : 234 halaman
Harga : Rp. 48.000
Di antara puluhan buku maupun kumpulan tulisan yang pernah ditulisnya, Belahan Jiwa adalah buku yang paling memperlihatkan sisi romantis Rosihan Anwar. Buktinya, kata-kata seperti "sayang", "cinta" dan "salam manis" untuk Zuraida Sanawi, istrinya, bertebaran dalam buku ini.
Rosihan mengenal Ida, begitu panggilan akrab Zuraida, ketika keduanya bekerja di surat kabar Asia Raja. Awalnya hubungan mereka sebatas menyangkut pekerjaan. Tetapi garis tangan telah membawa mereka pada hubungan cinta.
Menurut Rosihan, keseriusannya membina hubungan dengan Ida tidak terlalu mulus. Pasalnya, ibu Ida mempertanyakan kesiapan Ida menerima Rosihan yang kala itu bekerja "hanya" sebagai wartawan.
Rosihan mahfum dengan pendapat calon mertuanya itu. Ia yakin, kebimbangan itu bukan didasarkan pada ketidaksukaan terhadap Rosihan, namun karena ia ingin Ida hidup bahagia. Ini wajar, sebab secara finansial, profesi wartawan saat itu tidaklah menjanjikan.
Dalam sebuah suratnya Ida menegaskan bahwa ia mau menerima Rosihan. Ia tahu benar konsekuensi-konsekuensi menjadi istri wartawan. Namun, dalam pandangan Ida, Rosihan adalah wartawan yang istimewa, itu alasannya ia mau menjadi istrinya.
Dalam buku ini memang dilampirkan sejumlah surat yang menunjukkan bagaimana korespondensi Ida dengan Rosihan. Kata-kata cinta yang sederhana plus cerita lain mengenai sahabat, kerabat dan lingkungan kerja, adalah ciri-ciri surat yang ditulis mereka.
Menariknya, dalam buku ini Rosihan tidak semata mengisahkan perjalanan cintanya, namun juga menuliskan sejumlah peristiwa sejarah. Inilah yang agak sulit untuk dihindari oleh Rosihan yang "berdarah" wartawan itu.
Dalam buku ini misalnya, Rosihan menuliskan peristiwa di kediaman AH Nasution pada saat terjadi G30S tahun 1965. Hal ini diceritakannya karena ia melihat sendiri kejadian tersebut secara “live”. Untuk diketahui, kediaman Rosihan kala itu berada di depan rumah AH Nasution. Baru keesokan harinya ia mengetahui secara lengkap apa yang sebenarnya telah terjadi.
Buku ini disusun oleh Rosihan setelah Ida tutup usia pada 5 September 2010. Dari buku ini terlihat bagaimana terpukulnya Rosihan setelah Ida meninggal dunia.
Bahkan anggota keluarga Rosihan harus berkali-kali memperingatkannya untuk tidak terus-menerus tenggelam dalam duka. Life must go on, begitu selalu disampaikan oleh anak-anaknya kepada Rosihan.
Lalu apa yang mendorong Rosihan menuliskan memoar ini. Bagi Rosihan menuliskan memoar adalah sebuah permohonan maaf sekaligus koreksi atas kesalahannya kepada Ida di masa lalu.
Seingat Rosihan, stres, tekanan pekerjaan, ancaman breidel, hingga situasi politik yang tidak menentu, kerap membuat dirinya ogah bicara kepada Ida. Ini yang diselali Rosihan. Tetapi Ida tidak melakukan protes, sebaliknya ia diam dan mengurus pekerjaan rumah seperti biasa. Itulah ekspresi cinta Ida yang besar terhadap Rosihan.
Buku ini bagaikan sebuah epilog dalam perjalanan hidup Rosihan. Sebuah epilog tentang cinta dan kesetiaan. Di sini Rosihan telah menyampaikannya dengan sangat indah. ***
Penulis : Rosihan Anwar
Penerbit : Kompas
Terbit : I, April 2011
Tebal : 234 halaman
Harga : Rp. 48.000
Di antara puluhan buku maupun kumpulan tulisan yang pernah ditulisnya, Belahan Jiwa adalah buku yang paling memperlihatkan sisi romantis Rosihan Anwar. Buktinya, kata-kata seperti "sayang", "cinta" dan "salam manis" untuk Zuraida Sanawi, istrinya, bertebaran dalam buku ini.
Rosihan mengenal Ida, begitu panggilan akrab Zuraida, ketika keduanya bekerja di surat kabar Asia Raja. Awalnya hubungan mereka sebatas menyangkut pekerjaan. Tetapi garis tangan telah membawa mereka pada hubungan cinta.
Menurut Rosihan, keseriusannya membina hubungan dengan Ida tidak terlalu mulus. Pasalnya, ibu Ida mempertanyakan kesiapan Ida menerima Rosihan yang kala itu bekerja "hanya" sebagai wartawan.
Rosihan mahfum dengan pendapat calon mertuanya itu. Ia yakin, kebimbangan itu bukan didasarkan pada ketidaksukaan terhadap Rosihan, namun karena ia ingin Ida hidup bahagia. Ini wajar, sebab secara finansial, profesi wartawan saat itu tidaklah menjanjikan.
Dalam sebuah suratnya Ida menegaskan bahwa ia mau menerima Rosihan. Ia tahu benar konsekuensi-konsekuensi menjadi istri wartawan. Namun, dalam pandangan Ida, Rosihan adalah wartawan yang istimewa, itu alasannya ia mau menjadi istrinya.
Dalam buku ini memang dilampirkan sejumlah surat yang menunjukkan bagaimana korespondensi Ida dengan Rosihan. Kata-kata cinta yang sederhana plus cerita lain mengenai sahabat, kerabat dan lingkungan kerja, adalah ciri-ciri surat yang ditulis mereka.
Menariknya, dalam buku ini Rosihan tidak semata mengisahkan perjalanan cintanya, namun juga menuliskan sejumlah peristiwa sejarah. Inilah yang agak sulit untuk dihindari oleh Rosihan yang "berdarah" wartawan itu.
Dalam buku ini misalnya, Rosihan menuliskan peristiwa di kediaman AH Nasution pada saat terjadi G30S tahun 1965. Hal ini diceritakannya karena ia melihat sendiri kejadian tersebut secara “live”. Untuk diketahui, kediaman Rosihan kala itu berada di depan rumah AH Nasution. Baru keesokan harinya ia mengetahui secara lengkap apa yang sebenarnya telah terjadi.
Buku ini disusun oleh Rosihan setelah Ida tutup usia pada 5 September 2010. Dari buku ini terlihat bagaimana terpukulnya Rosihan setelah Ida meninggal dunia.
Bahkan anggota keluarga Rosihan harus berkali-kali memperingatkannya untuk tidak terus-menerus tenggelam dalam duka. Life must go on, begitu selalu disampaikan oleh anak-anaknya kepada Rosihan.
Lalu apa yang mendorong Rosihan menuliskan memoar ini. Bagi Rosihan menuliskan memoar adalah sebuah permohonan maaf sekaligus koreksi atas kesalahannya kepada Ida di masa lalu.
Seingat Rosihan, stres, tekanan pekerjaan, ancaman breidel, hingga situasi politik yang tidak menentu, kerap membuat dirinya ogah bicara kepada Ida. Ini yang diselali Rosihan. Tetapi Ida tidak melakukan protes, sebaliknya ia diam dan mengurus pekerjaan rumah seperti biasa. Itulah ekspresi cinta Ida yang besar terhadap Rosihan.
Buku ini bagaikan sebuah epilog dalam perjalanan hidup Rosihan. Sebuah epilog tentang cinta dan kesetiaan. Di sini Rosihan telah menyampaikannya dengan sangat indah. ***
07.59
Memeluk Rembulan
Oleh Abdul Mughis
MENIKAH itu kadang seperti melihat pemandangan gunung dari jauh. Terlihat indah memang. Daun-daun hijau di lereng gunung seperti panorama yang agung dan menyegarkan, tapi sekaligus menyesakkan. Betapa tidak, seketika melihat, inginnya memetik bunga edelweiss atau bunga anggrek kantong semar di lereng-lerengnya. Namun seketika sampai di sana ternyata banyak jurang, duri, batu karang hingga tebing yang menganga lebar.
Sungguh tak terbayangkan sebelumnya, keindahan yang semula ada jika tidak hati-hati bisa mendadak berubah menjadi tempat yang berbahaya. Tak terduga sebelumnya jika duri-duri hingga sarang melata ada di sana. Maka sedemikian rupa langkah pun harus pelan-pelan dan waspada. Bahkan jika kaki-kaki salah melangkah bisa jadi terperosok dalam jurang. Namun jika telah sampai di sana, kaki pun tetap harus melangkah dengan hati-hati. Sebab jika berhenti, sama artinya pasrah tanpa perjuangan. Padahal bisa jadi pula itu menanti detik-detik kematian. Ah, merinding jika mengenang kalimat “Qabiltu nikahahaa wa tazwiijahaa bil mahril-mazdkuuri naqdan”.
“Saudara Sinar bin Surya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Rintik bin Guntur. Dengan maskawin berupa satu buah lukisan, satu buah kitab suci Al-Qur’an dan seperangkat alat sholat, tunai!” bimbing seorang penghulu kala itu.
Sembilan Tahun Lalu
Kalimat itu berlalu. Entah mengapa tiba-tiba kembali hadir dan melintas di ruangan ini. Pada ingatanku sendiri nyaris kusam. Mas Sinar, suamiku, adalah lelaki baik, dan bijaksana. Malam pertama aku benar-benar menikmati segala kasih sayang yang diberikannya. Malam itu kami sangat bahagia, tubuh ini telah menjadi satu, bahkan jiwa-jiwa ini telah melilit lalu menganyam kasih sayang.
Kami hidup dalam kondisi yang tercukupi, karena suamiku bekerja di sebuah perusahaan BUMN. Sementara aku sendiri bekerja sebagai guru swasta di sebuah sekolah swasta. Mobil dan rumah sederhana, ada. Pokoknya apa-apa ada, ingin ini itu juga bisa. Bersyukur sekali jika nikmat hidup saat itu terpenuhi. Toh, barangkali masih banyak saudara-saudaraku lainnya hidup dalam kondisi miskin. Tak jarang keluarga ada yang tak mampu membeli almari, meja atau kursi. Bahkan terparah tak mampu membeli garam, tumbar, bawang, lombok atau pun terasi terasi. Ya, barangkali itu bukan untuk aku.
“Maafkan aku ya dik,” ungkap suamiku saat itu.
“Sudahlah, aku tetap mencintai kamu, Mas ..”
“Meski aku ini mandul?”
“Mas ... ”
“Adakah yang lebih berharga selain anak?” timpal suamiku
Jawaban itu tiba-tiba mengiris bagian terdalam hatiku. Entah mengapa sangat perih.
