Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Wayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wayang. Tampilkan semua postingan

Ketika kita [jadi] lupa “Bercermin”

Written By Harian Semarang on Sabtu, 05 November 2011 | 07.20

DIDUGA lantaran kecewa atas program bupati Purwakarta berupa pendirian patung, ratusan warga menghancurkan beberapa patung wayang tokoh Bima, Semar, Gatotkaca yang bertengger di sejumlah lokasi di kota Purwakarta, Jawa Barat. Perusakaan patung-patung tersebut dilakukan sesaat setelah para pelaku selesai mengikuti istigosah di Masjid Agung Purwakarta.

Kejadian itu kemudian menuai banyak kecaman dari berbagai elemen masyarakat. Salah satunya dari seniman semarang yang tergabung dalam Forum Masyarakat Penyelamat Budaya Nusantara (Format Bara) yang mengutuk keras aksi perusakan sejumlah patung wayang tersebut.

Menurut Dawud Budiyanta, Koordinator Aksi Damai Format Bara, aksi perusakan tersebut merupakan bentuk pelecehan terhadap media pendidikan moral dan spiritual bangsa. Menurutnya, sebagai masyarakat Indonesia seharusnya kita menjunjung tinggi warisan budaya leluhur.

“Memang itu sekadar benda, tetapi jika bisa menelaah lebih dalam disitu banyak terkandung nilai-nilai moral dan spiritual yang sangat luhur dan universal,” ucapnya, di sela aksi yang berlangsung di Jalan Pahlawan, Semarang, Kamis (29/9).

Dalam aksinya, mereka mendesak Kapolri segera menuntut tuntas pelaku perusakan patung wayang di Purwakarta untuk diberi hukuman sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mereka juga meminta Gubernur dan Kapolda Jateng segera melakukan upaya antisipatif agar tidak terjadi lagi, khususnya di wilayah Jawa Tengah. Selain itu, mereka juga berharap masyarakat tidak terprovokasi atas kejadian tersebut.

“Jika kita sudah lupa pada akar budaya kita yang penuh nilai dan ajaran hidup yang universal ini, maka tunggulah saat kehancuran kita,” tegasnya.

Sebenarnya aksi perusakan patung wayang tidak hanya sekali terjadi di Purwakarta, awal bulan puasa lalu, sebuah patung wayang yang bertengger di perempatan Jalan Tengah, kota Purwakarta juga dibakar massa.
Wayang, Bayangan, Tuntunan

Aksi-aksi pengeceman dan pengutukan perilaku banal yang dilakukan oknum tidak bertanggungjawab di Purwakarta tersebut tentunya tidak ngawur. Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi), Solichin mengatakan, wayang adalah tontonan tetapi sekaligus mengandung tuntunan. Banyak makna dan pesan mendalam yang terkandung dalam kesenian wayang. Pesan dalam wayang, mengacu pada pembentukan budi pekerti luhur.

“Wayang itu bayangan, yakni bayangan hidup manusia, baik kehidupan dari lahir sampai akhir hayat,” jelasnya, dalam seminar “Membangun Nusantara Dengan Filsafat Wayang” di Museum Jawa Tengah Ronggowarsito, Rabu (28/9) lalu.

"Dalam pergelarannya, wayang sanggup memadukan secara serasi beragam seni, seperti seni drama, seni suara, seni sastra, seni tari dengan dalang sebagai sentralnya. Ini menjadikan wayang sebagai kajian unik," kata Solichin.

Setali tiga uang, Prof. Joko Siswanto, Guru Besar Ontologi Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menilai wayang mengandung falsafah kehidupan yang sangat mendasar dan mendalam.
“Hal ini tidak hanya diakui oleh masyarakat Jawa saja, tetapi pengakuan juga datang dari dunia internasional. Unesco, mengakui jika wayang merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang adiluhung,” ucapnya.

Ia menilai, selama ini memang sudah banyak kajian kefilsafatan yang menyoroti wayang, namun bisa dipastikan bahwa kajian-kajian yang ada masih kurang, terutama kajian mendasar, seperti ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Masih dalam seminar tersebut, Budayawan Prof Eko Budiharjo menyatakan, bahwa masyarakat Indonesia sepatutnya perlu berbangga hati. Diakuinya wayang sebagai warisan budaya dunia adalah bukti bahwa ajaran nilai dan falsafah yang terkadung dalam wayang sangat dielu-elukan warga dunia.

