Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post

Bercinta dengan Serigala

Written By Harian Semarang on Sabtu, 05 November 2011 | 07.52

Cerpen: Arief Firhanusa

AKU berselancar dalam rute pengkhianatan yang memabukkan setiap kali membayangkan Prabastari melambai cemas. Sesungguhnyalah tak lebih sepuluh menit ia menunggu. Tetapi ia memang kolokan, dan aku tanpa sengaja menciptakannya begitu. Anehnya aku sangat menikmati.

Benar saja. Ia sudah gelisah dan muram. Kuparkir mobil agak jauh. Ia bergerak. Kaki langsatnya melenggang seperti rusa. Dituruninya tangga dengan dahi berkerenyit. Ayunan kakinya mengingatkanku pada Julia Roberts dalam Nothing Hill.
 
Tampaklah ia mulai menekuk wajah menjelang sampai. Sebuah ekspresi takut kehilangan yang amat kusukai. Biasanya ia cemberut sebentar. Kemudian mulai aleman. Dicubitnya bertubi-tubi pinggangku setengah gemas, dan aku pura-pura menepis sambil merengek minta ampun.
  
“Mengapa terlambat?” Ia menghambur ke dalam kabin seraya membawa aroma ST Dupon.
“Orang yang mau kutemui punya banyak alasan menghindar. Aku seperti kerbau dungu di lobi kantornya.” Kuatur sedemikian rupa suaraku supaya menimbulkan iba. Perlu sedikit sandiwara untuk melunakkannya.
 
“Nelpon, dong.”
“Maaf.”
“Lain kali jangan diulangi.”
“Beres, sayang. Ayo dong jangan cemberut.”
Ia pun tersenyum. Benar, bukan, ia tak sanggup bertahan lama dengan ketusnya. Pori-porinya mulai hangat saat lengannya kusentuh. Matanya menyempit. Kunyalakan Hero Mariah Carey yang amat ia sukai.
 
“Kita langsung pulang?”
“Swalayan Bali.”
 “Mau beli apa?” Tanyaku sambil menyembunyikan kekhawatiran.
 “Ada guci bagus. Sebulan aku menahan keinginan membelinya.”
    
Kulirik arloji. Pukul tiga lebih dua puluh menit. Tinggal menyisakan seperempat jam lagi untuk kembali ke tempat tadi, sudut mal, tempat Priarum pada pukul 15.35 melambaikan tangan. Mengisyaratkan penungguan dengan retina mata menyala.
    
Tetapi kini aku milik Prabastari. Tangannya menggamit lenganku menyeruak toko, mengayun-ayunkan jantungku, tak menggubris kegalauanku memikirkan Priarum.
   
Ia menyisir petak demi petak rak keramik. Kakinya yang indah berebut pesona melawan guci cina. Sepasang kaki Maryln Monroe yang kutemukan di sela-sela rak baju, suatu siang, ketika aku memilih-milih kemeja.

HARI itu menjelang rapat bulanan. Memimpin meeting tak boleh tampil sembarangan. Ada tujuh anggota dewan komisaris yang menatapku, detik demi detik.
 
Ah, Hismapia pasti memilih duduk paling dekat. Komisaris jelita itu selalu membuatku sesak napas. Tubuhnya padat bak penari balet. Mataku runtuh ke bibirnya yang basah setiap kami berdua mendiskusikan sesuatu. Ia perempuan malang setelah suaminya stroke. Tahukah ia aku amat menginginkannya?
 
Tetapi, ada baiknya mendengar pesan Warsa, kolegaku di Samarinda.    “Jangan sekali-sekali berak di depan pintu!”
“Kalau mencret?” Timpalku.
“Itu perkecualian.”
Kami terpingkal-pingkal. Lelucon yang konyol.
    
Tak ada reaksi apapun ketika aku menggeser-geser baju. Gadis itu terus saja menulis sesuatu. Segera kutemukan alasan mencuri perhatiannya, ketika lima menit di sana kami saling membisu.
   
“Saya harus pilih warna apa untuk jas biru?” Aku menahan debar dan tawa yang saling ingin menyalip. Di kantor aku dikenal sangat pintar mengombinasikan baju. Saat kuliah kawan-kawan perempuan menjadikanku acuan agar pacar-pacar mereka tetap tergila-gila.
   
“Putih atau biru muda,” katanya tanpa melirik. Matanya tetap jatuh di kertas. Mungkin ia sedang menulis laporan mingguan. Atau keliru hitung omzet. Barangkali lapar atau sakit. Mungkin …
“Banyak putih dan biru muda di sini. Yang mana?” Hahaha… Pertanyaan tolol. Persetan.
   
Cara klasik tetapi butuh kesabaran, seperti kita memancing di arus deras. Ia mendongak setengah kesal. Matanya yang bulat segera melintas. Aku terkesiap mendapati keindahan lain. Tadinya aku mengira cuma kakinya yang mempesona.
   
“Bapak pernah pakai jas belum?”
Ah, perempuan yang galak. Ucapan yang ketus dan memerahkan telinga. Tetapi perempuan ini melakukan kesalahan pertama. Adrenalinku cepat naik justru ketika menghadapi perempuan macam ini.
   
“Baiklah kalau keberatan diskusi. Saya pindah sebelah saja,” aku bergerak, seolah angkat kaki. Namun perempuan acap lemah ketika dibenturkan rasa bersalah.
   
“Tunggu, Pak. Maafkan saya. Bukan berarti saya tak mau memilihkan baju. Sepagian ini saya kesal karena pimpinan marah melulu. Omzet penjualan menurun. Hm, bagaimana kalau biru muda yang ini?”
    
Pilihan sempurna. Keputusan yang tepat pula. Sebuah awal yang bagus untuk hadir dengan sikap pahlawan. Ia tampak kelelahan. Hanya perlu beberapa tips untuk membuatnya senang. Aku lulusan psikologi dan amat kenyang memimpin bawahan.
 
Hanya butuh setengah jam melabuhkannya dalam suasana temaram. Pipinya seranum mangga saat terkekeh mendengar joke-joke-ku. Lelucon basi, karena beberapa kali sebelumnya kupakai untuk memikat perempuan lain.
 