Lima Tahun Lalu
Biarpun pedih, aku cukup mengerti atas ungkapan suamiku saat itu, jika sampai pada hari ini kami memang belum dikaruniai anak. Sebuah ungkapan pahit, namun aku melihat ketulusan yang terdalam dari suamiku. Jujur, itu yang benar-benar mengusik pikiranku dan suamiku. Beberapa kali aku telah mencoba mengikuti saran sahabat-sahabat dekat untuk pergi ke dokter spesialis kandungan, tapi belum ada hasil. Terapi tradisional hingga paranormal di koran. Semuanya bohong belaka! Dan yang paling pedih adalah ketika pertemuan reuni SMA ku, mereka menyanyikan lagu dangdut kampungan, “Sepuluh tahun sudah kita berumah tangga...” itu.
Aku tahu, sebenarnya mereka hanya menyanyi senang-senang, bukan mempersembahkan untukku. Tetapi aku gampang tersinggung mendengarnya.
Tiga Tahun Lalu
Setiap bangun pagi, sekitar pukul 06.00, aku rutin membuatkan kopi untuk suamiku. Ia membaca koran di beranda. Sebelumnya juga berjamaah sholat subuh bersama. Menjelang pukul tujuh, aku tak canggung membenarkan dasi, menyiapkan tas, kadang menyisir rambutnya, mencium tangan sebelum suami berangkat ke kantor.
Sesibuk apapun aktivitas pekerjaan, Mas Sinar selalu menyempatkan diri berkomunikasi melalui SMS. Bahkan ia tak canggung mengungkapkan “aku sayang kamu”, begitu pun balasku. Apa pun kondisinya, aku selalu senang dan bahagia hidup dengan suamiku. Memakai baju apa pun, putih, hitam, merah, hijau, biru, bagiku ia terlalu tampan.
Suatu siang aku menerima telepon. Lama sekali kami berbicara.
˝Sayang, aku harus melaksanakan tugas kantor di Bandung,˝
”Oya, berapa hari?”
”Seminggu,” jawabnya singkat.
”Ya sudah hati-hati ya Mas. Aku selalu kamu.”
Baru dua hari suami tak di rumah, terasa sepi sekali. Malam menjadi sunyi. Hingga seminggu aku sendirian. Kupandangi lukisan di dinding kamar. Sebuah lukisan abstrak seorang pria dan wanita sedang memeluk rembulan. O ya, itu maskawin dari suamiku. Indah sekali melihatnya. Selain pekerja keras, suamiku punya darah seni. Begitulah aku tak bosan-bosannya mengenang maskawin yang unik itu. Tentu saja, saat aku sedang kesepian karena ditinggalkan suami, tidak lupa membaca Al-Qur’an dan sholat malam dengan seperangkat alat sholat pemberiannya. Benda-benda inilah yang kemudian mewakilinya memeluk jiwaku.
Lantaran suami tak kunjung datang, rasa gelisah pun tetap saja merumah. Bahkan baru kali itu nomer teleponnya saat dihubungi tidak bisa. Hingga delapan hari, sembilan hari, bahkan sepuluh hari. Hal ini seperti tidak mungkin jika urusan kantor hingga berhari-hari. Terlebih ponselnya mati. Menginjak hari kesebelas, aku memutuskan menyusul ke Bandung. Namun belum jadi berangkat, tiba-tiba ponselku berdering.
“Maafkan aku, sekarang aku berada di Australia menyelesaikan tugas dari kantor,”
Aneh, pikirku. Bahkan saat itu suamiku mentrasfer sejumlah uang ke salah satu rekening milikku. Nada suara suamiku saat itu sangat buru-buru sehingga tak sempat bertanya lebih jauh. Bahkan setelah itu nomor juga kembali nonaktif. Itu sebabnya aku menjadi sangat sedih. Pikiranku berbalik lagi, mengapa sampai mengisi rekening segala? Dan beberapa saat setelah aku cek di rekening, ternyata jumlahnya sangat banyak. Aku semakin bertanya-tanya, ini seperti menjadi hal yang misterius. Dan tentu saja aku cemburu.
1 Tahun Lalu
Aku merasa kehilangan suami. Belum usai masalah ini dan belum ada juga ada jawaban pasti, ke mana suami pergi. Bahkan hingga saat itu selalu aku simpan dan kusembunyikan dari segala cecaran pertanyaaan dari tetangga maupun keluargaku.
Aku berusaha tenang meski sebenarnya terasa berat. Meski sebenarnya hari-hariku saat itu seperti telah hancur berkeping-keping. Ya Tuhan, ujian apa lagi yang hendak engkau berikan kepadaku?
4 Bulan Lalu
Tiba-tiba aku mendapat kabar dari teman akrab suamiku, bahwa ia saat ini sedang berada di sel tahanan Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat karena dugaan kasus korupsi. Ah, apalagi ini. Suamiku bukan orang yang seperti itu. Aku tahu persis siapa suamiku. Sembilan tahun aku membina keluarga, dan kini ia mendekam di sel penjara. Ya Tuhan, aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya Engkau yang bisa menjelaskan padaku.
3 Bulan Lalu
Malam itu masih gerimis, aku sengaja mematikan lampu kamar dan sholat malam. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu depan. Seperempat jam kubiarkan, dan belum genap pintu terbuka, terlihat wajah Mas Sinar berdiri di depan pintu.
“Menikahlah denganku lagi,” ungkap suamiku lirih.
Sontak tubuh ini bergetar. Hingga akhirnya di sebuah perkampungan terpencil terjadilah pernikahanku yang kedua.
“Saudara Sinar bin Surya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Rintik bin Guntur. Dengan maskawin berupa satu buah lukisan, satu buah kitab suci Al-Qur’an dan seperangkat alat sholat, tunai!” pandu naรฏb dua bulan yang lalu.
Ah…aku masih merinding mendengar kalimat “Qabiltu nikahahaa wa tazwiijahaa bil mahril-mazdkuuri naqdan”.
Saat ini kami hidup sederhana di sebuah rumah bambu. Mas Sinar kini menjadi seorang pengangguran, ia kehilangan pekerjaan, uang dan jabatan. Namun ia kini tersenyum saat menciumi perutku yang berdenyut.
Ngaliyan, 3 Mei 2010
*Cerita ini berdasarkan kisah nyata
------------------
Abdul Mughis
Penulis adalah pegiat seni Semarang, jurnalis, dan pengamat sosial. Kini lulusan IAIN Semarang ini bekerja di Harian Semarang
MENIKAH itu kadang seperti melihat pemandangan gunung dari jauh. Terlihat indah memang. Daun-daun hijau di lereng gunung seperti panorama yang agung dan menyegarkan, tapi sekaligus menyesakkan. Betapa tidak, seketika melihat, inginnya memetik bunga edelweiss atau bunga anggrek kantong semar di lereng-lerengnya. Namun seketika sampai di sana ternyata banyak jurang, duri, batu karang hingga tebing yang menganga lebar.
Sungguh tak terbayangkan sebelumnya, keindahan yang semula ada jika tidak hati-hati bisa mendadak berubah menjadi tempat yang berbahaya. Tak terduga sebelumnya jika duri-duri hingga sarang melata ada di sana. Maka sedemikian rupa langkah pun harus pelan-pelan dan waspada. Bahkan jika kaki-kaki salah melangkah bisa jadi terperosok dalam jurang. Namun jika telah sampai di sana, kaki pun tetap harus melangkah dengan hati-hati. Sebab jika berhenti, sama artinya pasrah tanpa perjuangan. Padahal bisa jadi pula itu menanti detik-detik kematian. Ah, merinding jika mengenang kalimat “Qabiltu nikahahaa wa tazwiijahaa bil mahril-mazdkuuri naqdan”.
“Saudara Sinar bin Surya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Rintik bin Guntur. Dengan maskawin berupa satu buah lukisan, satu buah kitab suci Al-Qur’an dan seperangkat alat sholat, tunai!” bimbing seorang penghulu kala itu.
Sembilan Tahun Lalu
Kalimat itu berlalu. Entah mengapa tiba-tiba kembali hadir dan melintas di ruangan ini. Pada ingatanku sendiri nyaris kusam. Mas Sinar, suamiku, adalah lelaki baik, dan bijaksana. Malam pertama aku benar-benar menikmati segala kasih sayang yang diberikannya. Malam itu kami sangat bahagia, tubuh ini telah menjadi satu, bahkan jiwa-jiwa ini telah melilit lalu menganyam kasih sayang.
Kami hidup dalam kondisi yang tercukupi, karena suamiku bekerja di sebuah perusahaan BUMN. Sementara aku sendiri bekerja sebagai guru swasta di sebuah sekolah swasta. Mobil dan rumah sederhana, ada. Pokoknya apa-apa ada, ingin ini itu juga bisa. Bersyukur sekali jika nikmat hidup saat itu terpenuhi. Toh, barangkali masih banyak saudara-saudaraku lainnya hidup dalam kondisi miskin. Tak jarang keluarga ada yang tak mampu membeli almari, meja atau kursi. Bahkan terparah tak mampu membeli garam, tumbar, bawang, lombok atau pun terasi terasi. Ya, barangkali itu bukan untuk aku.
“Maafkan aku ya dik,” ungkap suamiku saat itu.
“Sudahlah, aku tetap mencintai kamu, Mas ..”
“Meski aku ini mandul?”
“Mas ... ”
“Adakah yang lebih berharga selain anak?” timpal suamiku
Jawaban itu tiba-tiba mengiris bagian terdalam hatiku. Entah mengapa sangat perih.
Lima Tahun Lalu
Biarpun pedih, aku cukup mengerti atas ungkapan suamiku saat itu, jika sampai pada hari ini kami memang belum dikaruniai anak. Sebuah ungkapan pahit, namun aku melihat ketulusan yang terdalam dari suamiku. Jujur, itu yang benar-benar mengusik pikiranku dan suamiku. Beberapa kali aku telah mencoba mengikuti saran sahabat-sahabat dekat untuk pergi ke dokter spesialis kandungan, tapi belum ada hasil. Terapi tradisional hingga paranormal di koran. Semuanya bohong belaka! Dan yang paling pedih adalah ketika pertemuan reuni SMA ku, mereka menyanyikan lagu dangdut kampungan, “Sepuluh tahun sudah kita berumah tangga...” itu.
Aku tahu, sebenarnya mereka hanya menyanyi senang-senang, bukan mempersembahkan untukku. Tetapi aku gampang tersinggung mendengarnya.
Tiga Tahun Lalu
Setiap bangun pagi, sekitar pukul 06.00, aku rutin membuatkan kopi untuk suamiku. Ia membaca koran di beranda. Sebelumnya juga berjamaah sholat subuh bersama. Menjelang pukul tujuh, aku tak canggung membenarkan dasi, menyiapkan tas, kadang menyisir rambutnya, mencium tangan sebelum suami berangkat ke kantor.
Sesibuk apapun aktivitas pekerjaan, Mas Sinar selalu menyempatkan diri berkomunikasi melalui SMS. Bahkan ia tak canggung mengungkapkan “aku sayang kamu”, begitu pun balasku. Apa pun kondisinya, aku selalu senang dan bahagia hidup dengan suamiku. Memakai baju apa pun, putih, hitam, merah, hijau, biru, bagiku ia terlalu tampan.
Suatu siang aku menerima telepon. Lama sekali kami berbicara.