“Persoalannya, masyarakat Indonesia sebagai negara asal wayang justru kian meninggalkan kesenian wayang. Padalah di dalamnya mengandung banyak ajaran kearifan. seharusnya masyarakat Indonesia mau menimba nilai-nilanya sebagai jati diri bangsa,” tandasnya. sokhibun ni’am/rif

400 anak berkostum wayang di jalanan, wayang tidak kampungan!


PEMANDANGAN cukup berbeda terjadi di sepanjang Jalan Pahlawan Semarang, tadi malam. Sekitar 400 anak dan remaja yang menamakan dirinya Komunitas Cah Semarang (KCS) melakukan konvoi jalan kaki dengan mengenakan kostum pewayangan seperti Hanoman, Janoko, Kuntodewo, Arjuna, dan sadewa.

Berbalut tema “Wayang Orang on The Street”, konvoi yang dimulai sekitar pukul 19.00 wib dari Taman KB di Jalan Menteri Supeno menuju Jalan Pahlawan ini menjadi magnet bagi warga yang sedang melintas jalan tersebut. Begitu pula warga yang sedang kongkow di sepanjang trotoar Jalan Pahlawan, banyak yang memilih mengabadikan momen langka tersebut dengan kamera ponselnya.

Ketua Panitia “Wayang on The Street” sekaligus Ketua Harian KCS Saesario Indrawan menjelaskan, kegiatan ini secara umum dimaksudkan untuk menjaga kelestarian kesenian wayang orang. Dengan mengajak anak-anak dan remaja mengenakan pakaian wayang diharapkan semakin mendekatkan mereka dengan kesenian dan budaya asli bangsa Indonesia ini.

“Harapan kami, para generasi penerus bangsa ini semakin mencintai kesenian wayang orang sehingga kelestariannya bisa terus terjaga. Dari situ, kami juga berharap ke depannya dapat digunakan untuk membangun Semarang,” jelas pria yang akrab disapa Rio itu, di sela acara.

Kolaborasi dengan Power Rangers
Pengenalan wayang kepada generasi muda, dikatakan Rio, tidak sebatas dilakukan KCS dengan kegiatan ini saja. Hari ini, pukul 20.00 WIB, KCS juga naik panggung berkolaborasi dengan seniman Wayang Orang (WO) Ngesti Pandawa di Gedung Ki Narto Sabdho, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, dengan lakon “Pandawa Kembar-Ismaya Jati”. Menariknya, pementasan ini akan menggabungkan tokoh-tokoh wayang Jawa dengan wayang Bali, ditambah pasukan Cosplay.

“Selain tokoh-tokoh pewayangan yang lazim, penonton akan disuguhi aksi Ksatria Baja Hitam dan Power Rangers. Ini kami lakukan untuk menarik generasi muda untuk mencintai wayang orang, minimal suka nonton wayang orang. Wayang orang juga tidak kampungan,” tegasnya.

Sebelum melepas ratusan anak dari sejumlah sekolah dari jenjang TK hingga SMA se-Kota Semarang tadi malam, Walikota Semarang Soemarmo mengaku bangga dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para generasi muda yang mau mengenal dan melestarikan kesenian wayang orang.

“Memang sudah sepatutnya kita terus nguri-uri kesenian dan budaya semacam ini, karena ini adalah warisan dari nenek moyang untuk cucu kita nanti dan harus terus dijaga sebagai jati diri,” ucapnya.

Sementara, Seniman asal Yogjakarta Didik Nini Thowok yang pada kesempatan tersebut turut menyemarakkan “Wayang Orang on The Street” mengaku bangga dengan kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan ini sangat efektif untuk memperkenalkan kesenian tradisional wayang orang kepada anak-anak.

“Usia anak-anak itu kategori masa dimana kondisi otak lagi sedang bagus-bagusnya. Dengan pengalaman ini, minimal mereka akan terus teringat kalau pernah main wayang orang sehingga tidak menutup kemungkinan pula dari hal ini kesenangan mereka terhadap wayang bisa tumbuh,” ucapnya

Ia juga menyambut sangat apresiatif dengan penampilan anak-anak KCS, karena tidak banyak anak-anak muda saat ini yang menyukai kesenian wayang orang. “Tetapi di Semarang ada komunitas anak muda yang menyukai wayang,” katanya. sokhibun ni’am/rif
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Ragam - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger