Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Sastrawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastrawan. Tampilkan semua postingan
07.42
Perkembangan suatu arus kesusastraan dan pemikiran tentu tidak bisa dilepaskan dari kondisi-kondisi baik infrastruktur maupun suprastruktur suatu negara. Dalam kondisi infrastruktur yan baik tentu akan lebih cepat menghasilkan produk yang baik. Sebaliknya dalam kondisi infrastruktur yang jelek akan menghasilkan hal-hal yang jelek pula atau sekurang-kurangnya percepatan untuk melakukan perubahan yang signifikan akan terhambat.
Mengacu pada konteks lokal, katakanlah Semarang, siapakah yang sebenarnya bertanggjawab terhadap penciptaan infastruktur yang baik ini? Apakah pemerintah selaku pemegang regulasi? Fakultas sastra? Penerbitan? Media massa? Mahasiswa sastra? Kantong-kantong budaya? Dunia penerbitan? Atau siapa?
Tentu tidak akan selesai kalau kita harus menuding satu-persatu siapa yang harus bertanggungjawab. Setidak-tidaknya jawaban paling pragmatis adalah kalau ada fakultas sastra yang masih buka itu artinya masih ada yang membutuhkan. Kalau ada komunitas-komunitas yang masih bertahan itu mungkin indikasi sastra masih perlu ada.
Membaca fenomena sastra di Semarang, harus diakui belakangan terjadi gerakan yang progresif, terutama setelah mewabahnya sosial media. Banyak nama muncul dari jagat maya dan diam-diam tulisannya bagus.
Mereka adalah generasi terkini yang muncul tanpa banyak campur tangan seniornya. Kini mereka tumbuh dan pelan-pelan membuktikan dirinya bahwa di kota yang sering dianggap kuburan seni ini mampu lahir dan bahkan eksis di jagat kesusasteraan. Sebut saja, Ganz Pecandu Kata, Arif Fitra kurniawan, Musyafak Timur Banua, Widyanuri Eko Putra, dan sebagainya.
Kemunculan mereka menjadi angin segar, apalagi banyak di antara nama-nama tersebut mempunyai komunitas. Itu artinya kecenderungan ‘hanya’ menjad penulis tidak menghinggapi generasi terkini. Saya masih percaya di tengah infrastruktur yang berbenah pelan-pelan ini, berserikat tetap lebih menarik daripada diam di kamar sendirian dan tidak peduli apapun selain kegilaan untuk dianggap penulis yang dahsyat.
Penulis adalah Direktur Hysteria – organisasi seni yang bergerak di bidang permberdayaan anak muda berbasis komunitas – beralamat di Jalan Stonen 29, Bendan Ngisor, Semarang atau http://adinhysteria.blogspot.com/
Semarang dan perkembangan sastra anak muda terkini
Written By Harian Semarang on Sabtu, 05 November 2011 | 07.42
Oleh: Ahmad Khairudin (Adin)
MENGUTIP Teeuw, karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya (1980:11). Artinya, karya sastra lahir dari konteks sejarah dan sosial budaya suatu bangsa. Karya sastra lahir juga dari dinamika yang ada di dalamnya sendiri (baca dunia literasi). Tanpa itu semua mustahil dunia sastra ada.
MENGUTIP Teeuw, karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya (1980:11). Artinya, karya sastra lahir dari konteks sejarah dan sosial budaya suatu bangsa. Karya sastra lahir juga dari dinamika yang ada di dalamnya sendiri (baca dunia literasi). Tanpa itu semua mustahil dunia sastra ada.
Perkembangan suatu arus kesusastraan dan pemikiran tentu tidak bisa dilepaskan dari kondisi-kondisi baik infrastruktur maupun suprastruktur suatu negara. Dalam kondisi infrastruktur yan baik tentu akan lebih cepat menghasilkan produk yang baik. Sebaliknya dalam kondisi infrastruktur yang jelek akan menghasilkan hal-hal yang jelek pula atau sekurang-kurangnya percepatan untuk melakukan perubahan yang signifikan akan terhambat.
Mengacu pada konteks lokal, katakanlah Semarang, siapakah yang sebenarnya bertanggjawab terhadap penciptaan infastruktur yang baik ini? Apakah pemerintah selaku pemegang regulasi? Fakultas sastra? Penerbitan? Media massa? Mahasiswa sastra? Kantong-kantong budaya? Dunia penerbitan? Atau siapa?
Tentu tidak akan selesai kalau kita harus menuding satu-persatu siapa yang harus bertanggungjawab. Setidak-tidaknya jawaban paling pragmatis adalah kalau ada fakultas sastra yang masih buka itu artinya masih ada yang membutuhkan. Kalau ada komunitas-komunitas yang masih bertahan itu mungkin indikasi sastra masih perlu ada.
Membaca fenomena sastra di Semarang, harus diakui belakangan terjadi gerakan yang progresif, terutama setelah mewabahnya sosial media. Banyak nama muncul dari jagat maya dan diam-diam tulisannya bagus.
Mereka adalah generasi terkini yang muncul tanpa banyak campur tangan seniornya. Kini mereka tumbuh dan pelan-pelan membuktikan dirinya bahwa di kota yang sering dianggap kuburan seni ini mampu lahir dan bahkan eksis di jagat kesusasteraan. Sebut saja, Ganz Pecandu Kata, Arif Fitra kurniawan, Musyafak Timur Banua, Widyanuri Eko Putra, dan sebagainya.
Kemunculan mereka menjadi angin segar, apalagi banyak di antara nama-nama tersebut mempunyai komunitas. Itu artinya kecenderungan ‘hanya’ menjad penulis tidak menghinggapi generasi terkini. Saya masih percaya di tengah infrastruktur yang berbenah pelan-pelan ini, berserikat tetap lebih menarik daripada diam di kamar sendirian dan tidak peduli apapun selain kegilaan untuk dianggap penulis yang dahsyat.