˝Sayang, aku harus melaksanakan tugas kantor di Bandung,˝
”Oya, berapa hari?”
”Seminggu,” jawabnya singkat.
”Ya sudah hati-hati ya Mas. Aku selalu kamu.”
Baru dua hari suami tak di rumah, terasa sepi sekali. Malam menjadi sunyi. Hingga seminggu aku sendirian. Kupandangi lukisan di dinding kamar. Sebuah lukisan abstrak seorang pria dan wanita sedang memeluk rembulan. O ya, itu maskawin dari suamiku. Indah sekali melihatnya. Selain pekerja keras, suamiku punya darah seni. Begitulah aku tak bosan-bosannya mengenang maskawin yang unik itu. Tentu saja, saat aku sedang kesepian karena ditinggalkan suami, tidak lupa membaca Al-Qur’an dan sholat malam dengan seperangkat alat sholat pemberiannya. Benda-benda inilah yang kemudian mewakilinya memeluk jiwaku.
Lantaran suami tak kunjung datang, rasa gelisah pun tetap saja merumah. Bahkan baru kali itu nomer teleponnya saat dihubungi tidak bisa. Hingga delapan hari, sembilan hari, bahkan sepuluh hari. Hal ini seperti tidak mungkin jika urusan kantor hingga berhari-hari. Terlebih ponselnya mati. Menginjak hari kesebelas, aku memutuskan menyusul ke Bandung. Namun belum jadi berangkat, tiba-tiba ponselku berdering.
“Maafkan aku, sekarang aku berada di Australia menyelesaikan tugas dari kantor,”
Aneh, pikirku. Bahkan saat itu suamiku mentrasfer sejumlah uang ke salah satu rekening milikku. Nada suara suamiku saat itu sangat buru-buru sehingga tak sempat bertanya lebih jauh. Bahkan setelah itu nomor juga kembali nonaktif. Itu sebabnya aku menjadi sangat sedih. Pikiranku berbalik lagi, mengapa sampai mengisi rekening segala? Dan beberapa saat setelah aku cek di rekening, ternyata jumlahnya sangat banyak. Aku semakin bertanya-tanya, ini seperti menjadi hal yang misterius. Dan tentu saja aku cemburu.
1 Tahun Lalu
Aku merasa kehilangan suami. Belum usai masalah ini dan belum ada juga ada jawaban pasti, ke mana suami pergi. Bahkan hingga saat itu selalu aku simpan dan kusembunyikan dari segala cecaran pertanyaaan dari tetangga maupun keluargaku.
Aku berusaha tenang meski sebenarnya terasa berat. Meski sebenarnya hari-hariku saat itu seperti telah hancur berkeping-keping. Ya Tuhan, ujian apa lagi yang hendak engkau berikan kepadaku?
4 Bulan Lalu
Tiba-tiba aku mendapat kabar dari teman akrab suamiku, bahwa ia saat ini sedang berada di sel tahanan Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat karena dugaan kasus korupsi. Ah, apalagi ini. Suamiku bukan orang yang seperti itu. Aku tahu persis siapa suamiku. Sembilan tahun aku membina keluarga, dan kini ia mendekam di sel penjara. Ya Tuhan, aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya Engkau yang bisa menjelaskan padaku.
3 Bulan Lalu
Malam itu masih gerimis, aku sengaja mematikan lampu kamar dan sholat malam. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu depan. Seperempat jam kubiarkan, dan belum genap pintu terbuka, terlihat wajah Mas Sinar berdiri di depan pintu.
“Menikahlah denganku lagi,” ungkap suamiku lirih.
Sontak tubuh ini bergetar. Hingga akhirnya di sebuah perkampungan terpencil terjadilah pernikahanku yang kedua.
“Saudara Sinar bin Surya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Rintik bin Guntur. Dengan maskawin berupa satu buah lukisan, satu buah kitab suci Al-Qur’an dan seperangkat alat sholat, tunai!” pandu naรฏb dua bulan yang lalu.
Ah…aku masih merinding mendengar kalimat “Qabiltu nikahahaa wa tazwiijahaa bil mahril-mazdkuuri naqdan”.
Ngaliyan, 3 Mei 2010
*Cerita ini berdasarkan kisah nyata
------------------
Abdul Mughis
Penulis adalah pegiat seni Semarang, jurnalis, dan pengamat sosial. Kini lulusan IAIN Semarang ini bekerja di Harian Semarang
07.52
Benar saja. Ia sudah gelisah dan muram. Kuparkir mobil agak jauh. Ia bergerak. Kaki langsatnya melenggang seperti rusa. Dituruninya tangga dengan dahi berkerenyit. Ayunan kakinya mengingatkanku pada Julia Roberts dalam Nothing Hill.
PRABASTARI muncul di layar handphone. Aku sempat menduganya meminta sesuatu, seperti biasa ia menelepon siang bolong sebelum kujemput dari tempat kerja. Dugaanku keliru.
“Aku sudah mengajukan cerai,” ujarnya riang.
“Sudah waktunya, Mas,” ujarnya sambil menyimak rombongan camar di langit.
“Tunggu beberapa minggu lagi, ya. Ada proyek besar di Surabaya yang harus kuselesaikan.”
“Ibu sudah berulang menanyakan.”
“Coba berikan kesan yang menyenangkan supaya mereka memahami situasi ini.”
“Akan kuusahakan. O iya, Mas, sebagian tabunganku kupakai mengangsur mobil. Ganti, dong.” Ia lantas menciumi bibirku bertubi-tubi. Berkecipak. Hati siapa tak berderak?
Bercinta dengan Serigala
Cerpen: Arief Firhanusa
AKU berselancar dalam rute pengkhianatan yang memabukkan setiap kali membayangkan Prabastari melambai cemas. Sesungguhnyalah tak lebih sepuluh menit ia menunggu. Tetapi ia memang kolokan, dan aku tanpa sengaja menciptakannya begitu. Anehnya aku sangat menikmati.
AKU berselancar dalam rute pengkhianatan yang memabukkan setiap kali membayangkan Prabastari melambai cemas. Sesungguhnyalah tak lebih sepuluh menit ia menunggu. Tetapi ia memang kolokan, dan aku tanpa sengaja menciptakannya begitu. Anehnya aku sangat menikmati.
Benar saja. Ia sudah gelisah dan muram. Kuparkir mobil agak jauh. Ia bergerak. Kaki langsatnya melenggang seperti rusa. Dituruninya tangga dengan dahi berkerenyit. Ayunan kakinya mengingatkanku pada Julia Roberts dalam Nothing Hill.
Tampaklah ia mulai menekuk wajah menjelang sampai. Sebuah ekspresi takut kehilangan yang amat kusukai. Biasanya ia cemberut sebentar. Kemudian mulai aleman. Dicubitnya bertubi-tubi pinggangku setengah gemas, dan aku pura-pura menepis sambil merengek minta ampun.
“Mengapa terlambat?” Ia menghambur ke dalam kabin seraya membawa aroma ST Dupon.
“Orang yang mau kutemui punya banyak alasan menghindar. Aku seperti kerbau dungu di lobi kantornya.” Kuatur sedemikian rupa suaraku supaya menimbulkan iba. Perlu sedikit sandiwara untuk melunakkannya.
“Nelpon, dong.”
“Maaf.”
“Lain kali jangan diulangi.”
“Beres, sayang. Ayo dong jangan cemberut.”
Ia pun tersenyum. Benar, bukan, ia tak sanggup bertahan lama dengan ketusnya. Pori-porinya mulai hangat saat lengannya kusentuh. Matanya menyempit. Kunyalakan Hero Mariah Carey yang amat ia sukai.
“Maaf.”
“Lain kali jangan diulangi.”
“Beres, sayang. Ayo dong jangan cemberut.”
Ia pun tersenyum. Benar, bukan, ia tak sanggup bertahan lama dengan ketusnya. Pori-porinya mulai hangat saat lengannya kusentuh. Matanya menyempit. Kunyalakan Hero Mariah Carey yang amat ia sukai.
“Kita langsung pulang?”
“Swalayan Bali.”
“Mau beli apa?” Tanyaku sambil menyembunyikan kekhawatiran.
“Ada guci bagus. Sebulan aku menahan keinginan membelinya.”
“Swalayan Bali.”
“Mau beli apa?” Tanyaku sambil menyembunyikan kekhawatiran.
“Ada guci bagus. Sebulan aku menahan keinginan membelinya.”
Kulirik arloji. Pukul tiga lebih dua puluh menit. Tinggal menyisakan seperempat jam lagi untuk kembali ke tempat tadi, sudut mal, tempat Priarum pada pukul 15.35 melambaikan tangan. Mengisyaratkan penungguan dengan retina mata menyala.
Tetapi kini aku milik Prabastari. Tangannya menggamit lenganku menyeruak toko, mengayun-ayunkan jantungku, tak menggubris kegalauanku memikirkan Priarum.
Ia menyisir petak demi petak rak keramik. Kakinya yang indah berebut pesona melawan guci cina. Sepasang kaki Maryln Monroe yang kutemukan di sela-sela rak baju, suatu siang, ketika aku memilih-milih kemeja.
HARI itu menjelang rapat bulanan. Memimpin meeting tak boleh tampil sembarangan. Ada tujuh anggota dewan komisaris yang menatapku, detik demi detik.
HARI itu menjelang rapat bulanan. Memimpin meeting tak boleh tampil sembarangan. Ada tujuh anggota dewan komisaris yang menatapku, detik demi detik.
Ah, Hismapia pasti memilih duduk paling dekat. Komisaris jelita itu selalu membuatku sesak napas. Tubuhnya padat bak penari balet. Mataku runtuh ke bibirnya yang basah setiap kami berdua mendiskusikan sesuatu. Ia perempuan malang setelah suaminya stroke. Tahukah ia aku amat menginginkannya?
Tetapi, ada baiknya mendengar pesan Warsa, kolegaku di Samarinda. “Jangan sekali-sekali berak di depan pintu!”
“Kalau mencret?” Timpalku.
“Itu perkecualian.”
Kami terpingkal-pingkal. Lelucon yang konyol.
“Kalau mencret?” Timpalku.
“Itu perkecualian.”
Kami terpingkal-pingkal. Lelucon yang konyol.
Tak ada reaksi apapun ketika aku menggeser-geser baju. Gadis itu terus saja menulis sesuatu. Segera kutemukan alasan mencuri perhatiannya, ketika lima menit di sana kami saling membisu.
“Saya harus pilih warna apa untuk jas biru?” Aku menahan debar dan tawa yang saling ingin menyalip. Di kantor aku dikenal sangat pintar mengombinasikan baju. Saat kuliah kawan-kawan perempuan menjadikanku acuan agar pacar-pacar mereka tetap tergila-gila.
“Putih atau biru muda,” katanya tanpa melirik. Matanya tetap jatuh di kertas. Mungkin ia sedang menulis laporan mingguan. Atau keliru hitung omzet. Barangkali lapar atau sakit. Mungkin …
“Banyak putih dan biru muda di sini. Yang mana?” Hahaha… Pertanyaan tolol. Persetan.