“Jam setengah satu?” Kuulang pertanyaan untuk memastikan kapan kami makan siang. Sesaat tadi binar matanya meremang. Ditraktir makan tentulah surprise. Selain irit, ia akan menemukan hal-hal baru. Cara menawarinya tentu tidak kampungan yang segera bisa ditebak gombalnya.
“Ya, Pak, kami hanya punya tiga puluh menit istirahat.”
“Bagaimana kalau memanggilku Mas saja.”
 
Ia tersipu. Itu salah satu jurus mautku. Kurasa lebih ampuh dibanding Wiro Sableng rekaan Bastian Tito. Tentu bukan makan siang sembarangan. Ia kugamit masuk restoran Korea, mengajarinya memanasi daging di tungku. Menyuapinya kalau perlu …
 
Lalu makan malam esoknya. Kujemput ia tepat waktu. Banyak pria gagal merenggut perempuan karena membiarkannya bosan menunggu. Kami menuju restoran sea food paling enak di kota ini. Ia tersenyum senang mengunyah udang saus tiram.
 
Setelah sekian kali bertemu, aku membuat pori-porinya membara saat iseng kuajari dia memindah persneleng. Persneleng itu bergerak mundur-maju, sesuai kebutuhan, ketika ada sesuatu anggota tubuhku yang juga bergejolak. Mobil kubelokkan ke sebuah hotel, tepat saat aliran darahku tak terkontrol lagi.
___
 
HANDPHONE-nya bertulalit.
“Sudah saya seterika celananya! Tinggal pilih krem atau hitam di lemari gantung! Mengapa mesti menelepon hanya untuk memilih celana?” Prabastari gusar pada seseorang. Tanpa tanya aku tahu itu suaminya. Lebih baik bagiku pura-pura tak mendengar.
   
“Kita pulang saja,” ajaknya setengah sewot sesaat kemudian.
 “Loh?”
    
“Aku mengira ibunya pernah mengajari bagaimana menjadi suami yang dewasa. Ternyata belum.” Ia muram. Percikan rumah tangga muda yang secara tak langsung turut kusulut.
Diam-diam aku bersyukur. Sejak tadi aku diliputi cemas membayangkan kehilangan Priarum hanya gara-gara telat menjemput.
    
Setelah menurunkan Prabastari di mulut gang, kususuri rute tadi. Kudapati Priarum duduk mematung seperti Monalisa tengah dilukis Leonardo da Vinci. Berbeda Prabastari, Priarum lebih tenang. Hanya kuklakson sekali, ia langsung beringsut. Rambutnya yang kelam dipermainkan angin. Ia menuruni anak tangga seperti slow motion Autumn in New York.
   
“Ke Buccerri sebentar yuk,” ujarnya riang dalam aroma Channel 5 yang meremas.
 “Mau beli apa?”
 “Ada sepatu bagus. Aku pernah sempat menimangnya tapi belum jadi beli.”
    
Saat Priarum menimang-nimang sepatu dan aku mendekat karena ia meminta pertimbangan, kurasakan cinta yang membara. Ia percaya diri dan sama sekali tak canggung, biar beberapa pasang mata melirik cemburu.  Priarum memahami benar bagaimana ia harus berperan sebagai pasangan sempurna. Sesekali, terutama di keramaian, tanpa kuminta ia memanggilku ‘Papa’. Menciptakan kesan perfect sepasang ‘suami istri’ melalui bakat alam ditambah sedikit akting.
    
Mungkin ini petualangan konyol. Atau barangkali aku memang selalu mujur. Suatu siang ketika menjemput Prabastari makan, iseng aku melongok di kaca di gerai parfum. Perlu sebentar mengayun kaki selagi menunggu Prabastari yang dipanggil supervisornya di kantor mal. Hanya berjarak dua puluh meteran antarkeduanya, tetapi tiap tantangan mempunyai daya tarik tersendiri.
    
Seraut wajah tiba-tiba menyelonong. Hanya tiga puluh senti dari pipiku. Aku terkejut sebab ketika itu aku sedang sibuk meneliti takaran dan aroma. Ia memamerkan giginya yang putih. Terasa ada yang bergerak mendadak di sela pahaku.
   
“Itu cocok dipakai Bapak,” cerocos SPG ini tanpa diminta. Ia menunjuk botol mirip pangkal pentungan satpam.
   
“Sok tahu,” ujarku sekenanya. Menyembunyikan jantung yang berdegup ribut.
“Saya sudah pengalaman,” ucapnya. Lebih tepat bisiknya.
“Hanya soal parfum pengalamanmu itu?” Ahai.
“Tentu banyak lagi.”
“Tolong ceritakan pengalamanmu yang lain.”
    
Ya, pengalaman apa yang hendak dikisahkan gadis molek sepertinya kalau bukan tarian-tarian penuh getaran? Ia bukan pesulap, tetapi mahir menyihir. Tubuhnya mirip selongsong peluru. Padat penuh amunisi.
    
Begitulah. Siang-siangku adalah rentetan pendakian. Sibuk menyusun jadwal percumbuan dengan dua SPG satu lantai. Menantang deras angin, seperti ketika kita menaiki jet coaster.
    
Priarum telah selesai dengan sepatunya. Kusodorkan kartu kredit pada kasir dengan rasa bangga yang terselimut. Kurang ajarnya Priarum sempat mengigit lembut lenganku bagian belakang. Aku memekik kecil di bawah tatapan beberapa pengunjung toko yang gusar. 
___
 
PRABASTARI muncul di layar handphone. Aku sempat menduganya meminta sesuatu, seperti biasa ia menelepon siang bolong sebelum kujemput dari tempat kerja. Dugaanku keliru.
“Aku sudah mengajukan cerai,” ujarnya riang.
    
Seperti main scramble. Selalu muncul hal tak terduga dari setiap bidikan yang kita lakukan. Prabastari seolah papan scramble itu. Aku mengeluh pendek.
 
“Mengapa harus cerai?” Bisikku menghindari tatapan curiga Imay, sekretarisku, saat kami berdua makan di Gang-Gang Sulai. Terpaksa aku menyingkir ke teras restoran, biarpun Imay kuyakini tak bakal melotot atau judes. Lima tahun menjadi sekretarisku – dengan fasilitas ekstra – membuatnya seperti lubang kunci yang tak pernah mengeluh.
   