Penulis adalah Direktur Hysteria – organisasi seni yang bergerak di bidang permberdayaan anak muda berbasis komunitas – beralamat di Jalan Stonen 29, Bendan Ngisor, Semarang atau http://adinhysteria.blogspot.com/
07.40
Facebook merusak kesusasteraan (?)
DIAKUI atau tidak, merebaknya penggunaan situs jejaring sosial Facebook di dunia internet membawa dampak perubahan yang berarti di segala lini peradaban. Tak terkecuali dunia kesusasteraan. Tentu saja ada risiko yang mengikuti di belakangnya, segala dampak positif maupun negatif tak pelak menguntit kemudian.
Beberapa pihak menilai, untuk sastra, internet adalah tong sampah alias tempat membuang apa saja. Saut Situmorang juga mengatakan bahwa sastra internet hingga saat ini masih belum diakui keberadaannya. Barangkali benar. Pasalnya, setelah marak penggunaan media internet terutama Facebook, masyarakat, terutama penulis sastra, seperti dimanjakan. Bagaimana tidak, siapa saja bisa menulis apa, kapan, dan di mana saja tanpa terkekang ini itu. Tak peduli saya ini pemula atau pun kawakan. Persetan dengan sistematika, tempo, alur, plot, rima, nada, maupun diksi.
Asal penulis menganggap itu puisi, naskah kemudian diupload melalui Note Facebook dan di-tag ke puluhan teman, jadilah karya sastra. Jadilah puisi. Jadilah cerpen. Meski (kadang) tanpa memerhatikan kaidah sastra.
Berbeda dengan iklim sebelum era 2000-an, di mana saat media cetak masih mendominasi publikasi karya sastra. Saat itu, penulis sastra bersaing ketat agar karya sastranya bisa dimuat di madia cetak. Mereka harus lolos seleksi oleh redaktur media cetak terkait. Namun, setidaknya itu pula yang membentengi penulis sastra dalam menjaga kualitas dan kemurnian hasil karya sastranya.
Saat ini, diakui atau tidak. Sejak adanya Facebook, perkembangan kesusastraan di Indonesia ramai dan meriah. Hal ini diindikasikan dengan menjamurnya penulis baru di dunia maya, internet. Bahkan setiap detik kita bisa membaca karya sastra di beranda Facebook. Sebelum Facebook, dunia kepenulisan sastra pun telah diramaikan dengan memanfaatkan blog. Bagaimanapun itu perkembangan yang semestinya mendapat perhatian secara serius.
Beda Maya, Beda Nyata
Diskusi sastra bertema "Facebook Merusak Kesusastraan (?)" yang dihelat oleh Komunitas Sastra Teater Beta di halaman Laboratorium Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, baru-baru ini, adalah satu upaya membentengi terhadap kepenulisan sastra tersebut.
"Dunia maya memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan dunia nyata. Para pemakainya, dalam konteks ini, mereka yang mengoptimalkan Blog, Forum Online, Facebook dan lain-lain sebagai media berkarya, adalah individu-individu yang ‘berani’ menyebarluaskan karya sastranya secara, serta merta, massal. Sebab, semisal di blog, tulisan itu bisa muncul di mesin pencari Google. Artinya, pencari dan pecinta sastra di dunia internet di Indonesia bahkan di seluruh dunia ada kemungkinan menemukan dan membaca karya sastra tersebut," papar Novi selaku Ketua Komunitas Sastra Teater Beta.
Lebih mengerucut, Novi mengatakan, setidaknya tag teman di Facebook saja mencapai 50 teman, itu dimungkinkan membaca karya sastra hasil tag. Belum lagi, berapa jumlah teman. Semisal jumlah teman ada 3000, berarti itu juga ada kemungkinan bisa melihat publikasi tersebut. Itu bisa berlangsung kapan saja dan di mana saja. "Itulah keunikan dan kekuatan media internet yang tidak dimiliki media cetak," tutur Novi.
Betapa penulis sastra saat ini telah sebebas itu. Padahal, kata dia, jelas kepenulisan itu belum teruji. "Saya kawatir, kondisi seperti saat ini justru merusak kesusasteraan di Indonesia. Kita tahu, Facebook tidak ada redaktur yang eksistensinya seperti benteng seperti di media cetak atau koran," lanjutnya.
Komentator Membahayakan
Atas tema diskusi malam itu "Facebook Merusak Kesusastraan (?)", sastrawan Semarang Timur Sinar Suprabana selaku narasumber dalam diskusi tersebut menjawab, "Saya jawab, tidak! Mengapa? Karena Facebook hanyalah media. Merusak atau tidak tergantung pemakainya," katanya tegas.
Menurutnya, sejak adanya media Facebook, para penulis mampu melebarkan jaringan melalui pertemanannya sesama sastrawan. Sehingga dari jaringan tersebut mampu menghasilkan karya sastra baik dalam bentuk puisi maupun cerpen. "Sebut saja Helga Worotidjan, Kwek Lina, Hudan Hidayat adalah tokoh Facebook yang serius menyikapi hasil karya sastra dari pertemanan di FB kemudian menjadi buku. Di Semarang ada Galih Pandu Aji," terangnya.
Ditegaskan Timur, Facebook tidak merusak. Namun ia mengakui indikasi menurunnya kualitas penulisan memang iya. Dalam hal ini, Timur sangat menyayangkan sikap para komentator di Facebook yang asal njeplak semaunya dan tidak sesuai kaidah sastra.
Menurutnya, komentator semacam itu sangat membahayakan dan merusak. "Semisal, baru beberapa menit puisi di-uploud kemudian komentator telah menulis ‘Mantaaab!’. Apanya yang mantab? Tiga menit memberi jempol, kapan dia (komentator-red) membaca kemudian menghayati puisi? Ini hal yang tidak masuk akal dan sangat melecehkan," ungkap pria berambut gondrong ini.
Bagaimanapun, mengelola Facebook secara cerdas akan memberi kontribusi luar biasa. Andai saja tanpa Facebook pun penulis sastra tetap menulis karyanya. "Puisi mau ditayangkan di mana saja bobotnya tetap sama. Diterbitkan di koran apa saja, termasuk Facebook, bobotnya sama," tandasnya.
Bahkan di bak truk sekalipun, sastra bisa hadir tanpa terduga. Semisal, "Istri memang satu, tapi kekasih di mana-mana,". "Menurut saya, tulisan simpel semacam itu sangat masuk akal dan menggunakan hati. Meski itu ditulis oleh seorang sopir," kata Timur dalam acara diskusi yang diikuti puluhan sastrawan muda di Semarang itu. abdul mughis/rif
Beberapa pihak menilai, untuk sastra, internet adalah tong sampah alias tempat membuang apa saja. Saut Situmorang juga mengatakan bahwa sastra internet hingga saat ini masih belum diakui keberadaannya. Barangkali benar. Pasalnya, setelah marak penggunaan media internet terutama Facebook, masyarakat, terutama penulis sastra, seperti dimanjakan. Bagaimana tidak, siapa saja bisa menulis apa, kapan, dan di mana saja tanpa terkekang ini itu. Tak peduli saya ini pemula atau pun kawakan. Persetan dengan sistematika, tempo, alur, plot, rima, nada, maupun diksi.
Asal penulis menganggap itu puisi, naskah kemudian diupload melalui Note Facebook dan di-tag ke puluhan teman, jadilah karya sastra. Jadilah puisi. Jadilah cerpen. Meski (kadang) tanpa memerhatikan kaidah sastra.
Berbeda dengan iklim sebelum era 2000-an, di mana saat media cetak masih mendominasi publikasi karya sastra. Saat itu, penulis sastra bersaing ketat agar karya sastranya bisa dimuat di madia cetak. Mereka harus lolos seleksi oleh redaktur media cetak terkait. Namun, setidaknya itu pula yang membentengi penulis sastra dalam menjaga kualitas dan kemurnian hasil karya sastranya.
Saat ini, diakui atau tidak. Sejak adanya Facebook, perkembangan kesusastraan di Indonesia ramai dan meriah. Hal ini diindikasikan dengan menjamurnya penulis baru di dunia maya, internet. Bahkan setiap detik kita bisa membaca karya sastra di beranda Facebook. Sebelum Facebook, dunia kepenulisan sastra pun telah diramaikan dengan memanfaatkan blog. Bagaimanapun itu perkembangan yang semestinya mendapat perhatian secara serius.
Beda Maya, Beda Nyata
Diskusi sastra bertema "Facebook Merusak Kesusastraan (?)" yang dihelat oleh Komunitas Sastra Teater Beta di halaman Laboratorium Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, baru-baru ini, adalah satu upaya membentengi terhadap kepenulisan sastra tersebut.
"Dunia maya memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan dunia nyata. Para pemakainya, dalam konteks ini, mereka yang mengoptimalkan Blog, Forum Online, Facebook dan lain-lain sebagai media berkarya, adalah individu-individu yang ‘berani’ menyebarluaskan karya sastranya secara, serta merta, massal. Sebab, semisal di blog, tulisan itu bisa muncul di mesin pencari Google. Artinya, pencari dan pecinta sastra di dunia internet di Indonesia bahkan di seluruh dunia ada kemungkinan menemukan dan membaca karya sastra tersebut," papar Novi selaku Ketua Komunitas Sastra Teater Beta.
Lebih mengerucut, Novi mengatakan, setidaknya tag teman di Facebook saja mencapai 50 teman, itu dimungkinkan membaca karya sastra hasil tag. Belum lagi, berapa jumlah teman. Semisal jumlah teman ada 3000, berarti itu juga ada kemungkinan bisa melihat publikasi tersebut. Itu bisa berlangsung kapan saja dan di mana saja. "Itulah keunikan dan kekuatan media internet yang tidak dimiliki media cetak," tutur Novi.
Betapa penulis sastra saat ini telah sebebas itu. Padahal, kata dia, jelas kepenulisan itu belum teruji. "Saya kawatir, kondisi seperti saat ini justru merusak kesusasteraan di Indonesia. Kita tahu, Facebook tidak ada redaktur yang eksistensinya seperti benteng seperti di media cetak atau koran," lanjutnya.
Komentator Membahayakan
Atas tema diskusi malam itu "Facebook Merusak Kesusastraan (?)", sastrawan Semarang Timur Sinar Suprabana selaku narasumber dalam diskusi tersebut menjawab, "Saya jawab, tidak! Mengapa? Karena Facebook hanyalah media. Merusak atau tidak tergantung pemakainya," katanya tegas.
Menurutnya, sejak adanya media Facebook, para penulis mampu melebarkan jaringan melalui pertemanannya sesama sastrawan. Sehingga dari jaringan tersebut mampu menghasilkan karya sastra baik dalam bentuk puisi maupun cerpen. "Sebut saja Helga Worotidjan, Kwek Lina, Hudan Hidayat adalah tokoh Facebook yang serius menyikapi hasil karya sastra dari pertemanan di FB kemudian menjadi buku. Di Semarang ada Galih Pandu Aji," terangnya.
Ditegaskan Timur, Facebook tidak merusak. Namun ia mengakui indikasi menurunnya kualitas penulisan memang iya. Dalam hal ini, Timur sangat menyayangkan sikap para komentator di Facebook yang asal njeplak semaunya dan tidak sesuai kaidah sastra.
Menurutnya, komentator semacam itu sangat membahayakan dan merusak. "Semisal, baru beberapa menit puisi di-uploud kemudian komentator telah menulis ‘Mantaaab!’. Apanya yang mantab? Tiga menit memberi jempol, kapan dia (komentator-red) membaca kemudian menghayati puisi? Ini hal yang tidak masuk akal dan sangat melecehkan," ungkap pria berambut gondrong ini.
Bagaimanapun, mengelola Facebook secara cerdas akan memberi kontribusi luar biasa. Andai saja tanpa Facebook pun penulis sastra tetap menulis karyanya. "Puisi mau ditayangkan di mana saja bobotnya tetap sama. Diterbitkan di koran apa saja, termasuk Facebook, bobotnya sama," tandasnya.
Bahkan di bak truk sekalipun, sastra bisa hadir tanpa terduga. Semisal, "Istri memang satu, tapi kekasih di mana-mana,". "Menurut saya, tulisan simpel semacam itu sangat masuk akal dan menggunakan hati. Meski itu ditulis oleh seorang sopir," kata Timur dalam acara diskusi yang diikuti puluhan sastrawan muda di Semarang itu. abdul mughis/rif
07.32
Adin dan setitik perjuangan sastra Semarang
Sejak tergabung dengan organisasi Hysteria dan menjabat direktur pada 2007 hingga sekarang telah banyak dilakukan Adin. Untuk pertama kalinya Hysteria mempunyai forum rutin bernama “Ngobrol Sastra Rerasan Budaya” yang berlangsung hingga 21 kali pertemuan.
Hysteria yang pada mulanya ekslusif dan hanya untuk kalangan terbatas menjadi organisasi terbuka yang rajin menggelar diskusi. Sepulang dari lokakarya penulisan buku program oleh Yayasan Kelola di Jakarta 2007 awal, membuka mata Adin bahwa dia harus keluar dari Semarang untuk memuaskan dahaganya pada jaringan dan sosok pembimbing yang bisa menuntun langkahnya. Sejak saat itulah dia intens berhubungan dengan jaringan-jaringan yang ada di Yogjakarta, Jakarta, Bandung, Solo dan kota-kota lain.
Hsyteria juga tidak hanya berkutat di bidang penerbitan namun juga aktif menggelar event-event sastra. Gebrakan yang cukup menyolok mata pada 2008 dengan menggelar tiga acara besar sekaligus selama setahun: seminar sastra dengan pembicara S Prasetyo Utomo, Andrea Hirata, dan Arswendo Atmowiloto.
Kehadiran ketiga pembicara itu membuncahkan antusiasme anak-anak muda yang sedang keranjingan Laksar Pelangi. Ratusan orang hadir dalam acara itu. “Sastra Balik Desa” adalah tema yang dipilih karena bekerjasama langsung dengan masyarakat Gunungpati Semarang.
“Ratusan orang hadir dan puluhan sastrawan kenamaan hadir dari 21 kota. Salah satu isu yang diangkat pada saat itu adalah minimnya peran senior dalam medidik juniornya,” ujar Adin.
Sejauh yang Adin amati, Semarang minim mewariskan tradisi yang konstruktif. Generasi hari ini harus berguru pada dirinya sendiri dan berdialektika dengan pikiran-pikirannya sendiri karena para pendahulunya telah cukup umur dan merasa hal-hal semacam ini kuranglah penting.
“Maka jadilah generasi hari ini adalah generasi yatim piatu tanpa warisan sistem dan tradisi yang konstruktif. Tidak heran jika banyak yang tumbang karena disorientasi mau kemana lagi setelah ini. Toh senior mereka tidak banyak juga yang bertahan,” lanjutnya.
Menurutnya, perlu disayangkan jika orang-orang yang memiliki kepedulian seringkali tidak menjabat kekuasaan yang strategis. Untuk itu “Sastra Balik Desa” 2007 menjadi embrio awal bagi lingkaran jaringan yang dirintis Hysteria dalam konteks yang lebih luas, dan menurut rencana acara tersebut bakal dihelat lagi akhir tahun ini.
Masih pada tahun yang sama Hysteria juga mengadakan “Festival Kesenian Semarang: Konsoemsi Ataoe Mati!” Festival yang didanai organisasi dari Belanda ini barangkali festival yang dipaksaadakan mengingat Semarang pada saat itu belum mempunyai festival yang menggabungkan interdisipliner. Meskipun respons publik kurang menggairahkan barangkali bisa dikatakan adanya festival ini memantik festival serupa yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.
“Apapun respons publik kami mampu membuktikan diri sebagai sosok yang berkarakter dan punya sikap,” ungkap pemuda kelahiran Rembang ini begitu semangat.
Hysteria dan Konstelasi Kesenian Semarang
Berbekal prestasi itulah Adin pada 2009 mendapat kesempatan dan lulus seleksi Magang Nusantara Yayasan Kelola untuk menimba ilmu di Bandung. Selama 3 bulan di Commonroom, Bandung, pemuda kalem ini belajar banyak hal mengenai idealnya mengelola organisasi dan komunitas. Hasilnya adalah Hysteria yang sekarang telah mempunyai visi yang jelas bagaimana dia menempatkan diri pada konstelasi kehidupan kesenian baik di Semarang maupun dalam konteks lebih luas.
Di bawah pimpinan Adin hampir tiap bulan art space Hysteria yang bernama Grobak A(r)t Kos tidak pernah sepi dari kegiatan kesenian. Purna Cipta Nugraha sebagai pihak yang dipercaya mengelola art space sampai kewalahan mengatur jadwal dari proposal yang masuk.
Di bidang sastra sendiri Adin menggawangi terbentuknya Sastra Horeg. Bersama Agung Hima, Naka Andrian, Widyanuri, Gema Yudha dan lain-lain mereka menjadi gerakan teraktif yang menuntut adanya perbaikan sistem di bidang sastra dan menularkan kepedulian terutama pada generasi di bawahnya.
Gerakan ini meski belum sempurna tapi cukup sistematis dalam mengorganisasi dan melibatkan berbagai elemen yang saling melengkapi. Mereka memang membatasi diri pada konteks Semarang supaya ada fokus dan berdasar keyakinan bahwa untuk menacapai hal-hal besar dimulai dengan langkah kecil yang intensif, laten, militant dan berkesinambungan.
“Kelak gerakan ini jika berhasil akan menjadi modal pertama di bidang gerakan sub kultur yang ada di kota lunpia ini,” katanya sambil tertawa.
Melawan Mitos “Semarang Kuburan Seni”
Sejak kedatangannya di kota Semarang, Adin merasa ada sesuatu yang tidak beres pada kota ini. Kehausannya akan pegetahuan di bidang ilmu-ilmu humaniora telah mengantarnya dari satu forum ke forum dan diskusi-diskusi intens dengan berbagai kawannya. Mitos Semarang sebagai kota seni membuatnya terus bertanya-tanya dan gelisah mengapa sedikti sekali komunitas, institusi, organisasi, forum intelektual yang bertahan di kota ini.
“Benarkah sejatinya Semarang memang ditakdirkan sebagai kota industri yang hanya mengakomodasi kepentingan pasar dan tidak merawat sisi-sisi idealisme warganya, terutama di bidang kesenian” katanya saat ditemui di markas Hysteria Jalan Stonen 29 Sampangan, Semarang.
Menurutnya, Semarang pada masanya pernah dianggap sebagai kota intelektual dan lebih lagi kota yang cukup dinamis dan progresiv dengan gerakan buruhnya. Dia ingat Semaoen membangus Syarikat Islam Merah di kota ini. Dia juga ingat kota ini menjadi salah satu kota yang dikonstruksi oleh Belanda secara terarah setelah Amangkurat II memberikannya sebagai konsesi atas bantuan menumpas Trunojoyo. Dia juga tahu bahwa kebudayaan adalah konstruksi untuk itu perubahan sangat mungkin terjadi. Dan mitos adalah upaya bawah sadar untuk mempengaruhi perilaku masyarakat yang hidup didalamnya. Melalui mitos yang menggerakkan inilah segala ilmu pengetahuan bisa dipecundangi sehingga keadaan hari ini adalah keadaan terberi dan tidak bisa berubah. Dan ia menolak.
“Keadaan ini bisa berubah mitos bisa direkonstruksi, termasuk Semarang sebagai kuburan seni,” lanjut Adin.
Tentu bukan hal yang mudah karena butuh strategi budaya yang jitu. Namun harus ada yang memulai dan memantik supaya kelak keterputusan antar generasi ini tidak diwariskan turun temurun. Dialah Adin, direktur Hysteria dengan segala keyakinannya memutuskan untuk tinggal dan berproses di Semarang daripada mengikuti jejak para pendahulunya yang lebih realistis, pindah di kota dengan infrastruktur yang lebih siap.
Akhirnya Organisasi Hysteria yang beralamatkan Jalan Stonen 29 Sampangan ini memang yang menjadi senjata pertamanya untuk mewujudkan cita-citanya yang besar itu. Sebagai organisasi yang mendasarkan dirinya pada dukungan terhadap komunitas-komunitas yang kelak mandiri untuk saat ini selain melakukan program yang bermacam-macam juga mengadakan ekspermentasi sosial di bidang gerakan sastra. Kelak uji coba teori-teori social pada praksis gerakan sastra yang digelutinya. “Jika berhasil akan menjadi modal bagi sub kultur lain di Semarang yang selama ini berjalan sendiri-sendiri,” yakin pria yang punya tampilan sederhana ini.
Baginya organisasi yang bermukin di kota tentunya harus mempunyai imbas bagi wilayah yang ditempatinya. Sedangkan untuk membuat program yang tepat sasaran sebuah organisasi harus melakukan riset, analisis data dan ideologi untuk membuat gerakan tidak hanya bertumpu pada kepentingan finansial semata.
“Semarang bisa berubah, mulai dari diri sendiri, komunitas serta mengatur strategi demi jaringan yang lebih luas., tidak hanya local namun juga nasional bahkan internasional. Hal itu bisa dilihat dari rintisan yang dilakukan Hysteria yang beberapa kali kegiatan mereka berisikan orang-orang dari Jepang, Australia, Singapura, Italia, Spanyol, dan lain-lain,” terang Adin. (dwi nikmatika roma/rif)
Hysteria yang pada mulanya ekslusif dan hanya untuk kalangan terbatas menjadi organisasi terbuka yang rajin menggelar diskusi. Sepulang dari lokakarya penulisan buku program oleh Yayasan Kelola di Jakarta 2007 awal, membuka mata Adin bahwa dia harus keluar dari Semarang untuk memuaskan dahaganya pada jaringan dan sosok pembimbing yang bisa menuntun langkahnya. Sejak saat itulah dia intens berhubungan dengan jaringan-jaringan yang ada di Yogjakarta, Jakarta, Bandung, Solo dan kota-kota lain.
Hsyteria juga tidak hanya berkutat di bidang penerbitan namun juga aktif menggelar event-event sastra. Gebrakan yang cukup menyolok mata pada 2008 dengan menggelar tiga acara besar sekaligus selama setahun: seminar sastra dengan pembicara S Prasetyo Utomo, Andrea Hirata, dan Arswendo Atmowiloto.
Kehadiran ketiga pembicara itu membuncahkan antusiasme anak-anak muda yang sedang keranjingan Laksar Pelangi. Ratusan orang hadir dalam acara itu. “Sastra Balik Desa” adalah tema yang dipilih karena bekerjasama langsung dengan masyarakat Gunungpati Semarang.
“Ratusan orang hadir dan puluhan sastrawan kenamaan hadir dari 21 kota. Salah satu isu yang diangkat pada saat itu adalah minimnya peran senior dalam medidik juniornya,” ujar Adin.
Sejauh yang Adin amati, Semarang minim mewariskan tradisi yang konstruktif. Generasi hari ini harus berguru pada dirinya sendiri dan berdialektika dengan pikiran-pikirannya sendiri karena para pendahulunya telah cukup umur dan merasa hal-hal semacam ini kuranglah penting.
“Maka jadilah generasi hari ini adalah generasi yatim piatu tanpa warisan sistem dan tradisi yang konstruktif. Tidak heran jika banyak yang tumbang karena disorientasi mau kemana lagi setelah ini. Toh senior mereka tidak banyak juga yang bertahan,” lanjutnya.
Menurutnya, perlu disayangkan jika orang-orang yang memiliki kepedulian seringkali tidak menjabat kekuasaan yang strategis. Untuk itu “Sastra Balik Desa” 2007 menjadi embrio awal bagi lingkaran jaringan yang dirintis Hysteria dalam konteks yang lebih luas, dan menurut rencana acara tersebut bakal dihelat lagi akhir tahun ini.
Masih pada tahun yang sama Hysteria juga mengadakan “Festival Kesenian Semarang: Konsoemsi Ataoe Mati!” Festival yang didanai organisasi dari Belanda ini barangkali festival yang dipaksaadakan mengingat Semarang pada saat itu belum mempunyai festival yang menggabungkan interdisipliner. Meskipun respons publik kurang menggairahkan barangkali bisa dikatakan adanya festival ini memantik festival serupa yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.
“Apapun respons publik kami mampu membuktikan diri sebagai sosok yang berkarakter dan punya sikap,” ungkap pemuda kelahiran Rembang ini begitu semangat.
Hysteria dan Konstelasi Kesenian Semarang
Berbekal prestasi itulah Adin pada 2009 mendapat kesempatan dan lulus seleksi Magang Nusantara Yayasan Kelola untuk menimba ilmu di Bandung. Selama 3 bulan di Commonroom, Bandung, pemuda kalem ini belajar banyak hal mengenai idealnya mengelola organisasi dan komunitas. Hasilnya adalah Hysteria yang sekarang telah mempunyai visi yang jelas bagaimana dia menempatkan diri pada konstelasi kehidupan kesenian baik di Semarang maupun dalam konteks lebih luas.
Di bawah pimpinan Adin hampir tiap bulan art space Hysteria yang bernama Grobak A(r)t Kos tidak pernah sepi dari kegiatan kesenian. Purna Cipta Nugraha sebagai pihak yang dipercaya mengelola art space sampai kewalahan mengatur jadwal dari proposal yang masuk.
Di bidang sastra sendiri Adin menggawangi terbentuknya Sastra Horeg. Bersama Agung Hima, Naka Andrian, Widyanuri, Gema Yudha dan lain-lain mereka menjadi gerakan teraktif yang menuntut adanya perbaikan sistem di bidang sastra dan menularkan kepedulian terutama pada generasi di bawahnya.
Gerakan ini meski belum sempurna tapi cukup sistematis dalam mengorganisasi dan melibatkan berbagai elemen yang saling melengkapi. Mereka memang membatasi diri pada konteks Semarang supaya ada fokus dan berdasar keyakinan bahwa untuk menacapai hal-hal besar dimulai dengan langkah kecil yang intensif, laten, militant dan berkesinambungan.
“Kelak gerakan ini jika berhasil akan menjadi modal pertama di bidang gerakan sub kultur yang ada di kota lunpia ini,” katanya sambil tertawa.
Melawan Mitos “Semarang Kuburan Seni”
Sejak kedatangannya di kota Semarang, Adin merasa ada sesuatu yang tidak beres pada kota ini. Kehausannya akan pegetahuan di bidang ilmu-ilmu humaniora telah mengantarnya dari satu forum ke forum dan diskusi-diskusi intens dengan berbagai kawannya. Mitos Semarang sebagai kota seni membuatnya terus bertanya-tanya dan gelisah mengapa sedikti sekali komunitas, institusi, organisasi, forum intelektual yang bertahan di kota ini.
“Benarkah sejatinya Semarang memang ditakdirkan sebagai kota industri yang hanya mengakomodasi kepentingan pasar dan tidak merawat sisi-sisi idealisme warganya, terutama di bidang kesenian” katanya saat ditemui di markas Hysteria Jalan Stonen 29 Sampangan, Semarang.
Menurutnya, Semarang pada masanya pernah dianggap sebagai kota intelektual dan lebih lagi kota yang cukup dinamis dan progresiv dengan gerakan buruhnya. Dia ingat Semaoen membangus Syarikat Islam Merah di kota ini. Dia juga ingat kota ini menjadi salah satu kota yang dikonstruksi oleh Belanda secara terarah setelah Amangkurat II memberikannya sebagai konsesi atas bantuan menumpas Trunojoyo. Dia juga tahu bahwa kebudayaan adalah konstruksi untuk itu perubahan sangat mungkin terjadi. Dan mitos adalah upaya bawah sadar untuk mempengaruhi perilaku masyarakat yang hidup didalamnya. Melalui mitos yang menggerakkan inilah segala ilmu pengetahuan bisa dipecundangi sehingga keadaan hari ini adalah keadaan terberi dan tidak bisa berubah. Dan ia menolak.
“Keadaan ini bisa berubah mitos bisa direkonstruksi, termasuk Semarang sebagai kuburan seni,” lanjut Adin.
Tentu bukan hal yang mudah karena butuh strategi budaya yang jitu. Namun harus ada yang memulai dan memantik supaya kelak keterputusan antar generasi ini tidak diwariskan turun temurun. Dialah Adin, direktur Hysteria dengan segala keyakinannya memutuskan untuk tinggal dan berproses di Semarang daripada mengikuti jejak para pendahulunya yang lebih realistis, pindah di kota dengan infrastruktur yang lebih siap.
Akhirnya Organisasi Hysteria yang beralamatkan Jalan Stonen 29 Sampangan ini memang yang menjadi senjata pertamanya untuk mewujudkan cita-citanya yang besar itu. Sebagai organisasi yang mendasarkan dirinya pada dukungan terhadap komunitas-komunitas yang kelak mandiri untuk saat ini selain melakukan program yang bermacam-macam juga mengadakan ekspermentasi sosial di bidang gerakan sastra. Kelak uji coba teori-teori social pada praksis gerakan sastra yang digelutinya. “Jika berhasil akan menjadi modal bagi sub kultur lain di Semarang yang selama ini berjalan sendiri-sendiri,” yakin pria yang punya tampilan sederhana ini.
Baginya organisasi yang bermukin di kota tentunya harus mempunyai imbas bagi wilayah yang ditempatinya. Sedangkan untuk membuat program yang tepat sasaran sebuah organisasi harus melakukan riset, analisis data dan ideologi untuk membuat gerakan tidak hanya bertumpu pada kepentingan finansial semata.
“Semarang bisa berubah, mulai dari diri sendiri, komunitas serta mengatur strategi demi jaringan yang lebih luas., tidak hanya local namun juga nasional bahkan internasional. Hal itu bisa dilihat dari rintisan yang dilakukan Hysteria yang beberapa kali kegiatan mereka berisikan orang-orang dari Jepang, Australia, Singapura, Italia, Spanyol, dan lain-lain,” terang Adin. (dwi nikmatika roma/rif)
07.22
Agung Hima, Teaterawan yang iseng jadi sastrawan
BAGI publik Semarang, nama Sri Agung Himawan atau biasa disapa Agung Hima mungkin tidak begitu dikenal. Karena, ia memang bukan selebritis, bukan Pak Wali atau bukan pula juragan ini-itu yang sugih mblegedhu. Ia hanyalah sosok pria bersahaja dan sama sekali tidak ingin neko-neko. Namun demikan, di kalangan publik seni Kota Semarang namanya dikenal sebagai salah satu aktor sekaligus pegiat sastra yang diperhitungkan.
Jejak keaktorannya dimulai sejak pria kelahiran 18 Oktober 1971 silam ini lulus SMA, pada 90-an. Bermula gabung dengan Teater Rangga pimpinan Maman Suparman, kemudian merapat ke Teater Waktu yang saat itu dipimpin Agus Maladi Iriyanto (kini, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Undip). Sekitar 2000, ia mendirikan sendiri kelompok teater dengan nama Our Theatre Chronicle (OTC).
Soal urusan kepenulisan, ayah 6 anak ini mengaku awalnya hanya iseng dan sekedar refreshing. “Sejak memulai berkesenian, sejak itu pula aku mulai mengawali menulis. Menulis apa saja, seperti cerpen, wacana kesenian, dan puisi. Untuk dipublikasikan dimana saja, baik media masa cetak, laman jejaring sosial, atau kalau punya cukup uang dicetak menjadi buku,” ungkapnya.
Keisengan masih terus berlanjut, ketika bersama penulis muda seperti Adin Hysteria, Galih Pandu Adi, Gema Yuda, dan Dwi Cipta, rasan-rasan membicarakan puisi dan kemudian disepakati mendirikan forum diskusi dengan lembaga Opendmind Community. “Baru beberapa kali menghelat diskusi dan kajian puisi, ternyata sudah mendapat sambutan hangat dari sastrawan-sastrawan muda lainnya. Tidak tahu kenapa, banyak dari mereka yang ingin karya-karyanya dibahas,” bebernya.
Anak-Istri yang Mengerti
Dirinya tidak pernah menyangka jika geliat Opendmind akan menjadi seserius saat ini. Bahkan sejak awal ia mengaku sama sekali tidak ada motivasi untuk menggeliatkan sastra di Semarang. “Motif saya pribadi yang penting melakukan sesuatu. Berbuat sebisanya dan sebaik-baiknya. Wong saya nyaris tidak bekerja selain berkesenian,” cetusnnya
Terhitung sejak 2005, alumni SMA 11 Semarang ini memang memutuskan untuk tidak meneruskan lagi semua kesibukannya sebagai pekerja swasta. Madep-mantep meniti jalan seni. Menurutnya, itu lebih baik bagi diri dan keluarganya dibanding harus tetap bertahan pada semua aktivitas yang sebelumnya ia tekuni, dari menjadi karyawan perusahaan ekspor-impor hingga sebagai manajer area untuk penjualan sebuah produk jamu. “Kalau urusan finansial mungkin bisa serba berlebih, tapi urusan ketenangan hati saya rasakan kurang,” ungkapnya.
Soal urusan kebutuhan dapur dan keperluan keluarga lainnya, ia menjawabnya, merasa beruntung punya istri dan anak-anak yang bisa sangat mengerti dan menyuprot apa yang diputuskannya. Selain itu, ia mengatakan, “Allah kuwi ora sare (Allah tidak tidur, red). Jika Tuhan berkehendak, rezeki bisa datang dari hal-hal yang tidak bisa kita duga. Begitu pula usaha katering istri saya, lambat laun juga semakin berkembang”.
Karena mendapat perhatian besar dari keluarga itulah mengapa keluarga baginya adalah harta tak ternilai. Dalam keluarga ia mencoba menerapkan demokratisasi. Anak-anaknya dibebaskan menekuni hobi yang disenangi mereka.
Sebagai orangtua, ia mengatakan, hanya berkewajiban mengarahkan dan mendorongnya agar berkembang. Seperti halnya pada putri pertamanya, Himas (16) yang sejak TK suka membaca puisi. Untuk mengembangkan potensinya, ia dorong dengan selalu mengikutsertakannya pada setiap lomba atau acara pembacaan puisi. “Saya tidak pernah menyuruhnya untuk menyukai sastra,” tandasnya.
Itulah Agung Hima yang hanya ingin berbuat yang terbaik, khusunya untuk keluarganya. Keluarga adalah surga untuk menyemaikan demokrasi, kreativitas, kekritisan, dan kemandirian. Selain aktif melakukan kajian sastra dalam Opendmind, saat ini ia menjadi pengasuh sejumlah teater pelajar di SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, dan SMAN 5 Semarang. sokhibun ni’am/rif
Jejak keaktorannya dimulai sejak pria kelahiran 18 Oktober 1971 silam ini lulus SMA, pada 90-an. Bermula gabung dengan Teater Rangga pimpinan Maman Suparman, kemudian merapat ke Teater Waktu yang saat itu dipimpin Agus Maladi Iriyanto (kini, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Undip). Sekitar 2000, ia mendirikan sendiri kelompok teater dengan nama Our Theatre Chronicle (OTC).
Soal urusan kepenulisan, ayah 6 anak ini mengaku awalnya hanya iseng dan sekedar refreshing. “Sejak memulai berkesenian, sejak itu pula aku mulai mengawali menulis. Menulis apa saja, seperti cerpen, wacana kesenian, dan puisi. Untuk dipublikasikan dimana saja, baik media masa cetak, laman jejaring sosial, atau kalau punya cukup uang dicetak menjadi buku,” ungkapnya.
Keisengan masih terus berlanjut, ketika bersama penulis muda seperti Adin Hysteria, Galih Pandu Adi, Gema Yuda, dan Dwi Cipta, rasan-rasan membicarakan puisi dan kemudian disepakati mendirikan forum diskusi dengan lembaga Opendmind Community. “Baru beberapa kali menghelat diskusi dan kajian puisi, ternyata sudah mendapat sambutan hangat dari sastrawan-sastrawan muda lainnya. Tidak tahu kenapa, banyak dari mereka yang ingin karya-karyanya dibahas,” bebernya.
Anak-Istri yang Mengerti
Dirinya tidak pernah menyangka jika geliat Opendmind akan menjadi seserius saat ini. Bahkan sejak awal ia mengaku sama sekali tidak ada motivasi untuk menggeliatkan sastra di Semarang. “Motif saya pribadi yang penting melakukan sesuatu. Berbuat sebisanya dan sebaik-baiknya. Wong saya nyaris tidak bekerja selain berkesenian,” cetusnnya
Terhitung sejak 2005, alumni SMA 11 Semarang ini memang memutuskan untuk tidak meneruskan lagi semua kesibukannya sebagai pekerja swasta. Madep-mantep meniti jalan seni. Menurutnya, itu lebih baik bagi diri dan keluarganya dibanding harus tetap bertahan pada semua aktivitas yang sebelumnya ia tekuni, dari menjadi karyawan perusahaan ekspor-impor hingga sebagai manajer area untuk penjualan sebuah produk jamu. “Kalau urusan finansial mungkin bisa serba berlebih, tapi urusan ketenangan hati saya rasakan kurang,” ungkapnya.
Soal urusan kebutuhan dapur dan keperluan keluarga lainnya, ia menjawabnya, merasa beruntung punya istri dan anak-anak yang bisa sangat mengerti dan menyuprot apa yang diputuskannya. Selain itu, ia mengatakan, “Allah kuwi ora sare (Allah tidak tidur, red). Jika Tuhan berkehendak, rezeki bisa datang dari hal-hal yang tidak bisa kita duga. Begitu pula usaha katering istri saya, lambat laun juga semakin berkembang”.
Karena mendapat perhatian besar dari keluarga itulah mengapa keluarga baginya adalah harta tak ternilai. Dalam keluarga ia mencoba menerapkan demokratisasi. Anak-anaknya dibebaskan menekuni hobi yang disenangi mereka.
Sebagai orangtua, ia mengatakan, hanya berkewajiban mengarahkan dan mendorongnya agar berkembang. Seperti halnya pada putri pertamanya, Himas (16) yang sejak TK suka membaca puisi. Untuk mengembangkan potensinya, ia dorong dengan selalu mengikutsertakannya pada setiap lomba atau acara pembacaan puisi. “Saya tidak pernah menyuruhnya untuk menyukai sastra,” tandasnya.
Itulah Agung Hima yang hanya ingin berbuat yang terbaik, khusunya untuk keluarganya. Keluarga adalah surga untuk menyemaikan demokrasi, kreativitas, kekritisan, dan kemandirian. Selain aktif melakukan kajian sastra dalam Opendmind, saat ini ia menjadi pengasuh sejumlah teater pelajar di SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, dan SMAN 5 Semarang. sokhibun ni’am/rif