“Banyak putih dan biru muda di sini. Yang mana?” Hahaha… Pertanyaan tolol. Persetan.
Cara klasik tetapi butuh kesabaran, seperti kita memancing di arus deras. Ia mendongak setengah kesal. Matanya yang bulat segera melintas. Aku terkesiap mendapati keindahan lain. Tadinya aku mengira cuma kakinya yang mempesona.
“Bapak pernah pakai jas belum?”
Ah, perempuan yang galak. Ucapan yang ketus dan memerahkan telinga. Tetapi perempuan ini melakukan kesalahan pertama. Adrenalinku cepat naik justru ketika menghadapi perempuan macam ini.
Ah, perempuan yang galak. Ucapan yang ketus dan memerahkan telinga. Tetapi perempuan ini melakukan kesalahan pertama. Adrenalinku cepat naik justru ketika menghadapi perempuan macam ini.
“Baiklah kalau keberatan diskusi. Saya pindah sebelah saja,” aku bergerak, seolah angkat kaki. Namun perempuan acap lemah ketika dibenturkan rasa bersalah.
“Tunggu, Pak. Maafkan saya. Bukan berarti saya tak mau memilihkan baju. Sepagian ini saya kesal karena pimpinan marah melulu. Omzet penjualan menurun. Hm, bagaimana kalau biru muda yang ini?”
Pilihan sempurna. Keputusan yang tepat pula. Sebuah awal yang bagus untuk hadir dengan sikap pahlawan. Ia tampak kelelahan. Hanya perlu beberapa tips untuk membuatnya senang. Aku lulusan psikologi dan amat kenyang memimpin bawahan.
Hanya butuh setengah jam melabuhkannya dalam suasana temaram. Pipinya seranum mangga saat terkekeh mendengar joke-joke-ku. Lelucon basi, karena beberapa kali sebelumnya kupakai untuk memikat perempuan lain.
“Jam setengah satu?” Kuulang pertanyaan untuk memastikan kapan kami makan siang. Sesaat tadi binar matanya meremang. Ditraktir makan tentulah surprise. Selain irit, ia akan menemukan hal-hal baru. Cara menawarinya tentu tidak kampungan yang segera bisa ditebak gombalnya.
“Ya, Pak, kami hanya punya tiga puluh menit istirahat.”
“Bagaimana kalau memanggilku Mas saja.”
“Ya, Pak, kami hanya punya tiga puluh menit istirahat.”
“Bagaimana kalau memanggilku Mas saja.”
Ia tersipu. Itu salah satu jurus mautku. Kurasa lebih ampuh dibanding Wiro Sableng rekaan Bastian Tito. Tentu bukan makan siang sembarangan. Ia kugamit masuk restoran Korea, mengajarinya memanasi daging di tungku. Menyuapinya kalau perlu …
Lalu makan malam esoknya. Kujemput ia tepat waktu. Banyak pria gagal merenggut perempuan karena membiarkannya bosan menunggu. Kami menuju restoran sea food paling enak di kota ini. Ia tersenyum senang mengunyah udang saus tiram.
Setelah sekian kali bertemu, aku membuat pori-porinya membara saat iseng kuajari dia memindah persneleng. Persneleng itu bergerak mundur-maju, sesuai kebutuhan, ketika ada sesuatu anggota tubuhku yang juga bergejolak. Mobil kubelokkan ke sebuah hotel, tepat saat aliran darahku tak terkontrol lagi.
___
___
HANDPHONE-nya bertulalit.
“Sudah saya seterika celananya! Tinggal pilih krem atau hitam di lemari gantung! Mengapa mesti menelepon hanya untuk memilih celana?” Prabastari gusar pada seseorang. Tanpa tanya aku tahu itu suaminya. Lebih baik bagiku pura-pura tak mendengar.
“Kita pulang saja,” ajaknya setengah sewot sesaat kemudian.
“Loh?”
“Loh?”
“Aku mengira ibunya pernah mengajari bagaimana menjadi suami yang dewasa. Ternyata belum.” Ia muram. Percikan rumah tangga muda yang secara tak langsung turut kusulut.
Diam-diam aku bersyukur. Sejak tadi aku diliputi cemas membayangkan kehilangan Priarum hanya gara-gara telat menjemput.
Diam-diam aku bersyukur. Sejak tadi aku diliputi cemas membayangkan kehilangan Priarum hanya gara-gara telat menjemput.
Setelah menurunkan Prabastari di mulut gang, kususuri rute tadi. Kudapati Priarum duduk mematung seperti Monalisa tengah dilukis Leonardo da Vinci. Berbeda Prabastari, Priarum lebih tenang. Hanya kuklakson sekali, ia langsung beringsut. Rambutnya yang kelam dipermainkan angin. Ia menuruni anak tangga seperti slow motion Autumn in New York.
“Ke Buccerri sebentar yuk,” ujarnya riang dalam aroma Channel 5 yang meremas.
“Mau beli apa?”
“Ada sepatu bagus. Aku pernah sempat menimangnya tapi belum jadi beli.”
“Mau beli apa?”
“Ada sepatu bagus. Aku pernah sempat menimangnya tapi belum jadi beli.”
Saat Priarum menimang-nimang sepatu dan aku mendekat karena ia meminta pertimbangan, kurasakan cinta yang membara. Ia percaya diri dan sama sekali tak canggung, biar beberapa pasang mata melirik cemburu. Priarum memahami benar bagaimana ia harus berperan sebagai pasangan sempurna. Sesekali, terutama di keramaian, tanpa kuminta ia memanggilku ‘Papa’. Menciptakan kesan perfect sepasang ‘suami istri’ melalui bakat alam ditambah sedikit akting.
Mungkin ini petualangan konyol. Atau barangkali aku memang selalu mujur. Suatu siang ketika menjemput Prabastari makan, iseng aku melongok di kaca di gerai parfum. Perlu sebentar mengayun kaki selagi menunggu Prabastari yang dipanggil supervisornya di kantor mal. Hanya berjarak dua puluh meteran antarkeduanya, tetapi tiap tantangan mempunyai daya tarik tersendiri.
Seraut wajah tiba-tiba menyelonong. Hanya tiga puluh senti dari pipiku. Aku terkejut sebab ketika itu aku sedang sibuk meneliti takaran dan aroma. Ia memamerkan giginya yang putih. Terasa ada yang bergerak mendadak di sela pahaku.
“Itu cocok dipakai Bapak,” cerocos SPG ini tanpa diminta. Ia menunjuk botol mirip pangkal pentungan satpam.
“Sok tahu,” ujarku sekenanya. Menyembunyikan jantung yang berdegup ribut.
“Saya sudah pengalaman,” ucapnya. Lebih tepat bisiknya.
“Hanya soal parfum pengalamanmu itu?” Ahai.
“Tentu banyak lagi.”
“Tolong ceritakan pengalamanmu yang lain.”
“Saya sudah pengalaman,” ucapnya. Lebih tepat bisiknya.
“Hanya soal parfum pengalamanmu itu?” Ahai.
“Tentu banyak lagi.”
“Tolong ceritakan pengalamanmu yang lain.”
Ya, pengalaman apa yang hendak dikisahkan gadis molek sepertinya kalau bukan tarian-tarian penuh getaran? Ia bukan pesulap, tetapi mahir menyihir. Tubuhnya mirip selongsong peluru. Padat penuh amunisi.
Begitulah. Siang-siangku adalah rentetan pendakian. Sibuk menyusun jadwal percumbuan dengan dua SPG satu lantai. Menantang deras angin, seperti ketika kita menaiki jet coaster.
Priarum telah selesai dengan sepatunya. Kusodorkan kartu kredit pada kasir dengan rasa bangga yang terselimut. Kurang ajarnya Priarum sempat mengigit lembut lenganku bagian belakang. Aku memekik kecil di bawah tatapan beberapa pengunjung toko yang gusar.
___
PRABASTARI muncul di layar handphone. Aku sempat menduganya meminta sesuatu, seperti biasa ia menelepon siang bolong sebelum kujemput dari tempat kerja. Dugaanku keliru.
“Aku sudah mengajukan cerai,” ujarnya riang.
Seperti main scramble. Selalu muncul hal tak terduga dari setiap bidikan yang kita lakukan. Prabastari seolah papan scramble itu. Aku mengeluh pendek.
“Mengapa harus cerai?” Bisikku menghindari tatapan curiga Imay, sekretarisku, saat kami berdua makan di Gang-Gang Sulai. Terpaksa aku menyingkir ke teras restoran, biarpun Imay kuyakini tak bakal melotot atau judes. Lima tahun menjadi sekretarisku – dengan fasilitas ekstra – membuatnya seperti lubang kunci yang tak pernah mengeluh.
“Rumah tangga yang payah.”
“Perceraian juga tak menyenangkan.”
“Tak ada jalan lain.”
“Aku tak mau dibilang biangnya.”
“Menurutku Mas penyebabnya.”
“Apa yang kau lakukan setelah cerai?”
“Meminta Mas melamarku. Mas tak mungkin lupa apa yang sudah pernah kita bicarakan.”
Badai kecil runtuh di hatiku. Segera aku panik, tetapi secepat itu pula kuganti dengan suara cerah.
“Itu soal gampang. Namun coba dulu mempertahankan pernikahan.”
“Aku tak bisa berharap hidup dari gaji SPG dan bayaran suamiku yang cuma satpam.”
Nah!
“Kau tahu, aku sudah beristri.”
“Mas pun tahu, aku tak keberatan menjadi istri kedua.”
“Mengapa nekat?”
“Karena aku mencintai Mas.”
Hampir saja aku tersedak.
“Perceraian juga tak menyenangkan.”
“Tak ada jalan lain.”
“Aku tak mau dibilang biangnya.”
“Menurutku Mas penyebabnya.”
“Apa yang kau lakukan setelah cerai?”
“Meminta Mas melamarku. Mas tak mungkin lupa apa yang sudah pernah kita bicarakan.”
Badai kecil runtuh di hatiku. Segera aku panik, tetapi secepat itu pula kuganti dengan suara cerah.
“Itu soal gampang. Namun coba dulu mempertahankan pernikahan.”
“Aku tak bisa berharap hidup dari gaji SPG dan bayaran suamiku yang cuma satpam.”
Nah!
“Kau tahu, aku sudah beristri.”
“Mas pun tahu, aku tak keberatan menjadi istri kedua.”
“Mengapa nekat?”
“Karena aku mencintai Mas.”
Hampir saja aku tersedak.
Kutunda desakan Prabastari dengan sejumlah alasan. Telah lebih empat aku mencincangnya wortel. Tetapi yang kuberikan sudah melampaui batas. Kubelikan adiknya yang SMA sepeda motor, kubuka rekening atas namanya. Kujejali tabungan itu dengan sepuluh juta.
Rasa bersalah kadang saling ingin mendahului dengan gejolak kelelakian. Membawa perempuan kepada situasi sangat pasrah bukankah sudah berlebihan? Bayangkan: “tak masalah menjadi istri kedua”. Mungkin kalau sudah empat istri kumiliki, Prabastari enteng saja bilang tak masalah menjadi istri kelima.
Sesekali ingin melihat bagaimana tampang suaminya. Pemuda lugu dengan muka tirus? Pria dua puluh lima tahun yang kolokan? Lelaki kekar yang berbahaya?
Mungkin baik baginya bercerai, setidaknya terbebas dari istri yang penuh tipu daya. Mungkin pula rugi baginya, terutama bila ia akhirnya tak mendapatkan lagi istri cantik dan membara macam Prabastari.
___
SELANG sepekan kemudian. Priarum mengajakku bergulingan di pantai. Kami lima hari di Yogya. Ia cuti bersamaan ketika aku ada pertemuan penting di luar kota. Perlahan ia menyusupkan retinanya ke rongga mataku saat buih-buih menjilati kaki-kaki kami. Aku mendekatkan bibir ke pipinya yang merona. Angin laut membuat rambutnya saling tindih.
Sesekali ingin melihat bagaimana tampang suaminya. Pemuda lugu dengan muka tirus? Pria dua puluh lima tahun yang kolokan? Lelaki kekar yang berbahaya?
Mungkin baik baginya bercerai, setidaknya terbebas dari istri yang penuh tipu daya. Mungkin pula rugi baginya, terutama bila ia akhirnya tak mendapatkan lagi istri cantik dan membara macam Prabastari.
___
SELANG sepekan kemudian. Priarum mengajakku bergulingan di pantai. Kami lima hari di Yogya. Ia cuti bersamaan ketika aku ada pertemuan penting di luar kota. Perlahan ia menyusupkan retinanya ke rongga mataku saat buih-buih menjilati kaki-kaki kami. Aku mendekatkan bibir ke pipinya yang merona. Angin laut membuat rambutnya saling tindih.
“Sudah waktunya, Mas,” ujarnya sambil menyimak rombongan camar di langit.
“Tunggu beberapa minggu lagi, ya. Ada proyek besar di Surabaya yang harus kuselesaikan.”
“Ibu sudah berulang menanyakan.”
“Coba berikan kesan yang menyenangkan supaya mereka memahami situasi ini.”
“Akan kuusahakan. O iya, Mas, sebagian tabunganku kupakai mengangsur mobil. Ganti, dong.” Ia lantas menciumi bibirku bertubi-tubi. Berkecipak. Hati siapa tak berderak?
Dalam perjalanan pulang, pepohonan berkelebat. Lari menjauh dan kencang. Seperti itulah seharusnya Priarum. Tapi ia madu dalam botol besar. Butuh waktu lama menyereputnya, seloki demi seloki. Gadis-gadis pendahulunya rata-rata hanya bertahan – atau kupertahankan -- sebulan. Setelah rasa manis habis, kutinggal mereka di persimpangan jalan. Waktu bergerak menindasnya, lenyap tanpa bekas, sebagaimana nanti Prabastari dan Priarum juga hanya akan sibuk meneliti langit-langit kamarnya dengan rasa kehilangan yang membuat bantalnya basah.
Tetapi, di luar kebiasaan, keduanya bertahan hingga setahun. Kuteliti mengapa, sampai kusimpulkan aku mencintai mereka. Amat mencintai.
___
DINI hari telah basah. Di kaca jendela berkerumun embun. Lelehan air juga menggenang di beberapa bagian tubuhku, sejam lalu, berbaur dengan peluh di tubuh Prabastari.
___
DINI hari telah basah. Di kaca jendela berkerumun embun. Lelehan air juga menggenang di beberapa bagian tubuhku, sejam lalu, berbaur dengan peluh di tubuh Prabastari.
Saat menuang anggur, kubayangkan dengkur halus Priarum di lantai lain hotel ini. Dua jam lalu, aku pamitan dengannya saat matanya meredup. Kubilang ada urusan penting di luar hotel. Ia mengangguk lelah, lalu menyusup dalam selimut. Lalu pulas dalam sekejap.
Berjingkat-jingkat kuketuk pintu Prabastari di ruang 303. Bidadari ini membukanya sejenak kemudian. Datanglah siluet yang kuangankan. Ia berdiri di tengah kusen, mengenakan baju tidur paling lembut yang pernah ada. Menggariskan lekuk tubuh kenyal dan terawat lewat kehadiran lampu temaram dari dalam ruang. Aku menghambur kesetanan.
Kini Prabastari pun lelap. Kusentuh punggungnya. Bukan membangunkan kelopak perempuannya, melainkan mengingatkan segera pulang. Tak baik menjelang subuh seorang perempuan terhuyung-huyung menyusuri kampung.
Tetapi geliatnya begitu menggoda. Kamar bersuhu 16 derajad mendorong tangannya menangkap lenganku, menyurukku kembali ke bawah selimut. Ia terkekeh kecil saat aku seperti anak kanguru yang menyelinap ke kantong induknya. Anak kanguru yang mudah liar oleh hanya gesekan bulu tangan.
“Sudah fajar.” Aku menepis jemarinya yang liar di bawah selimut.
“Besok libur.”
“Masih banyak waktu.”
“Aku ingin mengulang.”
“Jangan nakal.”
“Aku ingin membuat Mas senang.”
“Bandel.”
“Biar.”
“Akan kubilang suamimu.”
“Si tolol itu lebih senang menetek ibunya.”
“Besok libur.”
“Masih banyak waktu.”
“Aku ingin mengulang.”
“Jangan nakal.”
“Aku ingin membuat Mas senang.”
“Bandel.”
“Biar.”
“Akan kubilang suamimu.”
“Si tolol itu lebih senang menetek ibunya.”
“Mengapa tak menyuruhku menetekmu…”
Ia merenggutku kasar. Baru saja kami hendak bertaut, tiba-tiba handphone-ku menyalak. Bunyi ringtone yang datang hanya dari ponsel Farida, istriku. Segera tanganku menyambar.
Ia merenggutku kasar. Baru saja kami hendak bertaut, tiba-tiba handphone-ku menyalak. Bunyi ringtone yang datang hanya dari ponsel Farida, istriku. Segera tanganku menyambar.
“Kau di mana?” Seketika kukenal suara di ujung sana. Suara seorang pria berwibawa.
“Masih di Surabaya, Pak.” Aku menggigit bibir, menelan kebohongan.
“Segera pulang kalau bisa. Anak keduamu baru saja lahir,” ucap Sumitra, mertuaku yang menelepon itu, setengah memerintah.
“Baik, Pak,” ujarku terbata.
Aku bergegas melompat dari ranjang seperti belalang. Tergesa kurenggut celana dalam. Menarik celana panjang dan kemeja dari gantungan. Melangkah berdebum dan terburu. Laki-laki atau perempuan? Berapa kilo bobotnya? Sehat atau butuh perawatan? Ah, aku akan menjadi ayah untuk kedua, setelah Gilang kini tujuh belas tahun.
Dalam gegas, tengkorakku dipenuhi lengking tangis yang mengalun dari mulut mungil. Segenap pori-poriku bergetar ketika seolah di depan mata perawat bergegas mengelap cairan dan darah, memotong tali pusar, membawa orok ke baskom besar, dikenalkan untuk pertama pada air. Mereka membilas dan mengelap, menyalakan tungku darah dagingku.
Farida tergolek lemah di ranjang, namun seorang dokter membimbingnya tetap siuman. Dokter itu tersenyum teduh. Lalu menyuntik. Ia memuji kehebatan pasiennya melakukan persalinan di usia empat puluh dua.
“Bapak di mana?” Tanya dokter dengan senyum yang masih mengembang.
“Sedang dinas di Surabaya,” jawab Farida dengan suara lemah tetapi mengandung rasa bangga.
Aku terkesiap. Dari kaca kulihat mukaku sepucat mentega. Kalau saja mereka tahu jarak rumah sakit dengan hotel ini tak lebih tiga ratus meter …
Saat mematut-matut, aku terperanjat bukan kepalang. Dari cermin tiba-tiba kulihat seekor serigala. Menyeringai dengan taring menganga saat ia setengah berdiri di tengah ranjang. Mendengus. Menggeram. Moncongnya bergerak-gerak menjulurkan lidah dengan liur menetes. Kutoleh. Hanya Prabastari di atas pembaringan. Ia menatapku dengan mata menguncup setengah tidur.
Aku menghambur keluar. Ingin lekas terbang ke rumah bersalin sekaligus lari menjauh dari kawanan serigala yang bersiap memangsa tulang belulang pria lima puluh tujuh tahun macam diriku … (*)
07.42
Perkembangan suatu arus kesusastraan dan pemikiran tentu tidak bisa dilepaskan dari kondisi-kondisi baik infrastruktur maupun suprastruktur suatu negara. Dalam kondisi infrastruktur yan baik tentu akan lebih cepat menghasilkan produk yang baik. Sebaliknya dalam kondisi infrastruktur yang jelek akan menghasilkan hal-hal yang jelek pula atau sekurang-kurangnya percepatan untuk melakukan perubahan yang signifikan akan terhambat.
Mengacu pada konteks lokal, katakanlah Semarang, siapakah yang sebenarnya bertanggjawab terhadap penciptaan infastruktur yang baik ini? Apakah pemerintah selaku pemegang regulasi? Fakultas sastra? Penerbitan? Media massa? Mahasiswa sastra? Kantong-kantong budaya? Dunia penerbitan? Atau siapa?
Tentu tidak akan selesai kalau kita harus menuding satu-persatu siapa yang harus bertanggungjawab. Setidak-tidaknya jawaban paling pragmatis adalah kalau ada fakultas sastra yang masih buka itu artinya masih ada yang membutuhkan. Kalau ada komunitas-komunitas yang masih bertahan itu mungkin indikasi sastra masih perlu ada.
Membaca fenomena sastra di Semarang, harus diakui belakangan terjadi gerakan yang progresif, terutama setelah mewabahnya sosial media. Banyak nama muncul dari jagat maya dan diam-diam tulisannya bagus.
Mereka adalah generasi terkini yang muncul tanpa banyak campur tangan seniornya. Kini mereka tumbuh dan pelan-pelan membuktikan dirinya bahwa di kota yang sering dianggap kuburan seni ini mampu lahir dan bahkan eksis di jagat kesusasteraan. Sebut saja, Ganz Pecandu Kata, Arif Fitra kurniawan, Musyafak Timur Banua, Widyanuri Eko Putra, dan sebagainya.
Kemunculan mereka menjadi angin segar, apalagi banyak di antara nama-nama tersebut mempunyai komunitas. Itu artinya kecenderungan ‘hanya’ menjad penulis tidak menghinggapi generasi terkini. Saya masih percaya di tengah infrastruktur yang berbenah pelan-pelan ini, berserikat tetap lebih menarik daripada diam di kamar sendirian dan tidak peduli apapun selain kegilaan untuk dianggap penulis yang dahsyat.
Penulis adalah Direktur Hysteria – organisasi seni yang bergerak di bidang permberdayaan anak muda berbasis komunitas – beralamat di Jalan Stonen 29, Bendan Ngisor, Semarang atau http://adinhysteria.blogspot.com/
Semarang dan perkembangan sastra anak muda terkini
Oleh: Ahmad Khairudin (Adin)
MENGUTIP Teeuw, karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya (1980:11). Artinya, karya sastra lahir dari konteks sejarah dan sosial budaya suatu bangsa. Karya sastra lahir juga dari dinamika yang ada di dalamnya sendiri (baca dunia literasi). Tanpa itu semua mustahil dunia sastra ada.
MENGUTIP Teeuw, karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya (1980:11). Artinya, karya sastra lahir dari konteks sejarah dan sosial budaya suatu bangsa. Karya sastra lahir juga dari dinamika yang ada di dalamnya sendiri (baca dunia literasi). Tanpa itu semua mustahil dunia sastra ada.
Perkembangan suatu arus kesusastraan dan pemikiran tentu tidak bisa dilepaskan dari kondisi-kondisi baik infrastruktur maupun suprastruktur suatu negara. Dalam kondisi infrastruktur yan baik tentu akan lebih cepat menghasilkan produk yang baik. Sebaliknya dalam kondisi infrastruktur yang jelek akan menghasilkan hal-hal yang jelek pula atau sekurang-kurangnya percepatan untuk melakukan perubahan yang signifikan akan terhambat.
Mengacu pada konteks lokal, katakanlah Semarang, siapakah yang sebenarnya bertanggjawab terhadap penciptaan infastruktur yang baik ini? Apakah pemerintah selaku pemegang regulasi? Fakultas sastra? Penerbitan? Media massa? Mahasiswa sastra? Kantong-kantong budaya? Dunia penerbitan? Atau siapa?
Tentu tidak akan selesai kalau kita harus menuding satu-persatu siapa yang harus bertanggungjawab. Setidak-tidaknya jawaban paling pragmatis adalah kalau ada fakultas sastra yang masih buka itu artinya masih ada yang membutuhkan. Kalau ada komunitas-komunitas yang masih bertahan itu mungkin indikasi sastra masih perlu ada.
Membaca fenomena sastra di Semarang, harus diakui belakangan terjadi gerakan yang progresif, terutama setelah mewabahnya sosial media. Banyak nama muncul dari jagat maya dan diam-diam tulisannya bagus.
Mereka adalah generasi terkini yang muncul tanpa banyak campur tangan seniornya. Kini mereka tumbuh dan pelan-pelan membuktikan dirinya bahwa di kota yang sering dianggap kuburan seni ini mampu lahir dan bahkan eksis di jagat kesusasteraan. Sebut saja, Ganz Pecandu Kata, Arif Fitra kurniawan, Musyafak Timur Banua, Widyanuri Eko Putra, dan sebagainya.
Kemunculan mereka menjadi angin segar, apalagi banyak di antara nama-nama tersebut mempunyai komunitas. Itu artinya kecenderungan ‘hanya’ menjad penulis tidak menghinggapi generasi terkini. Saya masih percaya di tengah infrastruktur yang berbenah pelan-pelan ini, berserikat tetap lebih menarik daripada diam di kamar sendirian dan tidak peduli apapun selain kegilaan untuk dianggap penulis yang dahsyat.
Penulis adalah Direktur Hysteria – organisasi seni yang bergerak di bidang permberdayaan anak muda berbasis komunitas – beralamat di Jalan Stonen 29, Bendan Ngisor, Semarang atau http://adinhysteria.blogspot.com/
07.40
Facebook merusak kesusasteraan (?)
DIAKUI atau tidak, merebaknya penggunaan situs jejaring sosial Facebook di dunia internet membawa dampak perubahan yang berarti di segala lini peradaban. Tak terkecuali dunia kesusasteraan. Tentu saja ada risiko yang mengikuti di belakangnya, segala dampak positif maupun negatif tak pelak menguntit kemudian.
Beberapa pihak menilai, untuk sastra, internet adalah tong sampah alias tempat membuang apa saja. Saut Situmorang juga mengatakan bahwa sastra internet hingga saat ini masih belum diakui keberadaannya. Barangkali benar. Pasalnya, setelah marak penggunaan media internet terutama Facebook, masyarakat, terutama penulis sastra, seperti dimanjakan. Bagaimana tidak, siapa saja bisa menulis apa, kapan, dan di mana saja tanpa terkekang ini itu. Tak peduli saya ini pemula atau pun kawakan. Persetan dengan sistematika, tempo, alur, plot, rima, nada, maupun diksi.
Asal penulis menganggap itu puisi, naskah kemudian diupload melalui Note Facebook dan di-tag ke puluhan teman, jadilah karya sastra. Jadilah puisi. Jadilah cerpen. Meski (kadang) tanpa memerhatikan kaidah sastra.
Berbeda dengan iklim sebelum era 2000-an, di mana saat media cetak masih mendominasi publikasi karya sastra. Saat itu, penulis sastra bersaing ketat agar karya sastranya bisa dimuat di madia cetak. Mereka harus lolos seleksi oleh redaktur media cetak terkait. Namun, setidaknya itu pula yang membentengi penulis sastra dalam menjaga kualitas dan kemurnian hasil karya sastranya.
Saat ini, diakui atau tidak. Sejak adanya Facebook, perkembangan kesusastraan di Indonesia ramai dan meriah. Hal ini diindikasikan dengan menjamurnya penulis baru di dunia maya, internet. Bahkan setiap detik kita bisa membaca karya sastra di beranda Facebook. Sebelum Facebook, dunia kepenulisan sastra pun telah diramaikan dengan memanfaatkan blog. Bagaimanapun itu perkembangan yang semestinya mendapat perhatian secara serius.
Beda Maya, Beda Nyata
Diskusi sastra bertema "Facebook Merusak Kesusastraan (?)" yang dihelat oleh Komunitas Sastra Teater Beta di halaman Laboratorium Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, baru-baru ini, adalah satu upaya membentengi terhadap kepenulisan sastra tersebut.
"Dunia maya memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan dunia nyata. Para pemakainya, dalam konteks ini, mereka yang mengoptimalkan Blog, Forum Online, Facebook dan lain-lain sebagai media berkarya, adalah individu-individu yang ‘berani’ menyebarluaskan karya sastranya secara, serta merta, massal. Sebab, semisal di blog, tulisan itu bisa muncul di mesin pencari Google. Artinya, pencari dan pecinta sastra di dunia internet di Indonesia bahkan di seluruh dunia ada kemungkinan menemukan dan membaca karya sastra tersebut," papar Novi selaku Ketua Komunitas Sastra Teater Beta.
Lebih mengerucut, Novi mengatakan, setidaknya tag teman di Facebook saja mencapai 50 teman, itu dimungkinkan membaca karya sastra hasil tag. Belum lagi, berapa jumlah teman. Semisal jumlah teman ada 3000, berarti itu juga ada kemungkinan bisa melihat publikasi tersebut. Itu bisa berlangsung kapan saja dan di mana saja. "Itulah keunikan dan kekuatan media internet yang tidak dimiliki media cetak," tutur Novi.
Betapa penulis sastra saat ini telah sebebas itu. Padahal, kata dia, jelas kepenulisan itu belum teruji. "Saya kawatir, kondisi seperti saat ini justru merusak kesusasteraan di Indonesia. Kita tahu, Facebook tidak ada redaktur yang eksistensinya seperti benteng seperti di media cetak atau koran," lanjutnya.
Komentator Membahayakan
Atas tema diskusi malam itu "Facebook Merusak Kesusastraan (?)", sastrawan Semarang Timur Sinar Suprabana selaku narasumber dalam diskusi tersebut menjawab, "Saya jawab, tidak! Mengapa? Karena Facebook hanyalah media. Merusak atau tidak tergantung pemakainya," katanya tegas.
Menurutnya, sejak adanya media Facebook, para penulis mampu melebarkan jaringan melalui pertemanannya sesama sastrawan. Sehingga dari jaringan tersebut mampu menghasilkan karya sastra baik dalam bentuk puisi maupun cerpen. "Sebut saja Helga Worotidjan, Kwek Lina, Hudan Hidayat adalah tokoh Facebook yang serius menyikapi hasil karya sastra dari pertemanan di FB kemudian menjadi buku. Di Semarang ada Galih Pandu Aji," terangnya.
Ditegaskan Timur, Facebook tidak merusak. Namun ia mengakui indikasi menurunnya kualitas penulisan memang iya. Dalam hal ini, Timur sangat menyayangkan sikap para komentator di Facebook yang asal njeplak semaunya dan tidak sesuai kaidah sastra.
Menurutnya, komentator semacam itu sangat membahayakan dan merusak. "Semisal, baru beberapa menit puisi di-uploud kemudian komentator telah menulis ‘Mantaaab!’. Apanya yang mantab? Tiga menit memberi jempol, kapan dia (komentator-red) membaca kemudian menghayati puisi? Ini hal yang tidak masuk akal dan sangat melecehkan," ungkap pria berambut gondrong ini.
Bagaimanapun, mengelola Facebook secara cerdas akan memberi kontribusi luar biasa. Andai saja tanpa Facebook pun penulis sastra tetap menulis karyanya. "Puisi mau ditayangkan di mana saja bobotnya tetap sama. Diterbitkan di koran apa saja, termasuk Facebook, bobotnya sama," tandasnya.
Bahkan di bak truk sekalipun, sastra bisa hadir tanpa terduga. Semisal, "Istri memang satu, tapi kekasih di mana-mana,". "Menurut saya, tulisan simpel semacam itu sangat masuk akal dan menggunakan hati. Meski itu ditulis oleh seorang sopir," kata Timur dalam acara diskusi yang diikuti puluhan sastrawan muda di Semarang itu. abdul mughis/rif
Beberapa pihak menilai, untuk sastra, internet adalah tong sampah alias tempat membuang apa saja. Saut Situmorang juga mengatakan bahwa sastra internet hingga saat ini masih belum diakui keberadaannya. Barangkali benar. Pasalnya, setelah marak penggunaan media internet terutama Facebook, masyarakat, terutama penulis sastra, seperti dimanjakan. Bagaimana tidak, siapa saja bisa menulis apa, kapan, dan di mana saja tanpa terkekang ini itu. Tak peduli saya ini pemula atau pun kawakan. Persetan dengan sistematika, tempo, alur, plot, rima, nada, maupun diksi.
Asal penulis menganggap itu puisi, naskah kemudian diupload melalui Note Facebook dan di-tag ke puluhan teman, jadilah karya sastra. Jadilah puisi. Jadilah cerpen. Meski (kadang) tanpa memerhatikan kaidah sastra.
Berbeda dengan iklim sebelum era 2000-an, di mana saat media cetak masih mendominasi publikasi karya sastra. Saat itu, penulis sastra bersaing ketat agar karya sastranya bisa dimuat di madia cetak. Mereka harus lolos seleksi oleh redaktur media cetak terkait. Namun, setidaknya itu pula yang membentengi penulis sastra dalam menjaga kualitas dan kemurnian hasil karya sastranya.
Saat ini, diakui atau tidak. Sejak adanya Facebook, perkembangan kesusastraan di Indonesia ramai dan meriah. Hal ini diindikasikan dengan menjamurnya penulis baru di dunia maya, internet. Bahkan setiap detik kita bisa membaca karya sastra di beranda Facebook. Sebelum Facebook, dunia kepenulisan sastra pun telah diramaikan dengan memanfaatkan blog. Bagaimanapun itu perkembangan yang semestinya mendapat perhatian secara serius.
Beda Maya, Beda Nyata
Diskusi sastra bertema "Facebook Merusak Kesusastraan (?)" yang dihelat oleh Komunitas Sastra Teater Beta di halaman Laboratorium Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, baru-baru ini, adalah satu upaya membentengi terhadap kepenulisan sastra tersebut.
"Dunia maya memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan dunia nyata. Para pemakainya, dalam konteks ini, mereka yang mengoptimalkan Blog, Forum Online, Facebook dan lain-lain sebagai media berkarya, adalah individu-individu yang ‘berani’ menyebarluaskan karya sastranya secara, serta merta, massal. Sebab, semisal di blog, tulisan itu bisa muncul di mesin pencari Google. Artinya, pencari dan pecinta sastra di dunia internet di Indonesia bahkan di seluruh dunia ada kemungkinan menemukan dan membaca karya sastra tersebut," papar Novi selaku Ketua Komunitas Sastra Teater Beta.
Lebih mengerucut, Novi mengatakan, setidaknya tag teman di Facebook saja mencapai 50 teman, itu dimungkinkan membaca karya sastra hasil tag. Belum lagi, berapa jumlah teman. Semisal jumlah teman ada 3000, berarti itu juga ada kemungkinan bisa melihat publikasi tersebut. Itu bisa berlangsung kapan saja dan di mana saja. "Itulah keunikan dan kekuatan media internet yang tidak dimiliki media cetak," tutur Novi.
Betapa penulis sastra saat ini telah sebebas itu. Padahal, kata dia, jelas kepenulisan itu belum teruji. "Saya kawatir, kondisi seperti saat ini justru merusak kesusasteraan di Indonesia. Kita tahu, Facebook tidak ada redaktur yang eksistensinya seperti benteng seperti di media cetak atau koran," lanjutnya.
Komentator Membahayakan
Atas tema diskusi malam itu "Facebook Merusak Kesusastraan (?)", sastrawan Semarang Timur Sinar Suprabana selaku narasumber dalam diskusi tersebut menjawab, "Saya jawab, tidak! Mengapa? Karena Facebook hanyalah media. Merusak atau tidak tergantung pemakainya," katanya tegas.
Menurutnya, sejak adanya media Facebook, para penulis mampu melebarkan jaringan melalui pertemanannya sesama sastrawan. Sehingga dari jaringan tersebut mampu menghasilkan karya sastra baik dalam bentuk puisi maupun cerpen. "Sebut saja Helga Worotidjan, Kwek Lina, Hudan Hidayat adalah tokoh Facebook yang serius menyikapi hasil karya sastra dari pertemanan di FB kemudian menjadi buku. Di Semarang ada Galih Pandu Aji," terangnya.
Ditegaskan Timur, Facebook tidak merusak. Namun ia mengakui indikasi menurunnya kualitas penulisan memang iya. Dalam hal ini, Timur sangat menyayangkan sikap para komentator di Facebook yang asal njeplak semaunya dan tidak sesuai kaidah sastra.
Menurutnya, komentator semacam itu sangat membahayakan dan merusak. "Semisal, baru beberapa menit puisi di-uploud kemudian komentator telah menulis ‘Mantaaab!’. Apanya yang mantab? Tiga menit memberi jempol, kapan dia (komentator-red) membaca kemudian menghayati puisi? Ini hal yang tidak masuk akal dan sangat melecehkan," ungkap pria berambut gondrong ini.
Bagaimanapun, mengelola Facebook secara cerdas akan memberi kontribusi luar biasa. Andai saja tanpa Facebook pun penulis sastra tetap menulis karyanya. "Puisi mau ditayangkan di mana saja bobotnya tetap sama. Diterbitkan di koran apa saja, termasuk Facebook, bobotnya sama," tandasnya.
Bahkan di bak truk sekalipun, sastra bisa hadir tanpa terduga. Semisal, "Istri memang satu, tapi kekasih di mana-mana,". "Menurut saya, tulisan simpel semacam itu sangat masuk akal dan menggunakan hati. Meski itu ditulis oleh seorang sopir," kata Timur dalam acara diskusi yang diikuti puluhan sastrawan muda di Semarang itu. abdul mughis/rif
07.32
Adin dan setitik perjuangan sastra Semarang
Sejak tergabung dengan organisasi Hysteria dan menjabat direktur pada 2007 hingga sekarang telah banyak dilakukan Adin. Untuk pertama kalinya Hysteria mempunyai forum rutin bernama “Ngobrol Sastra Rerasan Budaya” yang berlangsung hingga 21 kali pertemuan.
Hysteria yang pada mulanya ekslusif dan hanya untuk kalangan terbatas menjadi organisasi terbuka yang rajin menggelar diskusi. Sepulang dari lokakarya penulisan buku program oleh Yayasan Kelola di Jakarta 2007 awal, membuka mata Adin bahwa dia harus keluar dari Semarang untuk memuaskan dahaganya pada jaringan dan sosok pembimbing yang bisa menuntun langkahnya. Sejak saat itulah dia intens berhubungan dengan jaringan-jaringan yang ada di Yogjakarta, Jakarta, Bandung, Solo dan kota-kota lain.
Hsyteria juga tidak hanya berkutat di bidang penerbitan namun juga aktif menggelar event-event sastra. Gebrakan yang cukup menyolok mata pada 2008 dengan menggelar tiga acara besar sekaligus selama setahun: seminar sastra dengan pembicara S Prasetyo Utomo, Andrea Hirata, dan Arswendo Atmowiloto.
Kehadiran ketiga pembicara itu membuncahkan antusiasme anak-anak muda yang sedang keranjingan Laksar Pelangi. Ratusan orang hadir dalam acara itu. “Sastra Balik Desa” adalah tema yang dipilih karena bekerjasama langsung dengan masyarakat Gunungpati Semarang.
“Ratusan orang hadir dan puluhan sastrawan kenamaan hadir dari 21 kota. Salah satu isu yang diangkat pada saat itu adalah minimnya peran senior dalam medidik juniornya,” ujar Adin.
Sejauh yang Adin amati, Semarang minim mewariskan tradisi yang konstruktif. Generasi hari ini harus berguru pada dirinya sendiri dan berdialektika dengan pikiran-pikirannya sendiri karena para pendahulunya telah cukup umur dan merasa hal-hal semacam ini kuranglah penting.
“Maka jadilah generasi hari ini adalah generasi yatim piatu tanpa warisan sistem dan tradisi yang konstruktif. Tidak heran jika banyak yang tumbang karena disorientasi mau kemana lagi setelah ini. Toh senior mereka tidak banyak juga yang bertahan,” lanjutnya.
Menurutnya, perlu disayangkan jika orang-orang yang memiliki kepedulian seringkali tidak menjabat kekuasaan yang strategis. Untuk itu “Sastra Balik Desa” 2007 menjadi embrio awal bagi lingkaran jaringan yang dirintis Hysteria dalam konteks yang lebih luas, dan menurut rencana acara tersebut bakal dihelat lagi akhir tahun ini.
Masih pada tahun yang sama Hysteria juga mengadakan “Festival Kesenian Semarang: Konsoemsi Ataoe Mati!” Festival yang didanai organisasi dari Belanda ini barangkali festival yang dipaksaadakan mengingat Semarang pada saat itu belum mempunyai festival yang menggabungkan interdisipliner. Meskipun respons publik kurang menggairahkan barangkali bisa dikatakan adanya festival ini memantik festival serupa yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.
“Apapun respons publik kami mampu membuktikan diri sebagai sosok yang berkarakter dan punya sikap,” ungkap pemuda kelahiran Rembang ini begitu semangat.
Hysteria dan Konstelasi Kesenian Semarang
Berbekal prestasi itulah Adin pada 2009 mendapat kesempatan dan lulus seleksi Magang Nusantara Yayasan Kelola untuk menimba ilmu di Bandung. Selama 3 bulan di Commonroom, Bandung, pemuda kalem ini belajar banyak hal mengenai idealnya mengelola organisasi dan komunitas. Hasilnya adalah Hysteria yang sekarang telah mempunyai visi yang jelas bagaimana dia menempatkan diri pada konstelasi kehidupan kesenian baik di Semarang maupun dalam konteks lebih luas.
Di bawah pimpinan Adin hampir tiap bulan art space Hysteria yang bernama Grobak A(r)t Kos tidak pernah sepi dari kegiatan kesenian. Purna Cipta Nugraha sebagai pihak yang dipercaya mengelola art space sampai kewalahan mengatur jadwal dari proposal yang masuk.
Di bidang sastra sendiri Adin menggawangi terbentuknya Sastra Horeg. Bersama Agung Hima, Naka Andrian, Widyanuri, Gema Yudha dan lain-lain mereka menjadi gerakan teraktif yang menuntut adanya perbaikan sistem di bidang sastra dan menularkan kepedulian terutama pada generasi di bawahnya.
Gerakan ini meski belum sempurna tapi cukup sistematis dalam mengorganisasi dan melibatkan berbagai elemen yang saling melengkapi. Mereka memang membatasi diri pada konteks Semarang supaya ada fokus dan berdasar keyakinan bahwa untuk menacapai hal-hal besar dimulai dengan langkah kecil yang intensif, laten, militant dan berkesinambungan.
“Kelak gerakan ini jika berhasil akan menjadi modal pertama di bidang gerakan sub kultur yang ada di kota lunpia ini,” katanya sambil tertawa.
Melawan Mitos “Semarang Kuburan Seni”
Sejak kedatangannya di kota Semarang, Adin merasa ada sesuatu yang tidak beres pada kota ini. Kehausannya akan pegetahuan di bidang ilmu-ilmu humaniora telah mengantarnya dari satu forum ke forum dan diskusi-diskusi intens dengan berbagai kawannya. Mitos Semarang sebagai kota seni membuatnya terus bertanya-tanya dan gelisah mengapa sedikti sekali komunitas, institusi, organisasi, forum intelektual yang bertahan di kota ini.
“Benarkah sejatinya Semarang memang ditakdirkan sebagai kota industri yang hanya mengakomodasi kepentingan pasar dan tidak merawat sisi-sisi idealisme warganya, terutama di bidang kesenian” katanya saat ditemui di markas Hysteria Jalan Stonen 29 Sampangan, Semarang.
Menurutnya, Semarang pada masanya pernah dianggap sebagai kota intelektual dan lebih lagi kota yang cukup dinamis dan progresiv dengan gerakan buruhnya. Dia ingat Semaoen membangus Syarikat Islam Merah di kota ini. Dia juga ingat kota ini menjadi salah satu kota yang dikonstruksi oleh Belanda secara terarah setelah Amangkurat II memberikannya sebagai konsesi atas bantuan menumpas Trunojoyo. Dia juga tahu bahwa kebudayaan adalah konstruksi untuk itu perubahan sangat mungkin terjadi. Dan mitos adalah upaya bawah sadar untuk mempengaruhi perilaku masyarakat yang hidup didalamnya. Melalui mitos yang menggerakkan inilah segala ilmu pengetahuan bisa dipecundangi sehingga keadaan hari ini adalah keadaan terberi dan tidak bisa berubah. Dan ia menolak.
“Keadaan ini bisa berubah mitos bisa direkonstruksi, termasuk Semarang sebagai kuburan seni,” lanjut Adin.
Tentu bukan hal yang mudah karena butuh strategi budaya yang jitu. Namun harus ada yang memulai dan memantik supaya kelak keterputusan antar generasi ini tidak diwariskan turun temurun. Dialah Adin, direktur Hysteria dengan segala keyakinannya memutuskan untuk tinggal dan berproses di Semarang daripada mengikuti jejak para pendahulunya yang lebih realistis, pindah di kota dengan infrastruktur yang lebih siap.
Akhirnya Organisasi Hysteria yang beralamatkan Jalan Stonen 29 Sampangan ini memang yang menjadi senjata pertamanya untuk mewujudkan cita-citanya yang besar itu. Sebagai organisasi yang mendasarkan dirinya pada dukungan terhadap komunitas-komunitas yang kelak mandiri untuk saat ini selain melakukan program yang bermacam-macam juga mengadakan ekspermentasi sosial di bidang gerakan sastra. Kelak uji coba teori-teori social pada praksis gerakan sastra yang digelutinya. “Jika berhasil akan menjadi modal bagi sub kultur lain di Semarang yang selama ini berjalan sendiri-sendiri,” yakin pria yang punya tampilan sederhana ini.
Baginya organisasi yang bermukin di kota tentunya harus mempunyai imbas bagi wilayah yang ditempatinya. Sedangkan untuk membuat program yang tepat sasaran sebuah organisasi harus melakukan riset, analisis data dan ideologi untuk membuat gerakan tidak hanya bertumpu pada kepentingan finansial semata.
“Semarang bisa berubah, mulai dari diri sendiri, komunitas serta mengatur strategi demi jaringan yang lebih luas., tidak hanya local namun juga nasional bahkan internasional. Hal itu bisa dilihat dari rintisan yang dilakukan Hysteria yang beberapa kali kegiatan mereka berisikan orang-orang dari Jepang, Australia, Singapura, Italia, Spanyol, dan lain-lain,” terang Adin. (dwi nikmatika roma/rif)
Hysteria yang pada mulanya ekslusif dan hanya untuk kalangan terbatas menjadi organisasi terbuka yang rajin menggelar diskusi. Sepulang dari lokakarya penulisan buku program oleh Yayasan Kelola di Jakarta 2007 awal, membuka mata Adin bahwa dia harus keluar dari Semarang untuk memuaskan dahaganya pada jaringan dan sosok pembimbing yang bisa menuntun langkahnya. Sejak saat itulah dia intens berhubungan dengan jaringan-jaringan yang ada di Yogjakarta, Jakarta, Bandung, Solo dan kota-kota lain.
Hsyteria juga tidak hanya berkutat di bidang penerbitan namun juga aktif menggelar event-event sastra. Gebrakan yang cukup menyolok mata pada 2008 dengan menggelar tiga acara besar sekaligus selama setahun: seminar sastra dengan pembicara S Prasetyo Utomo, Andrea Hirata, dan Arswendo Atmowiloto.
Kehadiran ketiga pembicara itu membuncahkan antusiasme anak-anak muda yang sedang keranjingan Laksar Pelangi. Ratusan orang hadir dalam acara itu. “Sastra Balik Desa” adalah tema yang dipilih karena bekerjasama langsung dengan masyarakat Gunungpati Semarang.
“Ratusan orang hadir dan puluhan sastrawan kenamaan hadir dari 21 kota. Salah satu isu yang diangkat pada saat itu adalah minimnya peran senior dalam medidik juniornya,” ujar Adin.
Sejauh yang Adin amati, Semarang minim mewariskan tradisi yang konstruktif. Generasi hari ini harus berguru pada dirinya sendiri dan berdialektika dengan pikiran-pikirannya sendiri karena para pendahulunya telah cukup umur dan merasa hal-hal semacam ini kuranglah penting.
“Maka jadilah generasi hari ini adalah generasi yatim piatu tanpa warisan sistem dan tradisi yang konstruktif. Tidak heran jika banyak yang tumbang karena disorientasi mau kemana lagi setelah ini. Toh senior mereka tidak banyak juga yang bertahan,” lanjutnya.
Menurutnya, perlu disayangkan jika orang-orang yang memiliki kepedulian seringkali tidak menjabat kekuasaan yang strategis. Untuk itu “Sastra Balik Desa” 2007 menjadi embrio awal bagi lingkaran jaringan yang dirintis Hysteria dalam konteks yang lebih luas, dan menurut rencana acara tersebut bakal dihelat lagi akhir tahun ini.
Masih pada tahun yang sama Hysteria juga mengadakan “Festival Kesenian Semarang: Konsoemsi Ataoe Mati!” Festival yang didanai organisasi dari Belanda ini barangkali festival yang dipaksaadakan mengingat Semarang pada saat itu belum mempunyai festival yang menggabungkan interdisipliner. Meskipun respons publik kurang menggairahkan barangkali bisa dikatakan adanya festival ini memantik festival serupa yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.
“Apapun respons publik kami mampu membuktikan diri sebagai sosok yang berkarakter dan punya sikap,” ungkap pemuda kelahiran Rembang ini begitu semangat.
Hysteria dan Konstelasi Kesenian Semarang
Berbekal prestasi itulah Adin pada 2009 mendapat kesempatan dan lulus seleksi Magang Nusantara Yayasan Kelola untuk menimba ilmu di Bandung. Selama 3 bulan di Commonroom, Bandung, pemuda kalem ini belajar banyak hal mengenai idealnya mengelola organisasi dan komunitas. Hasilnya adalah Hysteria yang sekarang telah mempunyai visi yang jelas bagaimana dia menempatkan diri pada konstelasi kehidupan kesenian baik di Semarang maupun dalam konteks lebih luas.
Di bawah pimpinan Adin hampir tiap bulan art space Hysteria yang bernama Grobak A(r)t Kos tidak pernah sepi dari kegiatan kesenian. Purna Cipta Nugraha sebagai pihak yang dipercaya mengelola art space sampai kewalahan mengatur jadwal dari proposal yang masuk.
Di bidang sastra sendiri Adin menggawangi terbentuknya Sastra Horeg. Bersama Agung Hima, Naka Andrian, Widyanuri, Gema Yudha dan lain-lain mereka menjadi gerakan teraktif yang menuntut adanya perbaikan sistem di bidang sastra dan menularkan kepedulian terutama pada generasi di bawahnya.
Gerakan ini meski belum sempurna tapi cukup sistematis dalam mengorganisasi dan melibatkan berbagai elemen yang saling melengkapi. Mereka memang membatasi diri pada konteks Semarang supaya ada fokus dan berdasar keyakinan bahwa untuk menacapai hal-hal besar dimulai dengan langkah kecil yang intensif, laten, militant dan berkesinambungan.
“Kelak gerakan ini jika berhasil akan menjadi modal pertama di bidang gerakan sub kultur yang ada di kota lunpia ini,” katanya sambil tertawa.
Melawan Mitos “Semarang Kuburan Seni”
Sejak kedatangannya di kota Semarang, Adin merasa ada sesuatu yang tidak beres pada kota ini. Kehausannya akan pegetahuan di bidang ilmu-ilmu humaniora telah mengantarnya dari satu forum ke forum dan diskusi-diskusi intens dengan berbagai kawannya. Mitos Semarang sebagai kota seni membuatnya terus bertanya-tanya dan gelisah mengapa sedikti sekali komunitas, institusi, organisasi, forum intelektual yang bertahan di kota ini.
“Benarkah sejatinya Semarang memang ditakdirkan sebagai kota industri yang hanya mengakomodasi kepentingan pasar dan tidak merawat sisi-sisi idealisme warganya, terutama di bidang kesenian” katanya saat ditemui di markas Hysteria Jalan Stonen 29 Sampangan, Semarang.
Menurutnya, Semarang pada masanya pernah dianggap sebagai kota intelektual dan lebih lagi kota yang cukup dinamis dan progresiv dengan gerakan buruhnya. Dia ingat Semaoen membangus Syarikat Islam Merah di kota ini. Dia juga ingat kota ini menjadi salah satu kota yang dikonstruksi oleh Belanda secara terarah setelah Amangkurat II memberikannya sebagai konsesi atas bantuan menumpas Trunojoyo. Dia juga tahu bahwa kebudayaan adalah konstruksi untuk itu perubahan sangat mungkin terjadi. Dan mitos adalah upaya bawah sadar untuk mempengaruhi perilaku masyarakat yang hidup didalamnya. Melalui mitos yang menggerakkan inilah segala ilmu pengetahuan bisa dipecundangi sehingga keadaan hari ini adalah keadaan terberi dan tidak bisa berubah. Dan ia menolak.
“Keadaan ini bisa berubah mitos bisa direkonstruksi, termasuk Semarang sebagai kuburan seni,” lanjut Adin.
Tentu bukan hal yang mudah karena butuh strategi budaya yang jitu. Namun harus ada yang memulai dan memantik supaya kelak keterputusan antar generasi ini tidak diwariskan turun temurun. Dialah Adin, direktur Hysteria dengan segala keyakinannya memutuskan untuk tinggal dan berproses di Semarang daripada mengikuti jejak para pendahulunya yang lebih realistis, pindah di kota dengan infrastruktur yang lebih siap.
Akhirnya Organisasi Hysteria yang beralamatkan Jalan Stonen 29 Sampangan ini memang yang menjadi senjata pertamanya untuk mewujudkan cita-citanya yang besar itu. Sebagai organisasi yang mendasarkan dirinya pada dukungan terhadap komunitas-komunitas yang kelak mandiri untuk saat ini selain melakukan program yang bermacam-macam juga mengadakan ekspermentasi sosial di bidang gerakan sastra. Kelak uji coba teori-teori social pada praksis gerakan sastra yang digelutinya. “Jika berhasil akan menjadi modal bagi sub kultur lain di Semarang yang selama ini berjalan sendiri-sendiri,” yakin pria yang punya tampilan sederhana ini.
Baginya organisasi yang bermukin di kota tentunya harus mempunyai imbas bagi wilayah yang ditempatinya. Sedangkan untuk membuat program yang tepat sasaran sebuah organisasi harus melakukan riset, analisis data dan ideologi untuk membuat gerakan tidak hanya bertumpu pada kepentingan finansial semata.
“Semarang bisa berubah, mulai dari diri sendiri, komunitas serta mengatur strategi demi jaringan yang lebih luas., tidak hanya local namun juga nasional bahkan internasional. Hal itu bisa dilihat dari rintisan yang dilakukan Hysteria yang beberapa kali kegiatan mereka berisikan orang-orang dari Jepang, Australia, Singapura, Italia, Spanyol, dan lain-lain,” terang Adin. (dwi nikmatika roma/rif)