“Rumah tangga yang payah.”
“Perceraian juga tak menyenangkan.”
“Tak ada jalan lain.”
“Aku tak mau dibilang biangnya.”
“Menurutku Mas penyebabnya.”
“Apa yang kau lakukan setelah cerai?”
“Meminta Mas melamarku. Mas tak mungkin lupa apa yang sudah pernah kita bicarakan.”
Badai kecil runtuh di hatiku. Segera aku panik, tetapi secepat itu pula kuganti dengan suara cerah.
“Itu soal gampang. Namun coba dulu mempertahankan pernikahan.”
“Aku tak bisa berharap hidup dari gaji SPG dan bayaran suamiku yang cuma satpam.”
Nah!
“Kau tahu, aku sudah beristri.”
“Mas pun tahu, aku tak keberatan menjadi istri kedua.”
“Mengapa nekat?”
“Karena aku mencintai Mas.”
Hampir saja aku tersedak.
 
Kutunda desakan Prabastari dengan sejumlah alasan. Telah lebih empat aku mencincangnya wortel. Tetapi yang kuberikan sudah melampaui batas. Kubelikan adiknya yang SMA sepeda motor, kubuka rekening atas namanya. Kujejali tabungan itu dengan sepuluh juta.
    
Rasa bersalah kadang saling ingin mendahului dengan gejolak kelelakian. Membawa perempuan kepada situasi sangat pasrah bukankah sudah berlebihan? Bayangkan: “tak masalah menjadi istri kedua”. Mungkin kalau sudah empat istri kumiliki, Prabastari enteng saja bilang tak masalah menjadi istri kelima.
Sesekali ingin melihat bagaimana tampang suaminya. Pemuda lugu dengan muka tirus? Pria dua puluh lima tahun yang kolokan? Lelaki kekar yang berbahaya?
Mungkin baik baginya bercerai, setidaknya terbebas dari istri yang penuh tipu daya. Mungkin pula rugi baginya, terutama bila ia akhirnya tak mendapatkan lagi istri cantik dan membara macam Prabastari.
___

SELANG sepekan kemudian. Priarum mengajakku bergulingan di pantai. Kami lima hari di Yogya. Ia cuti bersamaan ketika aku ada pertemuan penting di luar kota. Perlahan ia menyusupkan retinanya ke rongga mataku saat buih-buih menjilati kaki-kaki kami. Aku mendekatkan bibir ke pipinya yang merona. Angin laut membuat rambutnya saling tindih.

“Sudah waktunya, Mas,” ujarnya sambil menyimak rombongan camar di langit.
“Tunggu beberapa minggu lagi, ya. Ada proyek besar di Surabaya yang harus kuselesaikan.”
“Ibu sudah berulang menanyakan.”
“Coba berikan kesan yang menyenangkan supaya mereka memahami situasi ini.”
“Akan kuusahakan. O iya, Mas, sebagian tabunganku kupakai mengangsur mobil. Ganti, dong.” Ia lantas menciumi bibirku bertubi-tubi. Berkecipak. Hati siapa tak berderak?
    
Dalam perjalanan pulang, pepohonan berkelebat. Lari menjauh dan kencang. Seperti itulah seharusnya Priarum. Tapi ia madu dalam botol besar. Butuh waktu lama menyereputnya, seloki demi seloki. Gadis-gadis pendahulunya rata-rata hanya bertahan – atau kupertahankan -- sebulan. Setelah rasa manis habis, kutinggal mereka di persimpangan jalan. Waktu bergerak menindasnya, lenyap tanpa bekas, sebagaimana nanti Prabastari dan Priarum juga hanya akan sibuk meneliti langit-langit kamarnya dengan rasa kehilangan yang membuat bantalnya basah.
    
Tetapi, di luar kebiasaan, keduanya bertahan hingga setahun. Kuteliti mengapa, sampai kusimpulkan aku mencintai mereka. Amat mencintai.       
___   

DINI hari telah basah. Di kaca jendela berkerumun embun. Lelehan air juga menggenang di beberapa bagian tubuhku, sejam lalu, berbaur dengan peluh di tubuh Prabastari.
    
Saat menuang anggur, kubayangkan dengkur halus Priarum di lantai lain hotel ini. Dua jam lalu, aku pamitan dengannya saat matanya meredup. Kubilang ada urusan penting di luar hotel. Ia mengangguk lelah, lalu menyusup dalam selimut. Lalu pulas dalam sekejap.
    
Berjingkat-jingkat kuketuk pintu Prabastari di ruang 303. Bidadari ini membukanya sejenak kemudian. Datanglah siluet yang kuangankan. Ia berdiri di tengah kusen, mengenakan baju tidur paling lembut yang pernah ada. Menggariskan lekuk tubuh kenyal dan terawat lewat kehadiran lampu temaram dari dalam ruang. Aku menghambur kesetanan.
 
Kini Prabastari pun lelap. Kusentuh punggungnya. Bukan membangunkan kelopak perempuannya, melainkan mengingatkan segera pulang. Tak baik menjelang subuh seorang perempuan terhuyung-huyung menyusuri kampung.
    
Tetapi geliatnya begitu menggoda. Kamar bersuhu 16 derajad mendorong tangannya menangkap lenganku, menyurukku kembali ke bawah selimut. Ia terkekeh kecil saat aku seperti anak kanguru yang menyelinap ke kantong induknya. Anak kanguru yang mudah liar oleh hanya gesekan bulu tangan.
   
“Sudah fajar.” Aku menepis jemarinya yang liar di bawah selimut.
“Besok libur.”
“Masih banyak waktu.”
“Aku ingin mengulang.”
“Jangan nakal.”
“Aku ingin membuat Mas senang.”
“Bandel.”
“Biar.”
“Akan kubilang suamimu.”
“Si tolol itu lebih senang menetek ibunya.”
    
“Mengapa tak menyuruhku menetekmu…”
Ia merenggutku kasar. Baru saja kami hendak bertaut, tiba-tiba handphone-ku menyalak. Bunyi ringtone yang datang hanya dari ponsel Farida, istriku. Segera tanganku menyambar.
    
“Kau di mana?” Seketika kukenal suara di ujung sana. Suara seorang pria berwibawa.
   
“Masih di Surabaya, Pak.” Aku menggigit bibir, menelan kebohongan.
    
“Segera pulang kalau bisa. Anak keduamu baru saja lahir,” ucap Sumitra, mertuaku yang menelepon itu, setengah memerintah.
   
“Baik, Pak,” ujarku terbata.
    
Aku bergegas melompat dari ranjang seperti belalang. Tergesa kurenggut celana dalam. Menarik celana panjang dan kemeja dari gantungan. Melangkah berdebum dan terburu. Laki-laki atau perempuan? Berapa kilo bobotnya? Sehat atau butuh perawatan? Ah, aku akan menjadi ayah untuk kedua, setelah Gilang kini tujuh belas tahun.
 
Dalam gegas, tengkorakku dipenuhi lengking tangis yang mengalun dari mulut mungil. Segenap pori-poriku bergetar ketika seolah di depan mata perawat bergegas mengelap cairan dan darah, memotong tali pusar, membawa orok ke baskom besar, dikenalkan untuk pertama pada air. Mereka membilas dan mengelap, menyalakan tungku darah dagingku.
    
Farida tergolek lemah di ranjang, namun seorang dokter membimbingnya tetap siuman. Dokter itu tersenyum teduh. Lalu menyuntik. Ia memuji kehebatan pasiennya melakukan persalinan di usia empat puluh dua.
    
“Bapak di mana?” Tanya dokter dengan senyum yang masih mengembang.
   
“Sedang dinas di Surabaya,” jawab Farida dengan suara lemah tetapi mengandung rasa bangga.
    
Aku terkesiap. Dari kaca kulihat mukaku sepucat mentega. Kalau saja mereka tahu jarak rumah sakit dengan hotel ini tak lebih tiga ratus meter …
 
Saat mematut-matut, aku terperanjat bukan kepalang. Dari cermin tiba-tiba kulihat seekor serigala. Menyeringai dengan taring menganga saat ia setengah berdiri di tengah ranjang. Mendengus. Menggeram. Moncongnya bergerak-gerak menjulurkan lidah dengan liur menetes. Kutoleh. Hanya Prabastari di atas pembaringan. Ia menatapku dengan mata menguncup setengah tidur.
 
Aku menghambur keluar. Ingin lekas terbang ke rumah bersalin sekaligus lari menjauh dari kawanan serigala yang bersiap memangsa tulang belulang pria lima puluh tujuh tahun macam diriku … (*)
 

Semarang dan perkembangan sastra anak muda terkini

Oleh: Ahmad Khairudin (Adin)

MENGUTIP Teeuw, karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya (1980:11). Artinya, karya sastra lahir dari konteks sejarah dan sosial budaya suatu bangsa. Karya sastra lahir juga dari dinamika yang ada di dalamnya sendiri (baca dunia literasi). Tanpa itu semua mustahil dunia sastra ada.

Perkembangan suatu arus kesusastraan dan pemikiran tentu tidak  bisa dilepaskan dari kondisi-kondisi baik infrastruktur maupun suprastruktur suatu negara. Dalam kondisi infrastruktur yan baik tentu akan lebih cepat menghasilkan produk yang baik. Sebaliknya dalam kondisi infrastruktur yang jelek akan menghasilkan hal-hal yang jelek pula atau sekurang-kurangnya percepatan untuk melakukan perubahan yang signifikan akan terhambat.

Mengacu pada konteks lokal, katakanlah Semarang, siapakah yang sebenarnya bertanggjawab terhadap penciptaan infastruktur yang baik ini? Apakah pemerintah selaku pemegang regulasi? Fakultas sastra? Penerbitan? Media massa? Mahasiswa sastra? Kantong-kantong budaya? Dunia penerbitan? Atau siapa?

Tentu tidak akan selesai kalau kita harus menuding satu-persatu siapa yang harus bertanggungjawab. Setidak-tidaknya jawaban paling pragmatis adalah kalau ada fakultas sastra yang masih buka itu artinya masih ada yang membutuhkan. Kalau ada komunitas-komunitas yang masih bertahan itu mungkin indikasi sastra masih perlu ada.

Membaca fenomena sastra di Semarang, harus diakui belakangan terjadi gerakan yang progresif, terutama setelah mewabahnya sosial media. Banyak nama muncul dari jagat maya dan diam-diam tulisannya bagus.
Mereka adalah generasi terkini yang muncul tanpa banyak campur tangan seniornya. Kini mereka tumbuh dan pelan-pelan membuktikan dirinya bahwa di kota yang sering dianggap kuburan seni ini mampu lahir dan bahkan eksis di jagat kesusasteraan. Sebut saja, Ganz Pecandu Kata, Arif Fitra kurniawan, Musyafak Timur Banua, Widyanuri Eko Putra, dan sebagainya.

Kemunculan mereka menjadi angin segar, apalagi banyak di antara nama-nama tersebut mempunyai komunitas. Itu artinya kecenderungan ‘hanya’ menjad penulis tidak menghinggapi generasi terkini. Saya masih percaya di tengah infrastruktur yang berbenah pelan-pelan ini, berserikat tetap lebih menarik daripada diam di kamar sendirian dan tidak peduli apapun selain kegilaan untuk dianggap penulis yang dahsyat.
Penulis adalah Direktur Hysteria – organisasi seni yang bergerak di bidang permberdayaan anak muda berbasis komunitas – beralamat di Jalan Stonen 29, Bendan Ngisor, Semarang atau http://adinhysteria.blogspot.com/

Facebook merusak kesusasteraan (?)

DIAKUI atau tidak, merebaknya penggunaan situs jejaring sosial Facebook di dunia internet membawa dampak perubahan yang berarti di segala lini peradaban. Tak terkecuali dunia kesusasteraan. Tentu saja ada risiko yang mengikuti di belakangnya, segala dampak positif maupun negatif tak pelak menguntit kemudian. 

Beberapa pihak menilai, untuk sastra, internet adalah tong sampah alias tempat membuang apa saja. Saut Situmorang juga mengatakan bahwa sastra internet hingga saat ini masih belum diakui keberadaannya. Barangkali benar. Pasalnya, setelah marak penggunaan media internet terutama Facebook, masyarakat, terutama penulis sastra, seperti dimanjakan. Bagaimana tidak, siapa saja bisa menulis apa, kapan, dan di mana saja tanpa terkekang ini itu. Tak peduli saya ini pemula atau pun kawakan. Persetan dengan sistematika, tempo, alur, plot, rima, nada, maupun diksi.

Asal penulis menganggap itu puisi, naskah kemudian diupload melalui Note Facebook dan di-tag ke puluhan teman, jadilah karya sastra. Jadilah puisi. Jadilah cerpen. Meski (kadang) tanpa memerhatikan kaidah sastra.

Berbeda dengan iklim sebelum era 2000-an, di mana saat media cetak masih mendominasi publikasi karya sastra. Saat itu, penulis sastra bersaing ketat agar karya sastranya bisa dimuat di madia cetak. Mereka harus lolos seleksi oleh redaktur media cetak terkait. Namun, setidaknya itu pula yang membentengi penulis sastra dalam menjaga kualitas dan kemurnian hasil karya sastranya.

Saat ini, diakui atau tidak. Sejak adanya Facebook, perkembangan kesusastraan di Indonesia ramai dan meriah. Hal ini diindikasikan dengan menjamurnya penulis baru di dunia maya, internet. Bahkan setiap detik kita bisa membaca karya sastra di beranda Facebook. Sebelum Facebook, dunia kepenulisan sastra pun telah diramaikan dengan memanfaatkan blog. Bagaimanapun itu perkembangan yang semestinya mendapat perhatian secara serius.

Beda Maya, Beda Nyata
Diskusi sastra bertema "Facebook Merusak Kesusastraan (?)" yang dihelat oleh Komunitas Sastra Teater Beta di halaman Laboratorium Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, baru-baru ini, adalah satu upaya membentengi terhadap kepenulisan sastra tersebut.     

"Dunia maya memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan dunia nyata. Para pemakainya, dalam konteks ini, mereka yang mengoptimalkan Blog, Forum Online, Facebook dan lain-lain sebagai media berkarya, adalah individu-individu yang ‘berani’ menyebarluaskan karya sastranya secara, serta merta, massal. Sebab, semisal di blog, tulisan itu bisa muncul di mesin pencari Google. Artinya, pencari dan pecinta sastra di dunia internet di Indonesia bahkan di seluruh dunia ada kemungkinan menemukan dan membaca karya sastra tersebut," papar Novi selaku Ketua Komunitas Sastra Teater Beta.

Lebih mengerucut, Novi mengatakan, setidaknya tag teman di Facebook saja mencapai 50 teman, itu dimungkinkan membaca karya sastra hasil tag. Belum lagi, berapa jumlah teman. Semisal jumlah teman ada 3000, berarti itu juga ada kemungkinan bisa melihat publikasi tersebut. Itu bisa berlangsung kapan saja dan di mana saja. "Itulah keunikan dan kekuatan media internet yang tidak dimiliki media cetak," tutur Novi.

Betapa penulis sastra saat ini telah sebebas itu. Padahal, kata dia, jelas kepenulisan itu belum teruji. "Saya kawatir, kondisi seperti saat ini justru merusak kesusasteraan di Indonesia. Kita tahu, Facebook tidak ada redaktur yang eksistensinya seperti benteng seperti di media cetak atau koran," lanjutnya.

Komentator Membahayakan
Atas tema diskusi malam itu "Facebook Merusak Kesusastraan (?)", sastrawan Semarang Timur Sinar Suprabana selaku narasumber dalam diskusi tersebut menjawab, "Saya jawab, tidak! Mengapa? Karena Facebook hanyalah media. Merusak atau tidak tergantung pemakainya," katanya tegas.

Menurutnya, sejak adanya media Facebook, para penulis mampu melebarkan jaringan melalui pertemanannya sesama sastrawan. Sehingga dari jaringan tersebut mampu menghasilkan karya sastra baik dalam bentuk puisi maupun cerpen. "Sebut saja Helga Worotidjan, Kwek Lina, Hudan Hidayat adalah tokoh Facebook yang serius menyikapi hasil karya sastra dari pertemanan di FB kemudian menjadi buku. Di Semarang ada Galih Pandu Aji," terangnya.

Ditegaskan Timur, Facebook tidak merusak. Namun ia mengakui indikasi menurunnya kualitas penulisan memang iya. Dalam hal ini, Timur sangat menyayangkan sikap para komentator di Facebook yang asal njeplak semaunya dan tidak sesuai kaidah sastra.

Menurutnya, komentator semacam itu sangat membahayakan dan merusak. "Semisal, baru beberapa menit puisi di-uploud kemudian komentator telah menulis ‘Mantaaab!’. Apanya yang mantab? Tiga menit memberi jempol, kapan dia (komentator-red) membaca kemudian menghayati puisi? Ini hal yang tidak masuk akal dan sangat melecehkan," ungkap pria berambut gondrong ini.

Bagaimanapun, mengelola Facebook secara cerdas akan memberi kontribusi luar biasa. Andai saja tanpa Facebook pun penulis sastra tetap menulis karyanya. "Puisi mau ditayangkan di mana saja bobotnya tetap sama. Diterbitkan di koran apa saja, termasuk Facebook, bobotnya sama," tandasnya.

Bahkan di bak truk sekalipun, sastra bisa hadir tanpa terduga. Semisal, "Istri memang satu, tapi kekasih di mana-mana,". "Menurut saya, tulisan simpel semacam itu sangat masuk akal dan menggunakan hati. Meski itu ditulis oleh seorang sopir," kata Timur dalam acara diskusi yang diikuti puluhan sastrawan muda di Semarang itu. abdul mughis/rif

Adin dan setitik perjuangan sastra Semarang

Sejak tergabung dengan organisasi Hysteria dan menjabat direktur pada 2007 hingga sekarang telah banyak dilakukan Adin. Untuk pertama kalinya Hysteria mempunyai forum rutin bernama “Ngobrol Sastra Rerasan Budaya” yang berlangsung hingga 21 kali pertemuan.

Hysteria yang pada mulanya ekslusif dan hanya untuk kalangan terbatas menjadi organisasi terbuka yang rajin menggelar diskusi. Sepulang dari lokakarya penulisan buku program oleh Yayasan Kelola di Jakarta 2007 awal, membuka mata Adin bahwa dia harus keluar dari Semarang untuk memuaskan dahaganya pada jaringan dan sosok pembimbing yang bisa menuntun langkahnya. Sejak saat itulah dia intens berhubungan dengan jaringan-jaringan yang ada di Yogjakarta, Jakarta, Bandung, Solo dan kota-kota lain.

Hsyteria juga tidak hanya berkutat di bidang penerbitan namun juga aktif menggelar event-event sastra. Gebrakan yang cukup menyolok mata pada 2008 dengan menggelar tiga acara besar sekaligus selama setahun: seminar sastra dengan pembicara S Prasetyo Utomo, Andrea Hirata, dan Arswendo Atmowiloto.

Kehadiran ketiga pembicara itu membuncahkan antusiasme anak-anak muda yang sedang keranjingan Laksar Pelangi. Ratusan orang hadir dalam acara itu. “Sastra Balik Desa” adalah tema yang dipilih karena bekerjasama langsung dengan masyarakat Gunungpati Semarang.

“Ratusan orang hadir dan puluhan sastrawan kenamaan hadir dari 21 kota. Salah satu isu yang diangkat pada saat itu adalah minimnya peran senior dalam medidik juniornya,” ujar Adin.

Sejauh yang Adin amati, Semarang minim mewariskan tradisi yang konstruktif. Generasi hari ini harus berguru pada dirinya sendiri dan berdialektika dengan pikiran-pikirannya sendiri karena para pendahulunya telah cukup umur dan merasa hal-hal semacam ini kuranglah penting.

“Maka jadilah generasi hari ini adalah generasi yatim piatu tanpa warisan sistem dan tradisi yang konstruktif. Tidak heran jika banyak yang tumbang karena disorientasi mau kemana lagi setelah ini. Toh senior mereka tidak banyak juga yang bertahan,” lanjutnya.

Menurutnya, perlu disayangkan jika orang-orang yang memiliki kepedulian seringkali tidak menjabat kekuasaan yang strategis. Untuk itu “Sastra Balik Desa” 2007 menjadi embrio awal bagi lingkaran jaringan yang dirintis Hysteria dalam konteks yang lebih luas, dan menurut rencana acara tersebut bakal dihelat lagi akhir tahun ini.

Masih pada tahun yang sama Hysteria juga mengadakan “Festival Kesenian Semarang: Konsoemsi Ataoe Mati!” Festival yang didanai organisasi dari Belanda ini barangkali festival yang dipaksaadakan mengingat Semarang pada saat itu belum mempunyai festival yang menggabungkan interdisipliner. Meskipun respons publik kurang menggairahkan barangkali bisa dikatakan adanya festival ini memantik festival serupa yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.

“Apapun respons publik kami mampu membuktikan diri sebagai sosok yang berkarakter dan punya sikap,” ungkap pemuda kelahiran Rembang ini begitu semangat.

Hysteria dan Konstelasi Kesenian Semarang
Berbekal prestasi itulah Adin pada 2009 mendapat kesempatan dan lulus seleksi Magang Nusantara Yayasan Kelola untuk menimba ilmu di Bandung. Selama 3 bulan di Commonroom, Bandung, pemuda kalem ini belajar banyak hal mengenai idealnya mengelola organisasi dan komunitas. Hasilnya adalah Hysteria yang sekarang telah mempunyai visi yang jelas bagaimana dia menempatkan diri pada konstelasi kehidupan kesenian baik di Semarang maupun dalam konteks lebih luas.

Di bawah pimpinan Adin hampir tiap bulan art space Hysteria yang bernama Grobak A(r)t Kos tidak pernah sepi dari kegiatan kesenian. Purna Cipta Nugraha sebagai pihak yang dipercaya mengelola art space sampai kewalahan mengatur jadwal dari proposal yang masuk.

Di bidang sastra sendiri Adin menggawangi terbentuknya Sastra Horeg. Bersama Agung Hima, Naka Andrian, Widyanuri, Gema Yudha dan lain-lain mereka menjadi gerakan teraktif yang menuntut adanya perbaikan sistem di bidang sastra dan menularkan kepedulian terutama pada generasi di bawahnya. 

Gerakan ini meski belum sempurna tapi cukup sistematis dalam mengorganisasi dan melibatkan berbagai elemen yang saling melengkapi. Mereka memang membatasi diri pada konteks Semarang supaya ada fokus dan berdasar keyakinan bahwa untuk menacapai hal-hal besar dimulai dengan langkah kecil yang intensif, laten, militant dan berkesinambungan.

“Kelak gerakan ini jika berhasil akan menjadi modal pertama di bidang gerakan sub kultur yang ada di kota lunpia ini,” katanya sambil tertawa.

Melawan Mitos “Semarang Kuburan Seni”

Sejak kedatangannya di kota Semarang, Adin merasa ada sesuatu yang tidak beres pada kota ini. Kehausannya akan pegetahuan di bidang ilmu-ilmu humaniora telah mengantarnya dari satu forum ke forum dan diskusi-diskusi intens dengan berbagai kawannya. Mitos Semarang sebagai kota seni membuatnya terus bertanya-tanya dan gelisah mengapa sedikti sekali komunitas, institusi, organisasi, forum intelektual yang bertahan di kota ini.

“Benarkah sejatinya Semarang memang ditakdirkan sebagai kota industri yang hanya mengakomodasi kepentingan pasar dan tidak merawat sisi-sisi idealisme warganya, terutama di bidang kesenian” katanya saat ditemui di markas Hysteria Jalan Stonen 29 Sampangan, Semarang.

Menurutnya, Semarang pada masanya pernah dianggap sebagai kota intelektual dan lebih lagi kota yang cukup dinamis dan progresiv dengan gerakan buruhnya. Dia ingat Semaoen membangus Syarikat Islam Merah di kota ini. Dia juga ingat kota ini menjadi salah satu kota yang dikonstruksi oleh Belanda secara terarah setelah Amangkurat II memberikannya sebagai konsesi atas bantuan menumpas Trunojoyo. Dia juga tahu bahwa kebudayaan adalah konstruksi untuk itu perubahan sangat mungkin terjadi. Dan mitos adalah upaya bawah sadar untuk mempengaruhi perilaku masyarakat yang hidup didalamnya. Melalui mitos yang menggerakkan inilah segala ilmu pengetahuan bisa dipecundangi sehingga keadaan hari ini adalah keadaan terberi dan tidak bisa berubah. Dan ia menolak.

“Keadaan ini bisa berubah mitos bisa direkonstruksi, termasuk Semarang sebagai kuburan seni,” lanjut Adin.

Tentu bukan hal yang mudah karena butuh strategi budaya yang jitu. Namun harus ada yang  memulai dan memantik supaya kelak keterputusan antar generasi ini tidak diwariskan turun temurun. Dialah Adin, direktur Hysteria dengan segala keyakinannya memutuskan untuk tinggal dan berproses di Semarang daripada mengikuti jejak para pendahulunya yang lebih realistis, pindah di kota dengan infrastruktur yang lebih siap.

Akhirnya Organisasi Hysteria yang beralamatkan Jalan Stonen 29 Sampangan ini memang yang menjadi senjata pertamanya untuk mewujudkan cita-citanya yang besar itu. Sebagai organisasi yang mendasarkan dirinya pada dukungan terhadap komunitas-komunitas yang kelak mandiri untuk saat ini selain melakukan program yang bermacam-macam juga mengadakan ekspermentasi sosial di bidang gerakan sastra. Kelak uji coba teori-teori social pada praksis gerakan sastra yang digelutinya. “Jika berhasil akan menjadi modal bagi sub kultur lain di Semarang yang selama ini berjalan sendiri-sendiri,” yakin pria yang punya tampilan sederhana ini.

Baginya organisasi yang bermukin di kota tentunya harus mempunyai imbas bagi wilayah yang ditempatinya. Sedangkan untuk membuat program yang tepat sasaran sebuah organisasi harus melakukan riset, analisis data dan ideologi untuk membuat gerakan tidak hanya bertumpu pada kepentingan finansial semata.

“Semarang bisa berubah, mulai dari diri sendiri, komunitas serta mengatur strategi demi jaringan yang lebih luas., tidak hanya local namun juga nasional bahkan internasional. Hal itu bisa dilihat dari rintisan yang dilakukan Hysteria yang beberapa kali kegiatan mereka berisikan orang-orang dari Jepang, Australia, Singapura, Italia, Spanyol, dan lain-lain,” terang Adin. (dwi nikmatika roma/rif)

Mendamba sosok pendekar kesenian sesungguhnya

TIDAK lama lagi Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) akan menggelar hajatan penting yang menentukan keberlangsungan hidup lembaga ini selama empat tahun ke depan.

Hajatan Musyawarah Daerah (Musda) ke-V DKJT, jika tidak lagi ada perubahan, rencananya diselenggarakan di Baturaden Purwokerto, 22-23 Oktober 2011. Sejumlah tokoh diisukan akan meramaikan bursa ketua pengganti Bambang Sadono. Siapakah yang pantas ?

Ketua DKJT Bambang Sadono memang sudah memastikan tidak akan mencalonkan dirinya lagi karena pertimbangan posisinya saat ini tengah sebagai dewan di DPRD Jateng. “Saya pikir, tidak etis kalau saya jadi ketua lagi, karena saya sekarang ada di Komisi E DPRD Jateng. Masa selaku pengontrol anggaran APBD yang dipakai operasional DKJT malah duduk sebagai ketua,” jelasnya, beberapa waktu lalu.

Sebagai penggantinya, belakangan muncul sejumlah nama yang senter dibicarakan akan maju dalam bursa Ketua DKJT periode 2011-2014. Sebut saja Rustono, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Unnes; Marco Manardi, Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase); Timur Sinar Suprabana, Triyanto Triwikromo, serta Ahmad Khoirudin, Direktur Hysteria (akrab disapa Adin).

Bahkan, di salah satu grup dalam jejaring sosial fesbuk, Adin digadang-gadang oleh para seniman muda sebagai sosok yang paling pantas memimpin DKJT karena dinilai sudah terbukti terampil di bidang pengorganisasian kesenian, manajemen seni, konseptor, dan melakukan berbagai kegiatan jejaring bersama kelompok-kelompok kesenian di Jateng.

Ambigu
Agung Hima, praktisi seni dan Koordinator Openmind Community mengungkapkan, harus diakui, lembaga dewan kesenian yang terbentuk sejak 3 Agustus 1993 ini sampai sekarang masih tertatih-tatih dan belum optimal dalam menggairahkan dan mengembangkan kesenian di Jateng. Penyebabnya pun kompleks. Dari persoalan tidak jelasnya kelembagaan sampai ketidakbecusan pengurusnya dalam memposisikan lembaga ini sebagai katalisator bagi kesenian Jateng.

“Sampai saat ini, praktek kerja kelembagaan ini ambigu. tidak punya hubungan fungsional yang jelas dengan dewan-dewan kesenian kota. DKJT berjalan sendiri, dewan kesenian kota juga berjalan sendiri. Jika tujuannya untuk mengembangkan kesenian Jateng, sepatutnya ada kerjasama bersama wong yang tahu persis kebutuhan-kebutuhan kesenian di daerah kan dewan kesenian kota setempat,” jelasnya, kemarin. (9/9).

Jika DKJT memang ingin bekerja sendiri, dilanjutkannya, paling tidak harus punya pengurus yang siap kerja harian secara aktif. “Sampai sekarang saja, saya yakin banyak yang tidak tahu di mana sebenarnya DKJT berkantor. Menyangkut surat-menyurat terkadang salah alamat ke Kantor Dekase,” bebernya.

Ia berharap dengan akan dilangsungkannya musda akan bisa melahirkan Ketua DKJT yang mampu merehab DKJT menjadi lembaga yang aktif memajukan kesenian Jateng. DKJT, menurutnya, harus dipimpin sosok yang memang tahu persis kerja dunia kesenian, mengerti manajemen kesenian. sokhibun Ni’am/rif

Cat kelana menetes ke putri bungsunya

Andang Kelana, atau intim disapa Kelana saja. Nama yang tak asing bagi penikmat maupun kurator lukisan, terutama Semarang. Pelukis beraliran naturalis-surealis ini berderak dalam dinamika seni rupa di Kota Lunpia, sebelum akhirnya ia menghadap Sang Khalik pada 7 Januari 2011.

Darah seni selalu berpusar di lingkup keluarga. Tak sedikit seniman menurunkan bakat ke anak-anaknya, termasuk Kelana. Dari sepuluh anaknya, Tinuk Kelana lah yang menerima kucuran bakat sang ayah.

Tinuk, perempuan kelahiran 28 Oktober 1970 ini sesungguhnya lebih liat bergumul dengan dunia pendidikan lantaran ia mengelola bimbingan belajar (bimbel) di Jakarta. Tetapi, lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIK, sekarang Stikom) Semarang itu intens melukis. Alirannya? Mirip ayahnya.

“Saya belajar dari Bapak tentang segala hal mengenai lukisan, tapi tidak mudah mencurahkan seluruh waktu untuk melukis. Butuh konsentrasi. Dan konsentrasi itu juga harus patuh oleh inspirasi. Inspirasi tanpa konsentrasi nggak ada artinya, begitu juga sebaliknya,” tutur istri Aryo Yunartono ini.

Kelana, di mata Tinuk, mencurahkan seluruh waktunya untuk melukis. Dari melukis pula Kelana menghidupi sepuluh anak. “Saya mengaguminya sebagai ayah, sahabat, sekaligus guru. Jarang orang setia dengan hanya satu dunia saja seperti Bapak,” ucapnya.

Sudah belasan lukisan ia bukukan dan figura. Sudah pula ada niat untuk membuat galeri (baik di Semarang maupun Jakarta). “Juga sudah ada beberapa kawan yang meminta saya pameran,” ungkapnya.

Namun, Tinuk belum menemukan waktu tepat untuk menjelmakan dirinya benar-benar menjadi pelukis. Apa sebabnya? “Ada sedikit kegamangan, benarkah saya ini pelukis. Jangan-jangan nanti ada tuduhan saya berlindung di balik kebesaran nama Bapak. Tapi, yakinlah suatu ketika saya akan go public,” tutur guru les privat sejumlah anak-anak penyanyi top macam Heidi Ibrahim (vokalis Power Slave), Gito Rolies, Cindy Claudia Harahap, dan sebagainya ini.

Melukis adalah sebuah pilihan bagi Tinuk. Ia tak sanggup membendung hasrat menggoreskan kuas ke kanvas. Dan ia amat hati-hati memperlakukan pilihannya itu, semata karena seni lukis begitu selektif memilih para ahlinya. Begitu banyak orang mengaku pelukis, namun mereka sering miskin apresiasi.

Dan Tinuk tak mau tanggung! arief

Alfianto: Teater, Jalan Cinta untuk Menyapa Sesama

Teater adalah sebuah pilihan. Tak semua orang sepakat bahwa teater adalah dunia “bukan gila”. Dan siapa Alfianto yang luruh dalam jagat teater ini?

MENCURAHKAN sebagian besar waktu untuk kesenian bagaimanapun juga bukanlah perkara gampang untuk dilakoni. Modal “suka” saja ternyata belum cukup. Seperti Alfianto, seniman teater yang di lingkungan masyarakat teater semarang akrab dipanggil “Alfi Kumis” ini sejak 1985 sampai sekarang tetap memilih giat, gigih, dan intens berproses karena dalam keyakinannya teater menjadi jalan cinta baginya untuk menyapa sesama.

Tidak dipungkirinya bahwa ia berteater memang awalnya karena rasa suka. Persisnya, ketika masih duduk di bangku kelas 2 SMP, 25 tahun silam, salah seorang guru mapel PSPB (Pelajaran Sejarah dan Perjuangan Bangsa) memberikan tugas sekolah berupa visualisasi peristiwa Rengas Dengklok dalam sebuah pertunjukan melodrama.

“Itu tugas kelompok. Dari situ, saya merasakan bahwa berperan dengan karakter orang lain ternyata asyik,” ceritanya, saat ditemui Harsem di sela kesibukannya sebagai Wakil Seksi Kebersihan PT Plaza Simpang Lima, kemarin (16/9).

Dari situ pula, selanjutnya ia mulai ingin belajar lebih jauh dan bisa memerankan lebih banyak tokoh dan karakter. Namun, karena di sekolahnya, SMP Masehi di Tanah Mas Semarang, saat itu tidak ada ekstrakurikuler drama/teater, maka ia memutuskan bergabung dengan teater kampung.

“Pada tahun-tahun itu, masih banyak teater kampung di Kota Semarang ini. Seperti Teater Bengkel, Lingkar, Aktor Studio, DOM, Cermin, Waktu, dan RAS. Dari masukan dan pertimbangan kakak kelima saya, kemudian saya putuskan bergabung pada Teater Lingkar,” beber pria kelahiran Semarang, 2 Oktober 1967, ini.

Sejak bergabung dengan Teater Lingkar, ia mulai belajar banyak hal tentang dasar-dasar bermain teater, utamanya soal tata artistik yang selama empat tahun pertama bergabung harus digelutinya ketika teater pimpinan Mas Ton ini pentas. “Saya baru mulai memperoleh bagian peran itu ketika ada penggarapan naskah Menunggu Tuyul karya Eko Tunas, 1989, itu saja sebagai pemain pembantu. Begitu pula pada penggarapan-penggarapan selanjutnya,” terangnya.

Kendati hanya mendapatkan peran kecil dan bahkan lebih banyak berada di balik panggung selama berteater bersama Teater Lingkar namun tidak lantas membuat dirinya bosan dan berhenti. Karena seperti telah dipahaminya, peran sekecil apapun seseorang tetap punya peranan penting dalam sebuah pementasan teater. Untuk itu, tetap harus dilakukan dengan baik.

“Bahkan, dari peran-peran kecil dan posisi di balik layar tersebut secara tidak langsung saya bisa mempelajari dan mendapatkan banyak hal tentang teater. Dan hal itu tentunya bagian dari sebuah proses yang harus ditelateni kalau kita memang berharap ada hasil atau pencapaian,” ujarnya

Lebih jauh, ia memahami, bahwa teater sendiri pada dasarnya tidak sebatas seni memainkan peran di atas panggung. Namun, menjadi ranah pembelajaran dirinya menuju pribadi dewasa. Dengan ilmu peran pada teater, ia mengaku, menjadi lebih mampu memahami karakter masing-masing orang di sekitarnya, dan menjadikannya mampu bersikap lebih baik saat bersoalisasi dan bersapa dengan sesama.

Selain masih aktif di Taeter Lingkar, sejak 2003 pria penyuka kopi pahit ini juga aktif berproses dengan berbagai pelaku teater dalam Komunitas Panggung Semarang (Kompas). Dari tangan dinginnya pula telah banyak karya-karya spektakuler yang berhasil dipentaskan hingga ke sejumlah kota di sekitar Semarang. (sokhibun ni’am/rif)


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Ragam - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger